Buat yang Suka Curhat di Media Sosial, Baca Dulu Deh Artikel Ini!

12 Februari 2017
|Margarita Putri
2 KSHARES

 Bagi yang aktif di media sosial, pasti sudah tidak asing lagi dengan salah satu aktivitas yang dicintai segelintir umat manusia — curhat. Nggak hanya anak muda, orang dewasa pun masih kenal dengan curhat. Kalau tadinya definisi ‘curhat’ itu terbatas hanya bercerita ke teman yang dianggap dekat, sekarang definisi tersebut sudah agak bergeser. Curhat seringkali dihubungkan dengan segala kegiatan bercerita, termasuk cerita di media sosial. Yup! Media sosial memang seringkali dijadikan ‘diary’ oleh para netizen. Dari yang marah-marah hanya dengan mengeluarkan kata-kata kasar, sampai curhat dengan beberapa seri, semuanya ada di dunia maya.

Dunia online yang tadinya fungsi menonjolnya adalah untuk menjalin komunikasi, malah jadi ajang mempertontonkan kehidupan pribadi. Ini nih, yang seringkali dilupakan oleh netizen. Batas antara bagian kehidupan yang perlu di-share dan yang tidak perlu di-share memang sangat tipis sekarang. Kemudahan mengakses media sosial bisa jadi salah satu penyebab timbulnya budaya curhat ini. Entah dengan tujuan apa, segelintir netizen yang hobi curhat ini rela membuka permasalahannya ke khalayak ramai yang bisa jadi tidak mengenalnya secara personal. Tentu, hal ini mungkin bisa dibantah dengan adanya akun sosial media yang digembok alias ‘protected’. Buat yang ‘protected’, hal ini mungkin tidak berlaku.

Sebenarnya nggak ada yang mengatakan curhat di dunia maya itu salah, tetapi 7 hal ini sepertinya harus kamu pertimbangkan biar curhatanmu nggak jadi bumerang buat dirimu sendiri.

1. Hati-hati kebablasan

Buat yang lagi emosi, curhat dan kebablasan seringkali terjadi. Masalahnya, tidak ada batasan yang jelas mana yang harus di-share dan mana yang tidak. Jangan-jangan bisa oversharing. Sah-sah saja menumpahkan isi hati, tetapi kalau semua orang jadi tahu masalahmu, siap?

2. Hati-hati jadi bahan gosip

Ini resiko curhat di media sosial yang kedua. Jadi bahan gosip. Ketika circle pertemananmu di media sosial berpotongan atau sama dengan pertemanan di dunia nyata. Ada besar kemungkinan curhatanmu jadi bahan omongan mereka. Jadi pilih mana?

3. Jangan-jangan ada yang kesindir

Namanya juga curhat di media sosial, semuanya belum jelas dan bukan nggak mungkin kalau ada yang merasa tersindir. Rugi sendiri kan kalau pertemananmu jadi putus hanya karena soal kesindir semata?

4. Dinilai caper?

Kalau ini sih jelas, curhat di media sosial baik itu dalam bentuk teks, foto, apalagi seniat video, pasti lengket dengan cap ‘caper’ atau ‘cari perhatian’.

5. Ih, kok buka-buka aib?

Mengumbar problem atau masalah di muka umum apalagi di ranah media sosial memang lekat dengan image ‘mengumbar aib’. Jadi hati-hati ya, guys!

6. Belum dewasa?

Banyak orang mengatakan orang yang suka curhat di media sosial belum dewasa. Bukan dewasa secara umur alias angka, tetapi lebih ke dewasa pemikiran, dewasa memikirkan efek ke belakangnya setelah curhatannya tersebar di media sosial.

7. Jadi baiknya curhat apa enggak?

Sebaiknya kamu pikirkan matang-matang. Ingat, kamu yang memegang kontrol sepenuhnya terhadap apa yang akan kamu post di media sosialmu.

Kalau dilihat-lihat, zaman sekarang curhat di media sosial pun sudah lebih niat dibandingkan zaman dulu ya? Kalau dulu curhatnya masih di blog, Facebook, atau Twitter, sekarang curhat di YouTube pun jadi salah satu tren yang lumayan menyedot perhatian. Kalau kamu, gimana?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Margarita Putri
Gak Punya Quote Nih!
2 KSHARES