Pencitraan Berujung Bumerang, Para Tokoh Demokrat Ini Malah Terjerat Kasus Korupsi

04 Oktober 2017
|Atik Kencana S.
1.2 KSHARES

Hampir sepuluh tahun yang lalu tepatnya menjelang Pemilu Presiden tahun 2009, Partai Demokrat sedang gencar-gencarnya melakukan pencitraan. Mereka mengampanyekan tubuh partai sebagai partai yang anti-korupsi. Bukan tanpa alasan, kampanye tersebut dilakukan untuk mendapatkan citra positif dari Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina untuk kembali dicalonkan sebagai presiden di periode 2009-2014.

Partai Demokrat mengeluarkan sebuah kampanye melalui iklan televisi yang dikeluarkan pada 9 Desember 2008. Kader-kader partai raksasa tersebut muncul sebagai bintangnya. Mereka tegas mengatakan “TIDAK” untuk korupsi. Namun, beberapa tahun kemudian iklan tersebut hanyalah menjadi pepesan kosong. Satu per satu kader partai tersebut terciduk KPK atas skandal korupsinya. Niatnya mau pencitraan, malah jadi bumerang. Siapa saja sih para kader Demokrat di iklan tersebut yang terciduk korupsi?

Siapa sih yang gak kenal dengan Angelina Sondakh? Mantan Puteri Indonesia tahun 2001 ini malah menerjunkan dirinya ke dunia politik di tahun 2004. Pada saat itu, ia bergabung dengan sebuah partai baru yang sukses berkembang, yakni Partai Demokrat. Sayangnya, karir di percaturan politiknya runtuh di tahun 2012.

Bertolak belakang dengan kampanye anti korupsi yang sempat ia keluarkan, ia malah tersandung kasus korupsi. Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka korupsi mengenai pembahasan anggaran proyek Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Akibat ulahnya tersebut, Jaksa menuntut Wakil Sekjen Demokrat itu dua belas tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta.

Selain itu, Angelina Sondakh juga diwajibkan membayar ganti rugi terhadap negara sebesar Rp 12 miliar dan USD 2.350 juta. Namun, vonisnya jauh dibawah itu. Angie kemudian hanya dihukum selama 4 tahun 6 bulan dengan total denda Rp 250 juta. Namun, apabila denda tersebut tak dibayarkan, maka akan diganti dengan kurungan selama enam bulan.

Senasib dengan Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng yang juga turut terpampang dalam iklan televisi yang merupakan kampanye anti-korupsi dari Partai Demokrat. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga semakin gencar membongkar keterlibatan para kader Demokrat dalam kasus korupsi.

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, akhirnya Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat pada saat itu, Andi Alfian Mallarangeng, ditetapkan sebagai tersangka kasus pembangungan Sport Center di kawasan Hambalang, Bogor. Akibat status barunya, Andi kemudian memilih untuk mundur dari jabatannya sebagai Sekretaris Dewan Pembina dan Menteri Pemuda dan Olahraga.

Dalam kasus tersebut, Andi dianggap memanfaatkan uang negara dalam proyek Hambalang tersebut untuk mendanai pemenangannya sebagai Ketua Umum di Kongres Partai Demokrat. Mungkin anggapannya adalah “dari partai, untuk partai, dan oleh partai” kali, ya.

Tidak cukup Angelina Sondakh dan Andi Malarangeng, KPK juga kembali menetapkan satu kader Demokrat lagi sebagai tersangka. Bukan anggota biasa, ia adalah Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Sama kasusnya dengan Andi Malarangeng, Anas juga terlibat dalam kasus pembangunan Hambalang. Anas juga dinilai menerima gratifikasi untuk proyek akbar dengan total nilai triliunan rupiah tersebut. Uang dari proyek akbar ini juga dijadikan sebagai pendanaan pemenangan dirinya di Kongres Partai Demokrat. Hal serupa juga dikatakan oleh kawan separtainya, Nazaruddin, yang menyebutkan bahwa Anas menerima dana sebanyak puluhan miliad dari proyek Hambalang.

Mantab jiwa, tokoh-tokoh di atas padahal dengan tegas dan jelas menyerukan untuk tidak melakukan korupsi. Nyatanya, malah sebaliknya. Kasihan sih. Kasihan pada rakyat maksudnya yang sudah kena tipu. Kalau untuk koruptor sih katakan “TIDAK” untuk ampun.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
1.2 KSHARES