Belajar Dari Foto Syahrini di Monumen Holocaust: Pentingnya Berwawasan Meski Sudah Punya Banyak Uang

27 Maret 2018
|Chandra W.
0SHARES

Apakah kamu termasuk salah seorang yang gemas melihat kelakuan Princess Syahrini berfoto di jalan tol dan yang terbaru, di Monumen Holocaust? Sebenarnya warganet dan pemirsa televisi sudah terbiasa dengan sensasi yang sering dimunculkannya, dari gaya yang cetar badai, tas mahal buat belanja di pasar sampai ucapan-ucapannya yang khas seperti ‘maju mundur cantik’ dan ‘sesuatu’.

Tapi yang terakhir yang bikin semua orang kesal, karena monumen yang menyimpan duka bagi enam juta keluarga korban genosida Nazi malah dijadikan latar belakang foto cantik. Memang nggak masalah berfoto di sana tapi kesalahan Syahrini adalah berfoto dengan naik ke atas balok dan juga mengeluarkan pernyataan bodoh "Bagus ya tempat Hitler bunuh-bunuhan dulu,". Beberapa warganet bahkan melemparkan komentar semacam, ‘pentingnya pendidikan ya biar nggak kayak gini nih’.

1. Sehari-hari kita sering mendengar kalimat, ‘cantik mah bebas’ atau ‘kaya mah bebas’

Seolah-olah ketika ada seseorang yang melakukan tindakan menyimpang dari norma sosial dan aturan kesopanan, akan diampuni dan dimaklumi asalkan cantik dan/atau kaya. Kalau dipikir lagi, kecantikan dan kekayaan apa benar-benar cukup untuk bertahan hidup dan seketika membebaskan seseorang untuk berbuat seenaknya tanpa mengindahkan norma dan kebiasaan yang berlaku di tempatnya berada?   

2. Nyatanya, nggak ada orang yang bisa bebas dari konsekuensi atas tindakannya

Terlepas dari kecantikan serta kekayaannya, ketika seseorang melakukan kesalahan ya tetap salah. Kecantikan dan kekayaaan malah justru semakin menambah ironi ketika seseorang melakukan hal yang nggak bisa diterima secara umum. ‘Cantik dan kaya, kelakuannya kok gitu?’, kecantikan dan kekayaan harus diimbangi dengan wawasan yang luas. Biar nggak sekadar cantik, tapi juga punya attitude yang baik.

3. Setidaknya kamu harus menguasai pengetahuan umum

Ingat buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) yang dulu jadi pegangan anak-anak 80-90an waktu SD? Yang sampulnya warna merah dengan tulisan warna kuning cerah? Nggak berarti kamu harus menghafalkan semua isinya sih, tapi di dunia ini kan manusia hidup berdampingan dengan sesama. Ada hal-hal yang sifatnya umum yang memang mestinya kita sadari sebagai manusia.

4. Berwawasan luas artinya nggak sebatas pintar, tapi tahu banyak hal dan bisa menempatkan diri

Pintar tapi nggak bisa menempatkan diri juga sama saja. Ada yang namanya common sense atau kesadaran umum. Urusannya sama norma kesopanan sih. Kayak misalnya di Indonesia kamu melayat pakai baju merah, artinya common sense-mu nol besar. Sama saja dengan berfoto dan mengatakan dengan entengnya "Bagus ya..Tempat Hitler bunuh-bunuhan dulu," Yakali....

5. Wawasan yang kamu miliki bisa menyelamatkanmu dari tindakan yang mempermalukan diri sendiri lho

Coba kalau kayak Syahrini kemarin, apa nggak malu? Dihujat warganet, dianggap nggak punya rasa kemanusiaan. Padahal udah bangga pamer foto berwisata ke luar negeri, ke Eropa. Apa yang perlu dibanggakan dari ketidaktahuan? Nggak ada, kecuali ketidaktahuanmu mendorongmu untuk belajar lebih banyak. Ketika kamu tahu banyak hal, kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari tindakan tanpa perhitungan yang pada gilirannya menjerumuskan diri sendiri.

6. Kekayaan juga nggak semestinya menumpulkan rasa empatimu terhadap orang lain

Sekaya apapun seseorang, dunia nggak berputar di sekelilingnya kok. Penderitaan orang lain, tanpa memandang status sosialnya, tetap bernama penderitaan. Orang berada nggak punya hak menyepelekan itu semua. Semakin kamu tahu banyak hal, semakin kamu akan sadar bahwa dunia ini luas, dunia ini bukan hanya tentangmu saja, ada banyak masalah di sekitarmu, dan empatimu semestinya bisa lebih terasah.

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi derajatnya. Semakin besar empatinya, semakin ia menjadi manusia. Kamu boleh saja kaya raya. Tapi, uang nyatanya nggak bisa membeli intelektualitas. Kaya boleh, sembarangan jangan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES