Sering Digunakan Saat Pesta Pernikahan, Ternyata Inilah Makna dan Sejarah dari Ronce Melati!

22 November 2017
|Mega Fitriyani
0SHARES

Pesta pernikahan yang dilaksanakan sesuai dengan adat, memiliki berbagai hal unik yang jadi ciri khasnya. Salah satunya adalah pemakaian ronce melati sebagai salah satu bagian upacara adat, terutama adat Sunda dan Jawa. Pada pesta pernikahan adat Jawa dan Sunda, bunga melati dipakai untuk hiasan kepala mempelai. Pengantin pria adat Jawa juga mengenakan ronce melati untuk menghiasi keris. Pada pengantin adat Bugis, kuncup melati dipakai untuk menghiasi bagian rambut dalam bentuk untaian seperti mutiara yang dirangkai. 

Ronce melati umumnya dipakai sebagai dekorasi, sekaligus memberikan aroma khas perkawinan, dan juga menghidupkan suasana sakral pada pesta tersebut. Lihat saja, ketika melihat bunga melati, orang-orang pun akan langsung menghubungkannya dengan pesta pernikahan. Mitos bahwa bunga melati dari pengantin dapat membuat enteng jodoh pun ada di masyarakat. Itu adalah salah satu bukti betapa melekatnya bunga melati dengan pernikahan. Bunga melati secara umum melambangkan kesucian, kesederhanaan, dan keindahan, yang tentu berkaitan dengan tujuan pernikahan. Namun, ronce melati ternyata juga memiliki makna filosofis.

Ronce melati dikenal juga dengan istilah roncean usus-usus. Penyebutan ini disebabkan karena bentuk untaiannya memang menyerupai rangkaian usus.  Selain itu, roncean usus-usus ini juga berkaitan dengan salah satu legenda yang populer, yakni legenda mengenai Haryo Penangsang. Dari legenda itu, ronce melati yang biasanya digunakan untuk menghiasi keris mempelai pria digunakan untuk melambangkan keberanian.

Haryo Penangsang adalah ksatria yang gagah berani dan pantang menyerah.  Pada masa sejarah Kesultanan Demak XVII, Haryo Penangsang bertarung dengan Sutawijaya. Pertarungan tersebut berlangsung dengan sengit. Kedua pihak tidak mau menyerah dan berusaha bertahan dari serangan lawan. 

Namun, sayang sekali dalam pertarungan itu Haryo Penangsang tertusuk tombak tepat mengenai perutnya dan begitu tombak dicabut ususnya terburai. Tidak lantas menyerah, Haryo Penangsang menggunakan sarung kerisnya (warangka) untuk dijadikan media melilitkan ususnya yang terburai. Dalam keadaan demikian, pertarungan masih ingin ia lanjutkan. Namun, ia akhirnya terbunuh dalam peperangan. Meski kalah, keberanian Haryo Penangsang ini pun dikagumi, dan roncean usus-usus adalah salah satu bukti untuk menghormati keberanian Haryo Penangsang. Karena itulah kini ronce melati digunakan di keris pengantin pria adat Jawa.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Mega Fitriyani
"Why worry?"
0SHARES