Suku Misterius Berekor, Orang Boentoet, Dipercaya Ada di Kalimantan. Beneran Nggak Ya?

04 Januari 2018
|Galih Wisnu Brata
1.4 KSHARES

Indonesia memiliki keberagaman suku yang kaya. Bahkan, Indonesia disebut sebagai negara dengan suku terbanyak. Suku yang sering kita dengar, antara lain, suku Jawa, suku Sunda, suku Dayak, dan suku Asmat. Suku-suku tersebut dikenal masyarakat luas karena menunjukkan eksistensinya. Tapi, ternyata ada beberapa suku di Indonesia yang jarang diketahui masyarakat. Keberadaannya pun masih dipertanyakan. Salah satunya adalah Orang Boentoet.

Orang Boentoet dipercaya menghuni hutan pedalaman di Kalimantan, tepatnya di pemukiman Kesultanan Pasir di tepian Sungai Teweh. Sesuai namanya, konon Orang Boentoet memiliki ekor di bagian belakang tubuhnya.

Kabar tentang suku berekor asal Borneo ini merebak sejak dilakukan pencarian oleh Carl Bork. Carl Bork adalah seorang pelancong kelahiran Denmark yang berkebangsaan Norwegia. Carl Bork diberi di tahun 1879 mandat oleh Gubernur Jenderal Johan van Lansberge untuk menjelajah pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Penjelajahan tersebut dilakukan guna meneliti kehidupan suku Dayak.

Dalam penjelajahannya itu, Carl Bork sempat bertemu dengan Sultan Kutai, Sultan Aji Muhammad Sulaiman, di Tenggarong. Di perjamuan yang disediakan Sang Sultan Kutai, Carl Bork dan Sultan Kutai mendapat informasi tak terduga dari abdi kerajaan, Tjiporon. Tjiporon mengatakan bahwa ia pernah melihat ras manusia berekor di pemukiman Kesultanan Pasir. Ia bahkan memberikan gambaran yang sangat detail sehingga Sultan dan Carl pun menjadi percaya.

Suku berekor, yang disebut juga Orang Boentoet, menurut Tjiporon, memiliki ekor yang panjangnya 5 hingga 10 cm. Kepala sukunya memiliki penampilan yang sangar dengan rambut dan mata yang berwarna putih. Orang Boentoet tinggal berkelompok di sebuah rumah yang lantainya dilubangi. Lubang di lantai tersebut digunakan untuk meletakkan ekor mereka saat duduk agar terasa nyaman.

Carl yang percaya pun memutuskan untuk mencarinya dengan meminta bantuan pihak Kesultanan Kutai. Sultan Kutai menyurati Sultan Pasir yang berisi permintaan untuk menangkap sepasang Orang Boentoet. Carl berjanji akan memberikan uang sebesar 500 gulden apabila Tjiporon bisa menangkap Orang Boentoet.

Beberapa bulan berlalu, Carl tidak mendapat kabar baik dari Tjiporon. Akhirnya, ia meneruskan perjalanannya ke Banjarmasin dan di tengah perjalanannya ia bertemu dengan Tjiporon. Tjiporon pun menunjukkan muka lesu dan mengatakan bahwa ia tak berhasil menangkap Orang Boentoet. Carl Bork pun tak menyerah, ia kembali menyurati Sultan Pasir dengan bantuan residen Banjarmasin.

Surat-surat yang dikirim Carl Bork ternyata memancing kemarahan Sultan Pasir. Bahkan, kesalahpahaman sempat terjadi antara Sultan Pasir dan Sultan Kutai. Alasan kemarahan Sultan Pasir adalah Orang Boentoet dianggap sebagai abdi kepercayaanya. Jadi, mana mungkin, ia mau menangkap dan menyerahkan abdi kepercayaan kepada pihak lain.

Isu tentang adanya ras manusia berekor ini tertuang dalam karya Carl Bork yang berjudul Headhunters of Borneo. Carl Bork mengungkapkan bahwa pencariannya terhadap Orang Boentoet adalah kekeliruan yang menggelikan. Penjelajah lain, Alfred Russle Wallace asal Inggris, yang membaca tulisan Carl juga mengatakan bahwa pencarian suku berekor itu menjadi episode lucu dalam buku itu. Walau belum ada bukti konkret terkait keberadaan Orang Boentoet, masyarakat setempat percaya bahwa hanya orang berkemampuan khusus yang bisa melihat suku misterius dari Kalimantan ini.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Galih Wisnu Brata
Gak Punya Quote Nih!
1.4 KSHARES