Sempat Hendak Diberantas Oleh Orde Baru, Inilah Kisah Perjuangan Koteka dan Masyarakat Papua!

24 Januari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Salah satu daerah dengan kekayaan budaya yang paling kental di bumi pertiwi ini dapat kita lihat di propinsi paling yang paling ujung, yakni Papua. Satu hal yang mungkin kita ingat sebagai ciri khas dari masyarakat Papua, adalah budaya menggunakan koteka. Dalam dunia modern ini, kita mungkin akan mengernyitkan dahi ketika mengetahui masih saja ada kelompok masyarakat yang menggunakan benda seperti koteka di dalam kehidupan sehari-harinya. Namun nyatanya, koteka bukanlah sebuah benda sembarangan. Bagi masyarakat asli Papua, koteka juga berfungsi sebagai penanda status sosial seseorang. Bagaimana caranya alat pembungkus penis seperti koteka dapat berfungsi sebagai penanda status sosial seseorang?

Berdasarkan penuturan dari seorang pelajar adat dan budaya Papua di Jayapura yang bernama Ibiroma Wamla (39), proses pembentukan koteka dimulai sejak masa tanam labu. Setelah tumbuh, labu diikat dengan batu sehingga diperoleh bentuk yang tegak lurus. Kemudian, untuk mendapatkan bentuk yang melengkung, batu yang diikat pada labu dilepas sebelum panen tiba. 

Labu yang sudah siap panen kemudian dipetik, lalu dikeringkan di dalam perapian selama kurang lebih satu hingga dua minggu. Setelah kering, isi dari labu dikeluarkan hingga hanya tersisa kulitnya yang keras. Setelah dibersihkan, labu tersebut kembali dikeringkan di dalam perapian dan jika sudah kering, maka labu tersebut pun telah siap dipasangkan ke batang penis. Selanjutnya, untuk membuat kesan gagah dan dapat menarik perhatian lawan jenis, ujung dari koteka akan dipasang semacam jambul dari bulu ayam atau burung. Koteka ini kemudian diikatkan dengan tali dan dipasang melingkari pinggang agar tidak terjatuh.

“Koteka yang ujungnya melengkung ke depan (kolo) disandang oleh Ap Kain atau pemimpin konfederasi (pemimpin klan). Golongan menengah mengenakan koteka yang ujungnya melengkung ke samping (haliag). Mereka di antaranya adalah Ap Menteg (panglima perang) dan Ap Ubalik (tabib dan pemimpin adat), sedangkan yang bentuknya tegak lurus boleh digunakan masyarakat biasa,”jelas Ibiroma seperti yang dikutip dari laman Historia.

Pada saat pemerintah Hindia-Belanda menguasai Indonesia, para misionaris Belanda kemudian datang pada tahun 1855. Mereka merasa seakan jijik dengan kebiasaan masyarakat Papua yang hanya menggunakan koteka. Oleh karena itu, bagi mereka yang mau bersekolah, mereka akan memberikan setelan pakaian yang lengkap. Namun, kebijakan tersebut tak lantas membuat masyarakat Papua meninggalkan kebiasaan berkoteka, terutama di wilayah Pegunungan Tengah. Mereka tetap setia pada koteka, bahkan ketika Indonesia telah merdeka.

Namun, ketika Indonesia berada di bawah pemerintahan Orde Baru, isu pemberantasan koteka kembali mencuat. Karena dianggap sebagai lambang keprimitifan, pemerintah kemudian melaksanakan Operasi Koteka pada periode 1971 hingga 1974. Operasi ini diinisiasi oleh Brigadir Jenderal Acub Zainal selaku Panglima Kodam XVII/Cenderawasih sekaligus Wakil Ketua Badan Pelaksana Pembangunan Daerah Irian Barat. Usulnya itu kemudian langsung disetujui oleh pemerintah pusat. Tujuan dari operasi ini sendiri adalah untuk meningkatkan taraf hidup dan mengembangkan kebudayaan rakyat.

Tahap pertama dari operasi ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1971 dengan wilayah sasaran yang meliputi Wamena (Lembah Baliem), Wagete (sekitar Danau Tigi), dan Enarotali (sekitar Danau Paniai). Selain koteka, target dari operasi ini juga turut memberantas penggunaan rok jerami atau yang disebut dengan sale (bagi para perawan) dan yokal (bagi para istri). Pemerintah pun membagi-bagikan pakaian gratis kepada para penduduk. Untuk para pria, pemerintah memberikan jatah dua potong celana pendek berbahan kain, sedangkan untuk para perempuan akan mendapatkan sehelai sarung katun.

Meski tujuannya baik, namun Operasi Koteka mendapatkan perlawanan yang luar biasa dari masyarakat Papua, terutama suku Dani. Akibatnya, mereka yang menentang dan menolak akan diberikan hukuman, mulai dari penyitaan dan pembakaran koteka hingga tindakan penganiayaan. Bahkan, seorang wartawan foto asal Amerika yang datang pada 1972 menceritakan hal yang cukup mengerikan yang dimuat dalam People of the Valley.

“Ketika orang Dani menolak upaya pemerintah untuk ‘mencivilkan’ rakyat mereka, mereka lantas ditembak dan dibunuh,” tulis Wyn Sargent. Selain penolakan dari suku Dani, suku-suku lainnya pun turut menolak dan menentang operasi ini. Program ini pun dinyatakan gagal.

“Upaya ini tentu saja tidak berhasil karena seperti manusia di mana pun juga, adat istiadat yang telah dibudayakan sejak dini tidak dapat diharapkan berubah secara mendadak. Tanpa dipaksa oleh Operasi Koteka mereka telah keluar dari Zaman Batu dengan sendirinya,” tulis Koentjaraningrat dalam Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk. Dengan gagalnya operasi koteka, kini kita masih dapat menemui kekayaan budaya yang satu ini di berbagai daerah di Papua. Untung gagal ya, kalau tidak, hilanglah satu keunikan budaya kita atas nama 'modernisasi'.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES