Seniman Ini Menyulap Kastil Terbengkalai Menjadi Karya Seni Raksasa yang Menakjubkan

05 Agustus 2017
|Idham Nur Indrajaya
3.5 KSHARES

Seorang seniman asal Spanyol bernama Okuda San Miguel, menunjukkan kebolehannya dalam dalam bidang mural dengan menyulap sebuah kastil terbengkalai menjadi medianya untuk berkarya. Kastil yang sudah ditelantarkan sejak abad ke-19 itu, terletak di daerah The Loire Valley yang berada di Perancis.

Di daerah tempat kastil itu berada, terdapat bangunan-bangunan arsitektur masa lampau yang dipertahankan sebagai situs sejarah. Untuk lebih membuat nuansa kontemporer kepada bangunan bersejarah di daerah itu, organisasi Urban Art Paris pun menjadikannya sebagai lokasi untuk acara Label Valette Festival, yang merupakan acara untuk merayakan seni jalanan yang banyak diminati oleh para muda-mudi di kota Paris.

Sebagai bagian dari acara festival tersebut, San Miguel pun diundang untuk membuat mural di seluruh tembok kastil La Valette yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun. Lantas, San Miguel yang tertarik dengan tawaran itu pun langsung datang ke lokasi dan merasa terpukau dengan keindahan kastil yang akan menjadi media karyanya. Dia pun menamai karya raksasanya itu dengan judul “Skull in the Mirror”.

“Sebelum saya mendesain sketsa untuk mural ini, saya mengunjungi kastil itu terlebih dahulu, baru setelahnya saya memutuskan komposisi seperti apa yang akan cocok menjadi penghias dinding-dinding di sana. Ketika saya melihat kastil itu, saya langsung jatuh cinta dengan arsitekturnya, dan saya langsung membayangkan gambar tengkorak di jendelanya,” ujar Okuda San Miguel. Gambar tengkorak yang dibayangkan oleh San Miguel ditorehkannya dengan kombinasi warna-warna cerah yang dapat dilihat pada bagian depan kastil.

San Miguel adalah seniman yang mendapatkan tugas untuk menghias eksterior kastil. Untuk bagian interior serta wilayah lainnya, festival ini akan mengundang ratusan seniman lainnya yang berkecimpung dalam street art untuk meramaikan festival yang menjadi acara tahunan ini. Lokasi yang menjadi medium untuk festival ini adalah wilayah seluas 40 hektar, termasuk sebuah kapel dan tiga bangunan asrama di kompleks The Loire Valley. Nampaknya, situs-situs sejarah di daerah tersebut akan dikombinasikan dengan nuansa kontemporer agar gagasan yang tersirat di sana menjadi lebih kontekstual dengan zaman sekarang.

Kalau misalnya festival mural semacam ini diadakan di Indonesia, dengan menjadikan bangunan-bangunan bersejarah sebagai medianya, bisa nggak ya?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Idham Nur Indrajaya
Gak Punya Quote Nih!
3.5 KSHARES