Tampil Telanjang Dada Menjadi Bukti Kejujuran Perempuan Bali di Masa Lampau. Kok Bisa?

30 Desember 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
2.3 KSHARES

Bali adalah surganya para wisatawan. Sudah tidak asing lagi jika Bali dikenal sebagai lokasi wisata favorit bagi sebagian orang, baik itu lokal maupun mancanegara. Keindahan panorama pantainya menjadi salah satu daya magis yang dimiliki oleh Pulau Dewata untuk menarik para wisatawan. Namun, Bali bukan hanya sekadar tempat wisata, tapi juga tempat segala kebudayaan Indonesia tercipta. Satu dari sekian banyaknya kebudayaan Indonesia tercermin dari kehidupan perempuan Bali pada zaman dahulu kala. Penasaran? Langsung aja kita simak bersama.

Pada dekade 1920-an, terdapat budaya khusus bagi para perempuan Bali. Jika pada umumnya masyarakat Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan mengenakan pakaian lengkap sebagai penutup auratnya, namun tidak dengan Bali. Di sini, di era tersebut, kamu akan mendapati dengan bebas para perempuan Bali berjalan santai tanpa menggunakan busana. Namun, bukan berarti telanjang penuh, hanya tubuh bagian atasnya yang tidak ditutupi oleh sehelai kain pun. Kenapa begitu?

Sejarawan sekaligus akademisi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana, Denpasar, yakni Dr. I Nyoman Wijaya, M. Hum. menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh para perempuan Bali yang tampil tanpa atasan mencerminkan sebuah kejujuran. Menurutnya, makna kejujuran perempuan Bali pada zaman dahulu ditunjukkan dengan cara bertelanjang dada, mereka dapat menjaga apa yang dimilikinya.

“Barang siapa yang bisa menjaga barang paling terlarang, tetapi mahal itu akan dapat menjaga dirinya sendiri dan tidak membiarkan dirinya diganggu orang lain,”

“Jika buah yang dilarang itu tidak pernah disentuh, maka ia tidak akan layu. Jika buah itu masih segar, maka pemilik buah itu akan masih bisa dipercaya,” pungkas Wijaya seperti yang dikutip dari laman suluhbali.co (20/12/2017).

Meskipun sekitar tahun 1930-an terdapat gerakan perihal kesadaran akan penggunaan pakaian yang digagas oleh para perempuan lulusan universitas di luar Bali, namun kebanyakan dari para perempuan Bali menolak kehadiran pakaian tersebut (dalam hal ini kebaya) dan menganggap bahwa penggunaan kebaya sungguh merepotkan.

Tradisi tersebut pun terus berjalan hingga sekitar tahun 1990-an. Adalah Antonio Blanco, salah satu pewaris budaya Bali yang tetap setia menjaga tradisi tersebut. Meski bukan masyarakat asli Bali, namun Blanco telah jatuh cinta kepada Bali dan bahkan oleh Raja Ubud, Blanco diberikan sepetak tanah yang kemudian dijadikan sebagai tempat tinggal sekaligus studio lukis. 

Putra dari Antonio, yakni Mario Blanco menuturkan bahwa para pekerja di studio lukis milik ayahnya tidak mengenakan penutup pada bagian atas tubuhnya. Hal itu dilakukan guna melestarikan tradisi yang berlaku di wilayah tersebut. Namun, setelah studionya mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan, para pekerja pun diminta untuk memakai kebaya, namun hanya untuk tamu-tamu tertentu saja. Jika sudah tidak ada tamu, para pekerja pun kembali tampil telanjang dada. 

Di dalam museum Blanco pun dipenuhi oleh lukisan dari para perempuan yang bertelanjang dada. Ada yang tengah berpose di atas tempat tidur, menari, dan bahkan ketika tengah bermasturbasi. Mario menuturkan bahwa ayahnya memang pecinta perempuan, namun bukan pengagum erotika, melainkan gairah seni yang dimilikinya. Bagi kamu yang penasaran dengan kehidupan perempuan Bali tempo dulu, silakan berkunjung ke studio lukis milik keluarga Blanco tersebut.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
2.3 KSHARES