7 Budaya Jawa Ini Patut Dilestarikan. Artika Sari Devi Saja Ajarkan ke Anak-anaknya, Lho!

03 April 2018
|Chandra W.
0SHARES

Jika kamu orang Jawa, lahir dan tumbuh di salah satu pulau terpadat di Indonesia ini pasti membawa konsekuensi sampai besar. Bahkan ketika kelak merantau pun, saat mudik ke Jawa pasti kamu akan kembali diwajibkan menjadi seorang Jawa yang memegang teguh budayaannya. Setiap suku pasti memiliki budaya dengan ajaran yang menjunjung tinggi nilai moral, termasuk Suku Jawa.

1. Dalam bertamu, seseorang dihimbau mengetuk pintu tiga kali dengan pelan, lalu jeda, baru mengetuk lagi

Bukan menggedor ya, mengetuk. Dengan jari telunjuk ditekuk ke dalam lalu buku jari luar yang digunakan untuk mengetuk pintu. Tok, tok, tok. Tunggu sebentar, jika belum ada jawaban baru ketuk lagi dengan tempo dan irama yang sama. Tahukah kamu apa yang diajarkan di sini? Betul, kesabaran.

2. Duduk ketika dipersilakan, setelah orang yang lebih tua duduk terlebih dahulu

Sopan santun antara yang muda dengan yang lebih tua sangat ditekankan di Jawa. Oleh karena itu, ketika berada dalam satu ruangan dengan orang yang lebih tua, yang muda tidak boleh mendahului duduk kecuali sudah dipersilakan. Begitu juga dengan makan dan minum di meja makan. Meskipun sebenarnya aturan ini sudah banyak terkikis dengan gaya hidup kaum urban. Lalu, bagaimana kalau di rumahmu?

3. Kaki tidak boleh naik ke atas kursi apalagi menyilang

Ketika lebaran, berapa kali kamu ditegur oleh Pakde/Bulik karena tidak sengaja menaikkan kaki ke kursi atau menyilangkannya selagi duduk di ruang tamu? Cara duduk yang seperti itu dianggap kurang sopan. Lalu bagaimana semestinya? Kedua kaki di bawah mingkup (tertutup) terutama untuk perempuan, kalau untuk laki-laki boleh terbuka tapi juga tidak boleh terlalu lebar.

4. Ketika makan, jangan sampai alat makannya berdenting dan mulut tidak boleh mengecap

Sesungguhnya barangkali ini table manner atau tata krama meja makan secara umum, tapi ada lho daerah di dunia ini yang ketika makan mengecap artinya enak. Berbeda dengan di Jawa, makan harus selembut dan sehening mungkin. Bahkan mengobrol di meja makan pun tidak dianjurkan dulu. Benturan antara sendok garpu dengan piring juga diusahakan seminimal mungkin, jangan sampai berisik.

5. Jangan duduk di depan pintu, (katanya) jodohnya akan menjauh

Orang Indonesia, tidak hanya Jawa, suka mengait-ngaitkan banyak hal dengan pamali. Salah satunya ini. Padahal jika dipikir-pikir lagi, alasannya lebih ke kesopanan. Sebab jika kamu duduk di depan pintu, selain tidak enak dipandang juga menghalangi orang yang hendak masuk. Masalah jodoh menjauh atau mendekat sih tergantung usaha setiap orang juga.

6. Menundukkan kepala atau punggung ketika lewat di depan orang tua

Ini nih yang mulai langka. Ketika seseorang melewati orang tua yang sedang berdiri atau duduk, yang lebih muda semestinya agak menundukkan kepala dan punggung sambil menyapa. Sebenarnya lebih menyenangkan lagi jika ini diterapkan untuk yang seumuran (bagian menyapanya) di seluruh Indonesia. Bayangkan betapa serunya!

7. Berbicara dengan unggah-ungguh dalam bahasa Jawa

Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan: ngoko (untuk yang seumuran), krama (untuk yang seumuran tapi jabatan lebih tinggi dan yang sedikit lebih tua), dan krama inggil (untuk orang yang sangat dihormati atau sudah tua). Jadi berbicara pun harus sopan. Artika Sari Devi pun mengajarkan hal ini kepada anak-anaknya sesuai pesan eyangnya yang ingin semua keluarganya dapat berbicara bahasa Jawa meskipun hanya sedikit-sedikit.

Ternyata nilai budaya lokal banyak yang baik-baik ya. Yuk, kita lestarikan bersama-sama. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES