Viral Bocah SMP Minta Nikah, 5 Fakta Pernikahan Dini di Indonesia Ini Bikin Cemas!

25 April 2018
|Ojik
0SHARES

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia digemparkan dengan kasus pengajuan pernikahan anak di bawah umur yang terjadi di Sulawesi Selatan. Sepasang anak yang nyatanya masih duduk di bangku SMP dengan usia laki-laki yang baru berumur 15 tahun, dan perempuan yang masih berumur 14 tahun nekat mendaftarkan rencana pernikahan mereka kepada KUA kecamatan Kabupaten Bantaeng. Mereka lalu mengikuti Bimbingan Perkawinan di KUA Bantaeng pada hari Kamis 12 April 2018. Sebetulnya pihak KUA setempat sudah menolak pernikahan tersebut dengan mengeluarkan blanko N9 (penolakan pecatatan). Hal ini dilakukan karena usia kedua anak ini masih belum memenuhi syarat.

Tak patah semangat, kedua bocah ini justru mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama agar permohonan pernikahan mereka dapat dikabulkan. Permohonan ini sendiri akhirnya dikabulkan. Menariknya, pernikahan kedua bocah ini sendiri sebetulnya bukanlah karena alasan-alasan seperti hamil diluar nikah maupun perjodohan. Pernikahan ini terjadi karena salah satu mempelai, yaitu mempelai wanita, takut tidur sendirian. Itulah yang memperkuat alasan mereka berdua untuk menikah.

Sebenarnya bagaimana sih fenomena pernikahan dini di Indonesia? Nah sebelum kamu berkomentar lebih jauh, berikut fakta-fakta mengenai pernikahan dini yang berhasil Yukepo rangkum.

1. Batas Usia Pernikahan

Pernikahan di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Salah satu poin dalam undang-undang ini menyebutkan bahwa batas usia pernikahan adalah minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. Namun sebenarnya undang-undang ini agak bertabrakan dengan kampanye dari badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yang mengkampanyekan jika usia siap menikah untuk perempuan adalah 21 tahun, dan 25 tahun untuk laki-laki.

2. Angka pernikahan dini di Indonesia cukup tinggi

UNICEF tahun 2014 menyatakan bahwa 25% anak di Indonesia melakukan pernikahan dini, di bawah umur 18 tahun. Mayoritas dari anak yang melakukan pernikahan dini adalah perempuan, dengan perbandingan satu dari tiap enam anak perempuan di Indonesia. Jika dijumlah, maka 340.000 anak perempuan di Indonesia per tahunnya menikah sebelum berumur 18 tahun. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke 37 dunia dan peringkat ke 2 di ASEAN dalam daftar negara dengan prevalensi pernikahan usia dini yang tinggi.

3. Bahaya pernikahan dini

Sebenarnya kenapa isu pernikahan dini menjadi isu yang sangat penting untuk diperhatikan? Karena pernikahan dini sangat rentan untuk berujung pada kekerasan dalam rumah tangga, dengan perempuan sebagai korbannya. Kemudian pernikahan bawah umur tanpa kesiapan mental yang baik tentunya akan kerap berakhir pada perceraian. Selain itu ketika pernikahan dini terjadi, organ reproduksi perempuan sering kali belum siap, sehingga dapat menyebabkan kesakitan, trauma seks berkelanjutan, pendarahan, keguguran, bahkan kematian saat melahirkan.

4. Faktor penyebab pernikahan dini

Di Indonesia ada banyak faktor yang menyebabkan pernikahan dini terjadi. Seperti faktor tradisi yang berlangsung dari generasi ke generasi. Ada pula yang melakukan perjodohan dengan maksud mendapatkan menantu yang kaya atau berstatus sosial tinggi. Menghindari fitnah juga terkadang dijadikan alasan. Banyak kasus yang juga terjadi karena pergaulan yang terlewat bebas sehingga terjadinya perilaku seks bebas yang berujung pada pernikahan di bawah umur. Namun faktor lain yang tak kalah penting dari maraknya kasus pernikahan dini adalah rendahnya tingkat pendidikan sehingga tak mengerti betul apa saja dampak dari pernikahan dini.

5. Tindakan guna menurunkan angka pernikahan usia dini

UNICEF dan BPS merekomendasikan beberapa tindakan untuk menurunkan angka pernikahan anak. Yaitu, peningkatan intervensi perlindungan perempuan 15-17 tahun dengan fokus utama penyelesaian sekolah menengah. Lalu memberikan akses pendidikan tinggi kepada anak-anak guna menangani masalah kerentanan ekonomi. Meminta pemberian kebijakan dengan berpusat pada daerah dengan prevalensi pernikahan usia anak yang tinggi. Sehingga hal-hal mengenai pernikahan dini dapat dipetakan dan dicarikan solusinya dengan baik.

Pada akhirnya, pernikahan dini itu tak selalu menyelesaikan masalah yang ada. Justru dengan adanya pernikahan dini, banyak hal-hal buruk yang terjadi jika pernikahan tidak disiapkan dengan baik. Sudah sewajarnya bagi kita semua, untuk selalu menjaga keluarga kita masing-masing dan memberikan solusi jangka panjang kepada mereka agar hal-hal seperti ini dapat dihindari. Seperti yang beberapa orang bilang bahwa pernikahan bukanlah sebuah perlombaan. Bukan tentang siapa yang cepat sampai ke tujuan, karena pernikahan jauh lebih mulia dan indah dari apa yang kita bayangkan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Ojik
"masa muda masa yang berapiapi."
0SHARES