Puisi dan Keyakinan dalam Pusaran Politik Jelang Pilkada dan Pilpres. Indonesia Makin Panas!

11 April 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
6SHARES

Belum usai polemik puisi “Ibu Indonesia” milik Sukmawati Soekarnoputri, kini muncul lagi polemik yang serupa. Kali ini berasal dari puisi karya Kiai Haji A. Mustofa Bisri berjudul “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” yang dibacakan oleh Calon Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada acara Rosi Kompas TV.

Puisi tersebut dinilai mengandung unsur SARA sehingga Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) berencana untuk memolisikan politisi PDIP tersebut. Bagian dari puisi yang dinilai mengandung unsur SARA terdapat pada bait “Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat” yang dianggap merujuk ke panggilan azan. 

Berdasarkan dari fakta tersebut, Fadli Ramdhani, salah seorang peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menyatakan jika isu SARA akan tetap marak terjadi hingga Pilkada serentak dan Pilpres 2019 berlangsung. Menurutnya, kejadian tersebut diawali oleh Pilkada 2017 yang berhasil menjebloskan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok ke dalam jeruji besi akibat ucapannya terkait surat Al-Maidah. 

Harus diakui saat ini masyarakat Indonesia tengah panas dan mudah terpantik dengan isu-isu yang menyangkut keyakinan. Bahkan, karya sastra seperti puisi yang notabene-nya merupakan bentuk ekspresi dari seseorang pun dapat dipermasalahkan jika menyangkut hal tersebut.

Keterlibatan puisi di dalam dunia politik saat ini diawali oleh pembacaan “Ibu Indonesia” oleh Sukmawati dalam acara Indonesia Fashion Week, untuk memperingati 29 Tahun Anne Avantie Berkarya. Puisi milik anak keempat dari pasangan Soekarno dan Fatmawati ini dinilai telah melecehkan agama Islam karena membawa-bawa kata “cadar”, “azan”, dan “syariat Islam”. Padahal, makna dari karya sastra sangatlah multitafsir sehingga semua orang pun dapat menafsirkannya menurut penilaiannya sendiri.

Dan lagi, karya sastra memiliki sebuah lisensi di mana karya-karyanya tidak diharuskan terikat pada kaidah atau aturan bahasa yang berlaku secara umum. Lisensi tersebut disebut dengan istilah Licentia Poetica. Licentia Poetica adalah kebebasan memilih cara dan ungkapan puisi demi memaksimalkan makna tersembunyi dalam puisi tersebut yang kadang menyimpang dari kenyataan atau aturan konvensional, kaidah kebahasaan, bahkan aturan penulisan puisi secara umum.

Dengan kata lain, Licentia Poetica adalah kebebasan penyair dalam menuliskan puisinya sesuai ekspresi suasana hati penyair itu sendiri, walau ada penyimpangan dari ketentuan berbahasa.Penyimpangan ini biasanya terjadi pada arti kosakata, bunyi kebahasaan, makna, atau tata kalimat. Maka, ketika Sukmawati memilih kata-kata yang mengandung unsur Islam atau kata-kata lainnya, hal ini dilindungi dalam Licentia Poetica dan kebebasan berekspresi. Namun sekali lagi, akibat situasi politik yang panas dan sifat multitafsir puisi, maka Sukmawati pun dituding telah melakukan penistaan agama.

Sementara untuk kasus Ganjar sendiri, puisi yang dibacakannya adalah puisi yang dibuat oleh salah seorang ulama terkemuka. Bahkan, pelaporan Ganjar oleh FUIB dinilai sangat kental dengan aroma politis untuk menggulingkan popularitas Ganjar di mata masyarakat Jawa Tengah. Pun jika memang ingin dilaporkan, seharusnya sang pembuat puisilah yang harusnya dilaporkan, bukan si pembaca puisi, dalam hal ini Ganjar Pranowo.

“Kami merasa heran. Itu puisi karya ulama terkemuka. Sifatnya reflektif, perenungan," kata Hendrawan Supratikno, Ketua DPP PDIP memandang tuduhan penistaan agama yang dialami Ganjar seperti yang dikutip dari Tirto.id, Selasa (10/3/2018).

"Kami percaya masyarakat sudah paham dengan politisasi puisi ini. Masyarakat sudah bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang bulus," tambah Hendrawan.

Sebagai masyarakat Indonesia yang cerdas, sudah sewajarnya jika kita harus lebih pandai dalam bersikap dan bertindak. Jangan mudah terprovokasi, apalagi mengingat tahun ini Indonesia memasuki tahun politik yang disinyalir akan menjadi sangat panas. Berbagai isu pun akan diolah sedemikian rupa demi kepentingan politik. Bahkan persoalan sesederhana jaket Jokowi yang terbuka saja dapat memicu pernyataan-pernyataan politik yang bikin gemas. Jadi, jangan gampang terprovokasi ya, guys!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
6SHARES