Siapa Sangka bahwa Ibu Kota Negara Indonesia Pernah Direncanakan untuk Pindah ke Surabaya?

13 Juli 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Belakangan ini pemerintah dan masyarakat Indonesia sedang disibukkan dengan wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Palangkaraya. Hal yang masih menjadi wacana tersebut memang sedang dikaji secara mendalam oleh pihak terkait. Sedangkan Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran, sudah menyatakan kesiapan Palangkaraya untuk dijadikan ibu kota.

Sepanjang sejarah Indonesia, ibu kota pernah sekali dipindahkan ke Yogyakarta pascakemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada 4 Januari 1946. Namun, selain pemindahan tersebut, Ibu Kota Negara Indonesia juga pernah direncanakan untuk pindah ke Kota Surabaya jauh sebelum kemerdekaan. 

Seperti yang dilansir di laman Historia, rencana pemindahan ibu kota ke Surabaya dicanangkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, sejak zaman kolonialisme Belanda. Hal tersebut diperjelas oleh Achmad Sunjayadi, ahli sejarah Universitas Indonesia, yang mengatakan bahwa terdapat dua faktor yang mendasari Daendels untuk memindahkan ibu kota dari Batavia ke Surabaya. Alasan yang pertama adalah pada saat itu Batavia merupakan sumber penyakit. Alasan selanjutnya adalah faktor pertahanan, di Surabaya pada saat itu sudah terdapat benteng dan pelabuhan. 

Dahulu kala Batavia sempat diberi julukan sebagai 'Koningin van den Oost' (Ratu dari Timur). Namun julukan tersebut kian padam saat banyaknya orang Belanda yang meninggal akibat penyakit kolera. Sejak saat itulah Batavia menjadi terkenal sebagai “kuburan” bagi para bangsa Belanda. Hal tersebut diperparah dengan kematian Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Hindia Belanda, yang tewas akibat penyakit kolera. 

Sejak awal, Daendels sudah menyadari bahwa Batavia tidak layak untuk dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan di Pulau Jawa. Banyak bangunan yang temboknya sudah rapuh, bahkan bisa hancur begitu saja akibat terpaan air laut. Iklim di Batavia juga dinilai Daendels bisa membunuh para prajutrit Belanda bahkan sebelum musuh menyerang. Sejak saat itulah Daendels kepikiran untuk memindahkan ibu kota ke daerah yang lebih layak dan sehat.

Terlebih lagi, alasan Daendels untuk memindahkan ibu kota ke Surabaya adalah untuk menghindari serangan dari Inggris. Untuk menyiasati hal tersebut, Daendels hingga membangun sebuah pabrik senjata, rumah sakit militer dan Benteng Lodewijk. Benteng Lodewijk tersebut adalah benteng pertahanan militer yang berlokasi di Pulau Mangare, utara Kota Gresik. 

Namun rencana pemindahan ibu kota dari Batavia ke Surabaya ini tidak berhasil. Daendels gagal merealisasikan rencana tersebut karena membutuhkan dana yang sangat besar. Sementara keuangan yang dimiliki lebih diprioritaskan untuk perang melawan Inggris. Selain itu Daendels juga kesulitan untuk memindahkan seluruh pemukiman yang ada di Batavia. Untuk menyiasatinya, Daendels memutuskan untuk memindahkan pemukiman kota tersebut ke daerah yang lebih tinggi yaitu Weltevreden, kini menjadi daerah Lapangan Banteng. Karena gagal memindahkan ibu kota, kemudian Daendels memperluas kawasan Weltevreden dan membangun gedung-gedung kantoran seperti Gedung Departemen Keuangan. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES