Belajar Bahagia Sederhana ala Farid Stevy, Sosok di Balik Logo KAI dan Filkop

19 September 2017
|Chandra W.
0SHARES

Pernahkah kamu berjalan-jalan melewati dinding-dinding penuh graffiti atau mural? Atau naik kereta api dan memerhatikan logonya sembari menunggu jemputan di stasiun kedatangan? Atau menonton Filosofi Kopi dan penasaran siapa sebenarnya cangkir berwajah serius dengan mata terpejam yang ikonik itu? Entahlah itu siapa. Namun kita bisa melihat sosok di balik itu, di balik logo Kereta Api Indonesia (KAI) dan ikon Filosofi Kopi. Ia adalah seorang laki-laki yang selalu menyebut dirinya ‘bukan siapa-siapa’. Farid Stevy, asli Gunungkidul, Yogyakarta.

Ia kuliah sampai lulus di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Membentuk sebuah band bernama Jenny semasa kuliah yang akhirnya berubah nama menjadi FSTVLST atau Festivalist, Farid Stevy di vokal. Citranya sebagai vokalis di band indie beraliran semi-rock membuatnya tampak sangar. Meski berbadan kurus, tak jarang ia mengenakan celana skinny hitam bergambar tulang kering yang membuatnya semakin kurus, dan sangar. Tapi jangan salah, di balik itu semua, Farid adalah sosok yang ramah dan rendah hati.

Seniman yang mengidolakan Andy Warhol ini ketika tidak sedang bekerja menghadapi deadline dari klien, adalah seorang bapak dari satu anak dan suami dari istri yang imut. Dua karyanya yang dekat dengan masyarakat Indonesia adalah logo Kereta Api Indonesia dan cangkir Filosofi Kopi. Karya lainnya tentu sangat banyak, dipamerkan dalam pameran-pameran tunggal maupun kolektif, dan dinikmati segelintir masyarakat penikmat seni terutama seni rupa.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah logo Kereta Api Indonesia. PT KAI mengadakan sayembara pada tahun 2011 untuk membuat logo KAI yang baru. Farid mengetahui info ini dari temannya. Ia lalu mengikuti sayembara tersebut dengan memodifikasi logo KAI sebelumnya menjadi lebih dinamis dan ada tanda panahnya, yang artinya harapan agar lebih maju. Dari sayembara tersebut, ia memenangkan uang tunai sebesar 200 juta rupiah.

Selain logo KAI, Farid Stevy juga adalah sosok di balik cangkir Filosofi Kopi. Hingga saat ini cangkir ikonik dalam film itu telah diadaptasi ke berbagai merchandise, seperti kaos, tas kanvas, dan bahkan cangkir itu sendiri.

Ada salah satu tulisan Farid Stevy di blognya faridstevy.blogspot.co.id yang menceritakan sebuah presentasi di acara Pecha Kucha. Acara ini mewajibkan presenternya membawakan 20 slide power point dengan maksimal waktu penjelasan 20 detik per slide. Dalam presentasinya, Farid menjelaskan betapa ketika kita kecil mudah sekali untuk menjadi bahagia. Beranjak remaja, kebutuhan bertambah banyak, bahagianya butuh lebih banyak usaha. Apalagi ketika sudah dewasa, bekerja, menikah dan punya anak. Kebutuhan yang dipikirkan bukan hanya kebutuhan sendiri. Untuk merasakan sedikit kebahagiaan rasanya sulit sekali.

Sampai ketika pada suatu pagi yang telah terbebani dengan tidak tidur semalaman, Farid bersama teman-temannya memutuskan untuk pergi sarapan. Keluar dari studionya di wilayah selatan Yogyakarta, mereka akhirnya memutuskan untuk sarapan soto di pinggir kota. Saat itulah, Farid merasa tertampar. Ini kebahagiaan yang selama ini ia lewatkan. Yogya pagi hari yang masih sepi dengan kabut tipis, anak-anak sekolah yang sudah mulai pakai seragam, orang-orang yang bersiap berangkat kerja. Bahagia itu sederhana, begitu kesimpulannya di pagi hari itu. Ternyata begitu banyak yang bisa disyukuri dari hal-hal kecil.

Ini daftar hal-hal bahagia itu sederhana versi Farid Stevy:

(1) Bercerita dan bercanda bersama teman. Bahagia bisa bercakap-cakap, mendengarkan cerita dan didengarkan ceritanya. Masih ada orang-orang yang mau berbagi.

(2) Kangen Bapak, Ibu, dan Adik. Bahagia soalnya masih ada yang dikangenin.

(3) Kopi dan rokok. Terlepas dari sehat atau tidak, ini membahagiakan untuk Farid.

(4) Bernafas. Ini yang jarang kita sadari. Harusnya sih bahagia lho, karena masih dikasih kesempatan untuk hidup.

(5) Ngupil. Hahaha. Siapa yang bahagia juga kalau lagi ngupil?

Maka dengarkanlah penggalan lirik dari lagu FSTVLST yang berjudul "Menantang Rasi Bintang" yang bunyinya begini:

"Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah. Segera mulailah syukurmu yang pasti indah. Berbahagialah, berbahagialah. Sudahilah sedihmu yang s'lalu saja...menantang."


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES