Wow, Tradisi Lompat Batu di Nias Ini Bahaya tapi Menakjubkan. Berani Nyoba?

02 Januari 2018
|Median
0SHARES

Berbicara mengenai tradisi Lompat Batu dari Pulau Nias, kamu mungkin sekilas sudah mengetahui gambaran mengenai tradisi satu ini. Selain pasti sudah terbayang melalui namanya, gambaran tradisi Lompat Batu ini muncul dalam uang pecahan Rp1000,00 keluaran Bank Indonesia tahun 1992. Kamu sendiri termasuk generasi yang sudah eksis di masa peredaran uang tersebut nggak nih? Kalau iya, ya seperti itulah sekilas gambarannya. Lebih jelasnya lagi mengenai tradisi unik satu ini, kita ulik bareng-bareng yuk.

Dalam bahasa Nias, Lompat Batu disebut Fahombo atau Hombo Batu, yaitu tradisi sekaligus olahraga tradisional melompati susunan batu setinggi kurang lebih 2 m dengan lebar sekitar 40 cm yang biasa dilakukan oleh para laki-laki yang beranjak dewasa untuk membuktikan bahwa mereka sudah dewasa dan matang secara fisik. Tradisi yang menjadi ikon utama Pulau Nias ini tidak ada di semua wilayah, lho, tetapi hanya di wilayah-wilayah tertentu, Desa Bawomataluo salah satunya. Desa yang terletak di Kecamatan Fanayama, Telukdalam, Nias Selatan, Sumatra Utara, tersebut merupakan desa yang paling terkenal dengan tradisi Lompat Batu-nya. Bahkan, pada bulan Juli 2017, Desa yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘bukit matahari’ tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh Kemendikbud. Ikut bangga dong ya.

Balik lagi ke tradisi Lompat Batu. Menurut sejarah, di Pulau Nias, dulu sering terjadi perang antarsuku dan antardesa untuk memperebutkan wilayah atau pengaruh kekuasaan. Agar dapat berperang dengan baik, para pemuda dilatih untuk menguasai berbagai strategi perang, termasuk strategi melompati benteng-benteng musuh yang tinggi. Untuk itu, para pemuda berlatih dengan cara melompati batu-batu yang disusun cukup tinggi, sekitar 2 m. Apabila berhasil tanpa menyentuh batu sedikit pun, mereka bisa ikut perang. Setelah tidak ada lagi perang antarsuku dan antardesa, tradisi Lompat Batu masih terus bertahan dan dilestarikan secara turun-temurun.

Tidak semua pemuda di sana bisa melakukan tradisi Lompat Batu. Untuk bisa melakukannya dengan sempurna, mereka harus berlatih sejak usia 7 tahun. Itu pun tidak selalu menjamin ke depannya mereka pasti menjadi pelompat yang dapat melompat dan mendarat dengan sempurna. Menurut kepercayaan masyarakatnya, hal tersebut dipengaruhi juga oleh faktor genetik. Apabila kakek atau ayahnya dulunya merupakan seorang pelompat, salah satu anak laki-laki keturunannya konon pasti akan ada yang menjadi pelompat tanpa harus banyak latihan. Oleh karena belajar menjadi pelompat adalah hal yang berbahaya, bahkan ada juga yang sampai cedera otot atau tulang, pelompat handal akan memperoleh prestise sendiri dan biasanya juga dipilih menjadi pemimpin kampungnya jika terjadi konflik antarkampung atau antardesa.

Di masa sekarang, tradisi Lompat Batu menjadi daya tarik luar biasa bagi pariwisata di Pulau Nias. Tradisi Lompat Batu merupakan atraksi menakjubkan yang bahkan sudah terkenal sampai mancanegara. Selain Lompat Batu, wisatawan biasanya juga akan disuguhi pertunjukan tari fataele atau tari perang. Tuh, keren banget kan berbagai tradisi di Indonesia. Makin bangga nggak kamu jadi rakyat Indonesia?

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Median
"Nata polah."
0SHARES