Nyai Saritem, Bagaimana Sejarahnya Hingga Menjadi Dalang Prostitusi Sejak Zaman Belanda?

17 Juli 2017
|Atik Kencana S.
Indonesiaku
0SHARES

Selain pusat lokalisasi yang ada di Surabaya, Gang Dolly, ternyata ada lagi salah satu pusat lokalisasi yang berada di Bandung. Saritem namanya. Mungkin nama ini sudah lumayan familier di telinga beberapa kalangan. Bagi mereka yang tau bukan berarti pernah merasakan, lho ya. Soalnya, lokalisasi di Jawa Barat ini memang terkenal, bahkan sejak zaman kolonialisme Belanda.

Kalau beberapa saat yang lalu YuKepo pernah ajak kamu untuk mengintip tentang lokalisasi Dolly di Surabaya, kali ini YuKepo mau ajak kamu menelusuri lebih lanjut tentang sejarah lokalisasi Saritem ini. Penasaran seperti apa sejarahnya? Yuk, langsung aja kepoin bareng YuKepo!

Lokalisasi yang bernama Saritem ini terletak di suatu stasiun kereta di Bandung. Tepatnya berada di antara Jalan Astana Anyar dan Gardu Jati. Lokasi ini sudah dijadikan sebagai tempat lokalisasi sejak zaman kolonialisme Belanda. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) dipajang di setiap rumah dengan menggunakan kebaya khas pribumi. Tempat lokalisasi ini sudah berdiri sejak tahun 1838, kurang lebih tempat ini kini sudah berusia 233 tahun. 

Nama Saritem diambil dari sebuah nama gadis desa khas Kota Kembang. Saritem memang berparas cantik dan berkulit putih. Pesona kecantikan Saritem seringkali memikat petinggi Belanda di masa itu. Saking tergila-gilanya, Saritem kemudian dijadikannya gundik. Semenjak saat itu, Saritem yang awalnya hanya gadis kampung kemudian menjadi ‘Nyonya Belanda’. Namanya pun berubah menjadi Nyai Saritem.

Selang beberapa tahun, Nyai Saritem diminta oleh pembesar Belanda tersebut untuk mencari wanita yang bisa diajak kencan oleh para serdadu Belanda yang masih melajang. Kebetulan, pada saat itu daerah Gardu Jati memang dijadikan sebagai markas militer Belanda. Dalam misinya tersebut, Nyai Saritem difasilitasi sebuah rumah yang cukup besar. Semakin hari perempuan-perempuan yang dikumpulkannya semakin banyak. Perempuan-perempuan tersebut berasal dari sekitaran Bandung, seperti Sumedang, Cianjur, Garut, serta Indramayu. Bisnisnya semakin besar, Nyai Saritem semakin terkenal.

Bisnis lendir milik Nyai Saritem ini kemudian semakin berkembang pesat. Pengunjung yang datang tak hanya berasal dari kalangan serdadu lajang. Para prajurit yang sudah lanjut usia juga kerap berkunjung ke tempat ini. Bukan hanya warga Belanda, kalangan pribumi juga tak sedikit yang berkunjung dan mencicipi bisnis Nyai Saritem ini.

Terinspirasi dari keberhasilan Nyai Saritem, kawan-kawan yang senasib menjadi gundik para Belanda ini juga turut membuka bisnis serupa. Rata-rata mereka dulunya sempat menjadi perempuan yang bekerja pada Nyai Saritem. Sepeninggal Nyai Saritem, pusat lokalisasi di Bandung ini kemudian dikenal sebagai ‘Saritem’.

Walaupun lokalisasi ini sudah ditutup sejak tahun 2007 lalu, kegiatan prostitusi di tempat ini kadang masih suka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Penggrebekan terakhir di tempat ini terjadi pada tahun 2015 yang dilakukan secara besar-besaran. Diharapkan setelah penggrebekan ini, tidak ada lagi kegiatan jual beli nafsu birahi di sana. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES