Tahukah Kamu Penyumbang Emas Terbesar Monas? Yuk, Kenalan Lebih Jauh!

21 Oktober 2017
|Galih Wisnu Brata
0SHARES

Monumen Nasional atau Monas menjadi salah ikon dari Jakarta, bahkan bisa dikatakan sebagai ikon Indonesia. Monumen ini menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah di Indonesia. Salah satu yang menarik dari Monas adalah puncaknya yang terbuat dari emas. Emas di puncak Monas memiliki berat sekitar 38 kilogram. Kira-kira dapat dari mana ya emas sebanyak itu?

Usut punya usut, emas di puncak Monas merupakan sumbangan saudagar kaya pada zamannya. Jadi, salah jika kamu beranggapan bahwa emas tersebut sepenuhnya dibeli dengan uang negara. Ada seorang saudagar kaya yang menyumbang sebagian besar emas di Monas. Tak tanggung-tanggung, ia menyumbang sebanyak 28 kilogram emas. Mau tahu siapa saudagar kaya itu? Yuk, simak bersama.

Dia adalah Teuku Markam. Seorang saudagar kayak kelahiran tahun 1925 asal Aceh Utara. Pada masanya, Teuku Markam menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Ia mendirikan sebuah perusahaan bernama PT Karkam. Ia juga pernah berbisnis di bidang perkapalan.

Sebelum berbisnis, Teuku Markam pernah mengikuti wajib militer di Koeta Radja yang saat ini dikenal dengan nama Banda Aceh. Kemudian, ia bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia dengan pangkat Letnan Satu. Ia bahkan pernah ikut dalam pertempuran di Tembung, Sumatra Utara.

Selain menyumbang emas untuk Monas, Teuku Markam juga memberikan kontribusi lain untuk Indonesia. Ia pernah membantu Presiden Soekarno dalam membebaskan Irian Barat. Teuku Markam juga berperan dalam memberantas buta huruf di Indonesia. Selain itu, ia juga pernah membebaskan lahan Senayan yang digunakan sebagai pusat olahraga terbesar di Indonesia. Pada masa Orde Baru, dirinya juga menyumbang dana pada pemerintah untuk pembangunan beberapa jalan.

Dengan segala kebaikannya, nasib nahas tak kunjung berlepas tangan. Ia pernah dibui pada tahun 1957 hingga 1958 karena masalah persaingan bisnis. Tak cukup sekali jeruji besi mengurungnya, Teuku Markam mendekam kembali di penjara tahun 1966. Ia dituduh sebagai anggota PKI dan koruptor. Ia dipenjara tanpa adanya proses pengadilan terlebih dahulu. Teuku Markam bebas dari masa tahanan keduanya pada tahun 1974.

Tak hanya sampai di situ saja penderitaannya. Setelah merasakan udara bebas, ia harus menerima dengan besar hati bahwa perusahaan dan semua aset miliknya telah disita oleh pemerintah. Hal tersebut membuatnya berada di ambang kemiskinan. Jasa-jasa yang telah dilakukannya untuk membangun bangsa seperti tak pernah ada artinya.

Pada tahun 1985, Teuku Markam menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Itulah tadi tokoh penyumbang emas terbesar untuk Monas, Teuku Markam. Begitu banyak hal yang telah ia berikan untuk ibu pertiwi walaupun ia harus diganjar dengan hal yang tidak sepatutnya diterima. Alangkah baiknya kita mengenang jasa-jasanya yang telah ikut membangun negara kita, Indonesia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Galih Wisnu Brata
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES