10 Wanita Indonesia yang Punya Pengaruh Kuat Dalam Bidang Teknologi

03 Desember 2017
|Chandra W.
0SHARES

Selama ini, bidang teknologi selalu identik dengan kaum laki-laki. Karena bidang kerja yang terkesan maskulin, perempuan pun dipandang sebelah mata jika ingin memasuki bidang kerja satu ini. Namun kini, anggapan tersebut dapat dihapuskan. Ke-10 wanita ini membuktikan bahwa bidang teknologi bukan milik pria saja, namun mereka juga dapat sukses besar di bidang ini

1. Alamanda Shantika, Founder dan CEO Binar Academy

Siapa sih yang nggak kenal sama sosok satu ini? Dikenal di Indonesia sebagai VP of Product Technology salah satu start-up fenomenal di Indonesia yaitu Go-Jek, kini Alamanda sudah resign. Tapi apakah karirnya berhenti sampai di situ saja? Tentu tidak. Lulusan Binus ini kemudian mendirikan Binar Academy, sebuah sekolah non-formal yang akan mengajari muridnya mahir untuk membuat aplikasi. Siapapun dengan background apapun boleh mendaftar. Misinya adalah untuk membangun dunia yang lebih baik dengan kolaborasi. Keren banget!

2. Vina Kasim, Country Leader Marketing IBM Indonesia

Beliau adalah salah satu bukti bahwa seseorang bisa bekerja dan sukses di karir yang nggak sepenuhnya linier dengan jurusan saat kuliah. Lulusan Ekonomi Universitas Trisakti ini justru lebih getol mengembangkan diri dalam bidang teknologi dan berkarir sejak lulus kuliah pada tahun 1995 di ranah teknologi.

Pengalamannya berkenalan dengan dunia teknologi pertama kali yaitu saat menjadi asisten dosen ilmu komputer. Dari sinilah Vina Kasim menyukai segala hal yang berkaitan dengan teknologi informasi dan terus menerus bekerja di bidang ini sampai menjadi Country Leader Marketing IBM Indonesia. Ia ingin membuktikan bahwa karir wanita di teknologi informasi tidak berhenti di bagian back office saja. Perempuan juga bisa memimpin di depan. Salute, Ibu Vina!

3. Monica Carolina, CEO Nixiagamer.com

Kata siapa dunia gaming hanya milik pria? Wanita cantik bernama Monica Carolina ini berhasil membantah stereotip bahwa game hanya bisa ditaklukkan oleh kaum Adam. Kecintaannya pada dunia game sejak kecil membawanya menjadi pemenang kompetisi game Guitar Hero pada 2009.

Sejak saat itu ia pun terus memenangi kompetisi game berskala nasional dan internasional. Ia lalu mendirikan NXA atau Nixia Gaming pada tahun 2011. Tujuan didirikannya NXA Gaming adalah untuk memfasilitasi wanita-wanita yang punya gaming skill tapi terkendala sarana atau uang. Di NXA mereka akan dilatih untuk mengikuti turnamen. 

4. Sri Widowati, Kepala Kantor Perwakilan Facebook Indonesia

Mengawali karir di dunia bisnis kecantikan hingga mencapai posisi strategis sebagai Regional Category Director Unilever Skin Asia dilanjutkan dengan Head of Garnier International Marketing an Development ASEAN lalu Vice President of Garnier South Asia di Singapura, wanita yang akrab disapa Wido ini didaulat sebagai Country Head Facebook Indonesia.

Menurutnya, industri teknologi yang terus berkembang membuatnya merasa lebih luwes dan dapat memaksimalkan potensi terutama dari pengguna Facebook di Indonesia. Ia ingin memaksimalkan kepuasan pengguna Facebook dengan menghubungkan lebih banyak bisnis ke konsumennya sehingga menguntungkan bagi kedua belah pihak.

5. Catherine Hindra Sutjahyo, Co-Founder Zalora dan CEO Alfacart

Wanita berusia 34 tahun ini tertarik pada dunia e-commerce karena menurut ia, perbedaan harga barang di satu pulau dan pulau lain dapat disamaratakan jika seseorang berbelanja online. Berbekal pengalaman sebagai konsultan di McKinsey, ia lalu berkarir di perusahaan IT di India dan start-up di Amerika Serikat. Kemudian ia juga menjadi orang nomor satu di Zalora.

Dari situ ia kemudian mengembangkan Alfaonline yang kini berubah nama menjadi Alfacart. Dalam asuhannya, jumlah karyawan Alfacart yang awalnya kurang dari 10 orang kini telah mencapai ratusan orang. Alfacart tidak hanya menjual produk-produk seperti yang dijual gerai Alfamart melainkan menjadi Marketplace bagi UMKM lokal.

6. Dian Siswarini, CEO PT XL Axiata

Bagi Dian Siswarini, dunia telekomunikasi sangat menyenangkan karena terus berkembang dan sangat dinamis. Wanita yang menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung dan S2 di Harvard Advance Management ini telah berkarir di dunia telekomunikasi sejak 1994. Pekerjaan yang awalnya banyak menyita waktu di lapangan tidak membuatnya gentar.

Sebagai lulusan di bidang engineering, ia mengaku lebih banyak bertemu dengan pria, dulu saat baru lulus sarjana. Ia bahkan pernah sampai harus memanjat menara BTS. Tahun 1996 ia mulai bekerja di PT Excelkom (sekarang XL) dan posisinya terus menanjak dari Manager Network Design and Engineering sampai Vice President Network pada tahun 2005. Puncaknya setelah ia menamatkan pendidikan di Harvard, ia didapuk menjadi pimpinan XL Axiata pada tahun 2014.

7. Diajeng Lestari, CEO HijUp

Alumni FISIP UI ini merupakan salah satu wanita muda sukses di bidang start-up teknologi Indonesia. Pernah bekerja sebagai marketing researcher, ia memutuskan resign dan membangun e-commerce fashion wanita muslim.

Pemilihan nama HijUp dimaksudkan agar wanita yang berhijab selalu merasa 'up' dalam artian percaya diri. Hingga kini sudah lebih dari 120 brand lokal yang tergabung di HijUp.

8. Shinta Danuwardoyo, pendiri bubu.com

Shinta Dhanuwardoyo adalah salah satu pionir wanita yang berkecimpung di dunia start-up berbasis teknologi di Indonesia. Ia mendirikan bubu.com pada tahun 1996, perusahaan yang menggabungkan teknologi, kreatifitas, dan marketing untuk web developing company. Shinta juga masuk dalam daftar 99 Most Powerful Women di Globe Asia sejak 2010 sampai sekarang. Menurut Shinta, dunia teknologi yang biasanya didominasi laki-laki ternyata tidak menjadi masalah. Asalkan punya kemauan dan kemampuan, siapapun boleh terjun di dunia teknologi.

9. Betti Alisjahbana, mantan Country Manager IBM Indonesia, Founder Quantum Bussiness International, Komisaris Garuda Indonesia

Lulusan Arsitektur ITB ini benar-benar meniti karir di IBM dari posisi General Manager sampai menjadi Presiden Direktur. Namun ia memilih keluar pada tahun 2008 dan membangun perusahaan sendiri yaitu Quantum Business yang memiliki beberapa perusahaan turunan di antaranya QB Leadership Center, QB Architect dan QB IT Services. Menurut Betti, justru perempuan harus lebih banyak turun ke dalam bisnis berbasis teknologi dan menunjukkan ke khalayak bahwa teknologi sesungguhnya adalah dunia yang ramah dan menyenangkan bahkan bagi wanita sekalipun.

10. Dhyta Caturani, aktivis gender dan teknologi

Sejak kecil selalu mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya, Dhyta tumbuh menjadi aktivis perempuan sejak SMA. Ia lalu melanjutkan kuliahnya di Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan terus mengawal isu-isu pelanggaran HAM dan feminisme, termasuk Kendeng Melawan.

Sejak tahun 2015 ia tergabung dalam Feminist Principles of The Internet yang membicarakan soal relasi kuasa di dunia teknologi dan media sosial. Menurut Dhyta, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyebarkan gagasan yang dapat memajukan wanita.

Itu dia sepuluh perempuan yang berpengaruh di bidang teknologi dari Indonesia. Terbantahkan sudah ya mitos bahwa pria menguasai industri teknologi informasi. Wanita juga bisa kok asalkan punya kemauan dan kemampuan. Dari sepuluh wanita tadi, mana favoritmu?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES