Alasan Kenapa Persekusi Berbahaya dan Kita Nggak Boleh Melakukannya

25 Januari 2018
|Chandra W.
48SHARES

Sepanjang tahun 2017 Indonesia menghadapi banyak sekali kasus persekusi. Kita mendengar kasus pasangan yang diarak karena diduga berbuat mesum, orang yang diancam karena memposting sesuatu yang diduga menghina ulama, dan terakhir bahkan reporter TopSkor bernama Zulfikar diberhentikan dari pekerjaannya karena dituduh menista ulama atau lebih tepatnya Ustadz Abdul Somad terkait larangan ceramahnya di Hongkong. Sebenarnya apa sih persekusi itu?

Menurut KBBI, persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Perhatikan bagian sewenang-wenang ya. Dan ini diburu lho. Jadi kalau misalnya ada maling, dikejar sama satu orang lalu tertangkap dan maling itu dihakimi sendiri, tindakan itu salah tapi bukan persekusi. Persekusi jauh lebih sistematis dari itu.

Dilansir dari TribunNews, persekusi berjalan dalam empat tahap. Pertama, menentukan target, mengajak orang, mendata target buruan dan memviralkan target. Kedua, memobilisasi dan membuat ajakan ‘berburu’. Ketiga, mobilisasi di lapangan dan memaksa target meminta maaf serta kembali memviralkan. Dan terakhir, melakukan pemidanaan target dengan membawanya ke polisi dan meminta penahanan target.

Saat ini sebenarnya persekusi bahkan sudah meluas ke media sosial. Tak perlu mobilisasi lapangan. Contohnya pada kasus Zulfikar yang diburu ramai-ramai oleh banyak akun untuk kemudian dimintakan sanksi sampai kehilangan mata pencaharian. Sebenarnya persekusi ini malah mencederai kebebasan berpendapat dalam kasus Zulfikar. Sedangkan dalam kasus arakan pasangan yang diduga mesum, bukankah itu artinya kita terlalu jauh masuk ke dalam urusan privat orang lain?

Masalahnya seringkali korban persekusi sebenarnya tidak melakukan hal-hal yang ‘diduga’ dilakukan oleh masyarakat yang melihatnya. Lalu sebelum hal itu terbukti, sudah banyak orang lain yang ikut menduga dan menghakimi (setidaknya dalam pikiran) lalu merasa wajib bertanggung jawab sebagai polisi moral untuk mengubah perilaku orang lain dengan cara memviralkan, memidanakan, memaksanya meminta maaf terkadang dengan cara mempermalukan. Bahkan jika benar-benar salah pun masyarakat biasa tidak boleh berlaku sewenang-wenang, apalagi memobilisasi orang lain untuk berlaku sewenang-wenang. 

Persekusi jauh lebih berbahaya dibandingkan hal yang ‘diduga’ dilakukan korban persekusi. Ayolah kita bisa kok mengurangi hal-hal ini terjadi dengan cara lebih membuka mata dan pikiran, memastikan benar atau tidaknya sesuatu dengan menanyakan langsung ke sumber, tidak mudah dipancing oleh rasa ingin ‘membenarkan’ dan ingin ikut campur urusan orang lain. Kalau kita melakukan itu, yakin deh tidak akan ada lagi orang yang sampai harus kehilangan pekerjaan hanya karena berpendapat di media sosial. Kamu boleh melaporkan tindakan yang diduga berbahaya ke pihak berwajib. Tidak perlu turun tangan sendiri lah. Biar apa sih? Biar viral?  


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
48SHARES