Wow, Ini 7 Bukti Kalau Musik Gamelan Sudah Mendunia. Bahkan Sampai Luar Angkasa!

24 November 2017
|Meidiana
0SHARES

Apa coba yang terlintas di pikiran kamu ketika pertama denger kata gamelan? Oke, mungkin ada yang bilang klasik, Nusantara punya banget, atau malah ada juga yang bilang musik yang bikin ngantuk. Eits, dengerin musik gamelan mungkin memang bikin ngantuk, tapi kalau kita bisa meresapi alunannya, sebenernya itu indah dan enak banget kok buat didengerin. Yakin deh nggak kalah enak dari dengerin musik pop. Sayangnya, stereotip-stereotip tentang musik gamelan yang banyakan nggak enaknya mau nggak mau jadi bikin banyak anak muda Indonesia nggak terlalu menaruh minat untuk mempelajari instrumen asli Indonesia yang satu ini, bahkan mendengarkan saja ogah. Wah, padahal musik gamelan ini di luar negeri sangat populer dan diapresiasi banyak orang, lho. Sekarang, cek, yuk, bagaimana mendunianya musik gamelan tercinta kita!

1. Aktif dimainkan dan dipelajari di Amerika Serikat

Persebaran kelompok pemain gamelan di AS ternyata nggak main-main. Dari 50 negara bagian di sana, kelompok pemain gamelan tersebar di 45 negara bagian. Sekitar 400 komunitas gamelan yang tersebar di AS kebanyakan berbasis di perguruan tinggi dengan 127 komunitas di antaranya aktif berlatih dan berpentas. Wah! Kalah nih kita kayanya. 

 

2. Media terapi narapidana di Inggris

Di Indonesia, pemanfaatan gamelan sebagai terapi narapidana, misalnya, terdapat di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan, Denpasar, Bali. Selain itu, gamelan juga digunakan sebagai media terapi narapidana di luar negeri, lho, Inggris salah satunya. Para narapidana di Inggris yang mendapatkan bantuan terapi dengan belajar dan bermain gamelan ternyata 75% peserta mengatakan bahwa mereka terbantu untuk meningkatkan kepercayaan diri. Menurut Dr. Helen Loth dari Anglia Ruskin University, Cambridge, orang di Inggris biasanya tertarik untuk mengeksplorasi alat musik gamelan karena menurut mereka, gamelan adalah instrumen yang unik, suaranya juga unik, dan dimainkan dengan cara apa pun akan tetap menghasilkan suara yang indah. Bener, setuju banget tuh.

 

3. Media terapi kejiwaan di Meksiko

Pusat rehabilitasi psikologi terbesar di Meksiko, Instituto Nacional de Psiquiatria Ramon de la Fuente, nggak kalah ketinggalan juga untuk melakukan lokakarya mengenai pemanfaatan gamelan sebagai media terapi pada tahun 2012. Kerennya, sebuah lokakarya ditutup dengan pagelaran gamelan oleh para penderita skizofrenia.

4. Menjadi kurikulum di Selandia Baru

Sebuah sekolah musik di sana, yaitu New Zealand School of Music (NZSM) bahkan menjadikan gamelan sebagai bagian kurikulum. Hal tersebut berawal dari kesepakatan antara KBRI dan NZSM pada tahun 1975. Selain harus bisa memainkan tiga gending gamelan dengan teknik yang baik, para mahasiswa juga harus mendalami sejarah dan perkembangan gamelan. Saking favoritnya, banyak mahasiswa NZSM yang ingin mempelajari gamelan, lho.

5. Festival Gamelan Dunia pertama diselenggarakan di Kanada

Festival Gamelan Dunia pertama justru bukan diselenggarakan di Indonesia, melainkan di Kanada, pada tahun 1986. Dalam pagelaran itu, ratusan kelompok studi gamelan dan ansambel dari berbagai negara ikut serta. Makin ke sini, makin banyak juga orang luar negeri yang bahkan sampai datang ke Indonesia untuk mempelajari gamelan.

6. Pernah digunakan sebagai ilustrasi musik di sekuel kedua The Hobbit

Tau dong ya film sekuel kedua The Hobbit, The Hobbit: the Desolation of Smaug. Tapi tau nggak, ternyata salah satu bagian adegan film yang rilis tahun 2013 tersebut turut menggunakan bunyi-bunyian gamelan sebagai musik ilustrasinya, lho. Bunyi-bunyian gamelan yang dimasukkan dalam film adalah bunyi gamelan yang dimainkan oleh Padhang Moncar, kelompok musik gamelan yang ada di Wellington, Selandia Baru. Nah, bunyi-bunyian gamelan tersebut menghasilkan efek bunyi gemerincing koin emas dalam adegan Bilbo Baggins (diperankan Martin Freeman) ketika berjalan di atas harta karun yang terletak di perut Lonely Mountain. Pasti kamu nggak nyangka juga kan?

 

7. Pernah diterbangkan ke luar angkasa

Pada tahun 1977, NASA meluncurkan satelit Voyager ke luar angkasa yang berfungsi sebagai pembawa pesan kepada peradaban ekstraterestrial. Voyager tersebut membawa musik terbaik, foto-foto, dan suara-suara kehidupan di bumi, baik alami maupun artifisial. Nah, salah satu musik terbaik yang dibawa Voyager adalah rekaman musik gamelan dari Jawa, yang digagas oleh Robert E. Brown, seorang etnomusikolog dari Amerika. Musik gamelan yang direkam tersebut berjudul “Puspawarna”, yang liriknya dibuat oleh Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (1853—1881) dari Surakarta dan dimainkan oleh Tjokrowasita (K.P.H. Notoprojo), seorang maestro gamelan pada masanya. Keren!

Tuh kan, di luar negeri saja, musik gamelan populer, lho. Di negara kita sendiri, kepopuleran musik gamelan malah tidak begitu menggema. Apresiasi banget deh buat anak-anak muda Indonesia yang terus mengibarkan musik gamelan, baik di negeri sendiri maupun di luar negeri. Kita juga harus ikut mengapresiasi dan terus melestarikan, ya. Kalau tidak sempat mempelajari, ya minimal tau sedikit-sedikit dan suka mendengarkan musik gamelan.

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Meidiana
"Bahagia bersama senandika."
0SHARES