7 Hal Aneh Ini Cuma Bisa Ditemui di Kepala Daerah Indonesia!

28 Desember 2016
|Iswara Aji Pratama
Life
0SHARES

Politik di Indonesia selalu punya hal-hal konyol untuk dijadikan hiburan. Akan tetapi, untuk sebagian orang yang selalu serius dalam menanggapi sesuatu dan gak punya pendirian, biasanya malah terbawa emosi ketika mengetahui kabar dari dunia politik di negara ini. Terus kalau udah emosi sendiri, kira-kira apa yah dampaknya? Capek iya, darah tinggi iya, tapi mengubah keadaan gak? Enggak, haha. Oleh sebab itu, hidup di negara yang penuh dengan drama ini, kayaknya lebih baik sabar-sabar deh ketika membaca sesuatu hal. Jangan langsung disimpulin. Salah-salah bisa berabe. Kita harus melihat semua keanehan yang terjadi dari sudut pandang humor. Emang kenapa? Ya supaya gak emosilah. Gak mau hipertensi dan stroke kan? Makanya jangan ngomel-ngomel dan pusing kalau melihat dunia politik di sini. Nih YuKepo ajarin caranya supaya gak emosi ketika membaca informasi dari dunia politik di Indonesia. Dikutip dari http://www.mensobsession.com/ (13/11), ada 7 peristiwa politik yang khas dan cuma ada di Indonesia. Kabar-kabar politik tersebut dijamin gak bakal bikin kamu emosi, tapi malah bikin ketawa-ketiwi. Gak percaya? Ya udah ayok kita kepoin 7 kejadian aneh dalam dunia politik seputar kepala daerah di Indonesia!

1. Di kota Bima, Nusa Tenggara Barat, abang-adek jadi walikota dan wakil walikota

Qurais H. Abidin (Wali kota) dan A. Rahman H. Abdin (Wakil Wali kota) adalah kakak-beradik yang pernah memimpin Kota Bima periode 2010-2013. Sebelumnya tuh Quraish adalah Wakil Walikota, tapi karena Wali kotanya, HM Nur Latief, meninggal dunia, akhirnya Arahmad Abidin (adik kandung Quraish) mengisi kursi Wakil Walikota. Pada pemilu periode berikutnya, kedua saudara kandung ini kembali maju, dan terpilih kembali untuk periode 2013-2018. Hebat.    

2. Di Banten, keluarga besar jadi kepala daerah

Siapa sih yang gak kenal dengan dinasti yang satu ini? Hampir seluruh anggota keluarganya memiliki jabatan di tiap daerah di Provinsi Banten. Canggih nih, kayak zaman kerajaan. 

3. Serah terima jabatan kepala daerah dari suami ke istri

Untuk peristiwa seperti ini gak cuma sekali terjadi di Indonesia. Misalnya aja nih, serah terima jabatan Bupati Probolinggo tahun 2013, yakni Hasan Aminuddin, kepada Puput Tantriana yang tidak lain adalah istri Hasan. Selanjutnya, Walikota Cimahi periode 2012-2017, Atty Suharti Tochija menerima sertijab dari suaminya H.M Itoc Tochija. Terus, Bupati Bantul Idham Samawi melakukan serah terima jabatan kepada istrinya sebagai Bupati terpilih Sri Suryawidati. Di tahun 2010, Bupati Kediri Sutrisno kasih tongkat estafet kepemimpinannya pada istrinya yakni Haryanti Sutrisno sebagai Bupati terpilih periode 2010-2015. Sungguh pasutri yang berdedikasi tinggi.

4. Istri tua dan istri muda dari seorang mantan Bupati rebutan kursi Bupati periode berikutnya

Istri muda dan istri tua Bupati Sutrisno, Nurlaila dan Haryanti, maju pada Pilkada Kabupaten Kediri Mei 2010. Haryanti keluar sebagai pemenangnya. Kemudian serah terima jabatan dilakukan oleh suaminya yang menjabat sebagai Bupati, Sutrisno. Waduh, keluarga yang sangat kompetitif.

5. Anak Kepala Daerah jadi Kepala Daerah

Pada tahun 2013, Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya memberikan tongkat estafet kepemimpinannya kepada anaknya, Iti Jayabaya di tahun 2013. Peristiwa seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Lebak, tapi juga daerah-daerah lain, misalnya saja di daerah Sulawesi Utara dan Sumatera Barat. Benar kata pepatah, buah yang jatuh gak jauh dari pohonnya.    

6. Menantu dan mertua jadi Kepala Daerah

Bupati Bekasi, Neneng Hasana Yasin adalah menantu dari mantan Bupati Bekasi, Saleh Manaf. Selain itu pula, Bupati Bandung, Dadang Naser, merupakan menantu dari Bupati sebelumnya yakni Obar Sobarna. Wah perlu diacungi jempol nih. Walaupun dunia politik itu keras, mereka bisa membangun hubungan yang harmonis antara mertua dan menantu. 

7. Wakil Kepala Daerah menggantikan Kepala Daerah yang terjerat korupsi

Wah, untuk model ini paling banyak nih terjadi. Beberapa nama yang akhirnya duduk di kursi nomor satu yang ditinggalkan oleh pemiliknya karena tersangkut kasus, antara lain, Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah,  Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, Plt. Bupati Karawang Cellica Nurachdiana, Bupati Padang Lawas Ali Sutan Harahap, Plt Bupati Bogor Nurhayanti, Walikota Medan Dzulmi Eldin. Berikutnya, Bupati Seluma Bundra Jaya, Bupati Lampung Timur Erwin Arifin, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Bupati Tomohon Jimmy F. Eman, Bupati Boven Digul Yesaya Merasi, Plt. Bupati Maybrat Karel Murafer, Bupati OKU Kuryana Aziz, hingga Plt. Bupati Rembang Abdul Hafiz.       

Jika dilihat dari keseluruhan peristiwa di atas, bisa disimpulin kalau hubungan keluarga sangat erat di dunia politik Indonesia. Yah, semoga aja motif keluarga bukan menjadi alasan kenapa tongkat estafet kepemimpinan diwariskan turun-temurun. Soalnya kalau motifnya kayak gitu, Indonesia yang sekarang berarti gak ada bedanya dong sama zaman kerajaan zaman dulu. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Iswara Aji Pratama
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES