Penyerangan Gereja Santa Lidwina Bedog dan 5 Kasus Serupa. Benarkah Indonesia Darurat Toleransi?

13 Februari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Pada hari Minggu (11/2/2018) kemarin, jemaat Gereja Santa Lidwina Bedog Yogyakarta dikejutkan dengan aksi dari seorang pemuda yang dengan sadis melakukan aksi pembacokan terhadap Romo Prier dan beberapa jemaat gereja lainnya. Pada saat itu, para jemaat tengah melakukan misa di Gereja Santa Lidwina Bedog yang terletak di Dukuh Jambon Tirhanggo, Gamping, Sleman DIY Yogyakarta. Hingga saat ini, polisi masih menelusuri motif dari pelaku berinisial S tersebut.

Penyerangan di Gereja Santa Lidwina Bedog ini bukan kali pertama serangan terhadap para pemuka agama terjadi di Indonesia. Sudah banyak kasus serupa yang terjadi. Meski berhasil ditindak, namun kasus yang sama lagi dan lagi terjadi. Berikut beberapa kasus penyerangan yang membuat kita mempertanyakan kembali mengenai toleransi di Indonesia.

1. Penyerangan terhadap Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis)

Kamis (1/2/2018) kemarin, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), yakni Ustad Prawoto (40) harus meregang nyawa usai dianiaya oleh seseorang berinisial AM (45). Penganiayaan tersebut terjadi di kediamannya yang terletak di Blok Sawah RT 01/03 Kelurahan Cigondewah Kidul Kecamatan Bandung Kulon, Bandung. Meski sempat dilarikan ke Rumah Sakit Sentosa, Kopo, Bandung, namun nyawa korban tidak bisa terselamatkan. Pelaku sendiri berhasil diringkus oleh jajaran kepolisian beberapa jam setelah terjadinya penganiayaan. Menurut dugaan polisi, pelaku mengalami depresi dan saat ini tengah dilakukan observasi di RSJ Cisarua.

Menurut pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, pelaku kejahatan mencoba memanfaat pasal 44 KUHP yang mana isinya dapat membebaskan para pelaku kejahatan yang mengidap gangguan kejiwaan dari jeratan hukum.

2. Penyerangan terhadap pimpinan Ponpes Al-Hidayah Cicalengka Bandung

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Umar Basri, diserang oleh orang yang tidak dikenal usai melaksanakan salat subuh di masjid pada Sabtu (27/1/2018) kemarin. Penyerangan terjadi sekitar pukul 05.30 WIB ketika para jemaat yang sebagian besar merupakan santri dari Ponpes Al-Hidayah telah membubarkan diri.

Menurut keterangan polisi, hanya kiai dan pelaku yang berada di dalam masjid pada saat itu. Ketika sang kiai tengah melakukan wirid, pelaku pun melancarkan aksinya dengan memukul Kiai Basri menggunakan tangan kosong hingga sang kiai bersimbah darah. Sebelum melancarkan aksinya, pelaku terlebih dahulu menendang kotak penyimpanan amplifier sambil menghujat, “ini pinarakaeun (ini alat menuju neraka)” berulang-ulang. Setelah itu, pelaku pun kembali menghujat, “nu didiyeu punarakaeun kabeh! (yang di sini semua calon penghuni neraka!).

3. Penganiayaan terhadap Ustadz Abdul Basit di Palmerah

Kali ini serangan terhadap ulama terjadi di Palmerah, Jakarta Barat. Adalah Ustadz Abdul Basit yang menjadi korban usai dikeroyok oleh belasan remaja di Jalan Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat pada Minggu (11/2/2018) kemarin. Menurut Kombes Hengky Haryadi, peristiwa pengeroyokan berawal dari teguran sang ustadz kepada para remaja tersebut akibat terlalu berisik saat tengah malam. Tidak terima ditegur, para remaja itu pun kemudian langsung melakukan pengroyokan terhadap sang ustadz hingga tangan kirinya terluka akibat sabetan clurit. Sebanyak sebelas remaja yang rata-rata masih berusia 15-19 tahun itu pun segera diamankan oleh petugas kepolisian. Sisanya masih dalam proses pengejaran.

4. Biksu Mulyanto diusir karena dianggap menyebarkan ajaran Budha

Pada 5 Februari yang lalu sempat beredar sebuah video yang memperlihatkan aksi pengusiran dari sekelompok warga terhadap Mulyanto, seorang biksu yang diduga menyalahgunakan ijin tempat tinggalnya sebagai tempat ibadah. Video yang diunggah ke media sosial itu pun kemudian viral dan menjadi perdebatan banyak pihak. Warga yang tinggal di Kampung Kebon Waru RT 01 RW 01 Desa Babat Kecamatan Legok, Tangerang menganggap bahwa Mulyanto telah menyebarkan ajaran agamanya dan merekrut orang-orang untuk menjadi pengikut setia Budha.

Kemudian pada Rabu (7/2/2018), warga Desa Babat melakukan aksi penolakan terhadap kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan penyebaran iklan-iklan di lokasi bekas galian pasir yang ada di sana. Mengetahui adanya kejadian ini, pihak kepolisian setempat kemudian mengumpulkan masyarakat dan tokoh-tokoh setempat untuk melakukan musyawarah. Pertemuan tersebut dilaksanakan pada Rabu (7/2/2018) pukul 14.10 WIB di ruang kerja Camat Legok yang terletak di Alun-Alun Desa Caringin, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.

Hasilnya, terjadi kesalahpahaman antara masyarakat dengan kegiatan yang sering kali terlihat di kediaman Biksu Mulyanto. Pada kenyataannya, banyak orang dari luar Legok yang datang ke rumah Biksu Mulyanto setiap Sabtu dan Minggu bukan untuk beribadah, melainkan untuk memberi makan sang biksu dan minta didoakan.

"Hal ini dapat dimaklumi karena biksu tidak boleh pegang uang dan beli makanan sendiri. Rumah Biksu Mulyanto Nurhalim dipastikan untuk tempat tinggal, bukan rumah ibadah umat Buddha seperti yang dicurigai," ucap Ahmad selaku Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan seperti yang dilansir dari laman Kompas.

5. Terakhir, penyerangan terhadap jemaat dan romo Gereja St. Lidwina Bedog Yogyakarta

Seperti yang telah disinggung di atas, pada Minggu (11/2/2018) pagi telah terjadi penyerangan oleh pemuda asal Banyuwangi berinisial S terhadap para jemaat Gereja Santa Lidwina Bedog Yogyakarta.

Serangan tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 WIB. Menurut penuturan polisi, pelaku masuk melalui pintu Gereja Santa Lidwina Bedog sebelah barat dan langsung menyerang pengurus gereja bernama Martinus Parmadi Subiantoro. Serangan tersebut membuat punggung dari Subiantoro terluka. Mengetahui hal tersebut, para jemaat yang berada di kanopi (gereja) pun segera bertindak dengan membubarkan diri dan berlari ke arah pelaku. Setelah itu, pelaku kemudian masuk ke gedung utama sambil mengayun-ayunkan senjata tajam seakan tengah menantang sehingga para jemaat pun tidak ada yang berani mendekatinya. Pelaku pun lalu berlari ke arah koor gereja dan langsung menyerang Romo Prier yang tengah memimpin misa. Sang Romo pun terluka di bagian belakang kepalanya. Setelah menyerang Romo, pelaku menyerang para jemaat Gereja Santa Lidwina Bedog yang masih berada di dalam. Serangannya tersebut mengakibatkan Budijono mengalami luka sobek pada bagian belakang kepala dan lehernya.

Akibat dari serangan di Gereja Santa Lidwina Bedog tersebut, setidaknya terdapat empat korban luka yang seluruhnya dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Namun, satu di antaranya telah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

Penyerangan di Gereja Santa Lidwina Bedog ini membuka mata kita akan kejadian serupa yang belakangan menghiasi pemberitaan. Melihat banyaknya kasus penyerangan terhadap para pemeluk dan pemuka agama, perlu dipertanyakan apakah saat ini Indonesia benar-benar dalam keadaan darurat toleransi? Mengapa hal ini bisa sampai terjadi? Bukankah bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan? Atau munculnya kasus-kasus penyerangan ini hanyalah kebetulan belaka?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES