Seru Tapi Rawan Bahaya, Tradisi Pasola Ini Jadi Olahraga Ekstrim dengan Kearifan Lokal!

20 Januari 2018
|Median
0SHARES

Selain pemandangan alamnya yang terkenal indah, Pulau Sumba di NTT juga terkenal dengan tradisi-tradisi lokalnya yang unik dan menarik. Salah satunya adalah tradisi Pasola yang berwujud perang-perangan dengan saling melempar lembing kayu dari atas kuda. Kelihatannya bahaya, tapi ini nggak beneran kok. Keliatannya nggak beneran, tapi ini bahaya, lho. Nah, gimana tuh?

Dari asal-usul namanya, Pasola berasal dari kata sola atau hola yang berarti ‘tombak kayu atau lembing’ yang mendapat imbuhan pa yang berarti ‘permainan’ sehingga setelah digabung, Pasola berarti ‘permainan menggunakan lembing’. Lebih tepatnya, tradisi Pasola adalah permainan tradisional berupa “perang” berkuda antardua kelompok dengan cara saling melempar lembing ke arah lawan.

Masing-masing kelompok biasanya terdiri dari 50—100 orang. Kedua kelompok akan saling memacu kuda dan menyerang dengan lembing sampai lawannya terjatuh. Oleh karena pesertanya banyak dan memerlukan medan yang luas untuk “berperang”, Pasola diadakan di sabana atau tanah lapang yang luas.

Menurut cerita rakyat setempat, tradisi Pasola awalnya merupakan permainan perang-perangan sebagai ajang untuk melepas dendam antarkampung karena dulu diceritakan pernah ada dua kampung yang berselisih karena masalah percintaan. Pelaksanaan tradisi Pasola ini sebenarnya merupakan bagian dari serangkaian upacara adat masyarakat Sumba yang sebagian besar menganut kepercayaan lokal, Marapu.

Sebelum dilaksanakan tradisi Pasola, didahului dengan upacara adat Nyale atau mencari cacing laut di tepi pantai. Di Pulau Sumba, kemunculan cacing laut yang berlimpah di tepi pantai adalah sebagai tanda bahwa musim panen akan segera tiba. Masyarakat pun akan beramai-ramai mencari dan menangkap cacing laut setelah Rato (pemuka adat/suku) mendapatkan nyale (cacing laut dalam bahasa Sumba). Oleh Rato, nyale yang didapatnya akan dibawa ke majelis para Rato untuk diteliti. Baik tidaknya keadaan nyale tersebut konon akan berpengaruh pada baik tidaknya hasil panen dan tahun yang bersangkutan.

Waktu kemunculan nyale dan pelaksanaan tradisi Pasola biasanya sudah diprediksi oleh Rato melalui perhitungan dan kepandaiannya dalam melihat fenomena alam. Apabila pada waktu yang telah diprediksikan tidak ada kemunculan nyale, Pasola tidak bisa dilaksanakan. Akan tetapi, konon, prediksi Rato tidak pernah meleset.

Oke, berbicara tentang “berperang”-nya, lembing yang digunakan untuk melempari lawan tidaklah berujung tajam, tetapi “hanya” berupa tongkat kayu biasa berdiameter sekitar 1,5 cm yang kedua ujungnya tumpul. Akan tetapi, hal itu ternyata juga tetap bisa menimbulkan lawan terluka, bahkan sampai berdarah-darah. Jadi, peserta Pasola itu harus benar-benar tangkas dalam memacu kuda dan menghindari serangan agar kecelakaan sebisa mungkin tidak terjadi. Kalau menurut kepercayaan, orang yang terluka dalam tradisi Pasola akan dianggap telah diganjar hukuman oleh dewa karena melakukan pelanggaran. Lalu, tetesan darah peserta yang terluka di arena laga dianggap dapat menyuburkan tanah dan memberikan hasil panen yang berlimpah.

Kalau dalam kalender Masehi, tradisi Pasola, demikian juga dengan Nyale, biasanya setiap tahunnya dilaksanakan antara bulan Februari dan Maret. Wilayah yang menyelenggarakan budaya Pulau Sumba ini adalah empat kampung di Kabupaten Sumba Barat, yaitu Kampung Gaura, Kampung Kodi, Kampung Lamboya, dan Kampung Wanokaka.

Unik banget ya tradisi masyarakat Sumba ini. Bagaimanapun, meski mungkin dapat menjatuhkan korban luka-luka, tradisi ini merupakan kekayaan budaya yang patut diapresiasi dan dilestarikan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Median
"Nata polah."
0SHARES