Mumpung Menjadi Tren, Simak Yuk Sejarah Nasi Liwet Berikut

13 Juli 2017
|Atik Kencana S.

Kalau diperhatikan di media sosial, belakangan ini menjamur sekali masyarakat yang melakukan kegiatan “liwetan”. Liwetan tersebut merupakan suatu kegiatan makan nasi liwet bersama dengan beralaskan daun pisang. Gak melulu membawa faktor kesukuan, kaum urban juga turut melakukan hal ini.

Coba aja ingat beberapa waktu belakangan terutama menjelang dan pada saat bulan Ramadan. Semuanya seperti ikut berlomba meneruskan tradisi liwetan yang sudah terjadi secara turun temurun. Namun, jangan hanya terlena dengan kebersamaan dan kelezatan nasi liwet tersebut saja, lebih baik simak dulu yuk sejarah nasi liwet berikut ini!

Dilansir dari Tribunnews, Prapto Yuono, Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, mengutarakan bahwa tradisi makan nasi liwet ini sudah dimulai sejak pengaruh agama Islam masuk ke Jawa. Lebih spesifik lagi, kegiatan liwetan ini memang awalnya terjadi di hampir semua lingkungan pesantren pada kala itu. 

Selain tumbuh dari kalangan pesantren, nasi liwet yang merupakan produk asli pribumi yang memang tidak pernah lepas dari tradisi Jawa dan hubungannya dengan Islam. Contohnya pada setiap bulan Mulud atau peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, masyarakat Jawa memang rutin menggelar upacara selametan atau 'kenduri'. Upacara tersebut digelar untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. Menurut cerita, kanjeng Nabi Muhammad SAW memang gemar menyantap nasi samin (nasi yang terbuat dari terigu samin). Namun karena orang Jawa tidak bisa membuat nasi samin tersebut, akhirnya dibuatlah nasi liwet yang mirip nasi samin.

Dalam Serat Centhini (1814-1823) nasi liwet hadir pada saat Pulau Jawa dilanda gempa bumi. Nasi liwet tersebut disajikan disertai dengan doa untuk memohon keselamatan. Nasi liwet ini memang sudah masuk dalam lingkungan kerajaan. Paku Buwana IX pernah memborong nasi liwet untuk dibawa pulang oleh para pengrawit keraton. Hal tersebut bertujuan untuk membantu para istri untuk tidak menyiapkan makanan lagi ketika para suami selesai bekerja di keraton. 

Namun ada perbedaan mendasar mengenai nasi liwet khas Solo dengan nasi liwet khas Sunda. Nasi liwet khas Solo memang dibuat untuk warganya sendiri yang awalnya hanya untuk konsumsi pribadi. Namun sekitar tahun 1934, nasi liwet Solo baru mulai dijual keluar. Sedangkan nasi liwet khas Sunda memang dimasak sebagai perbekalan selama bekerja di ladang dari pagi hingga sore. Untuk menjaga kehangatan nasi liwet tersebut, biasanya nasi liwet dibawa bersama dengan ketelnya yang bisa ditutup rapat.

Nah, itulah tadi sejarah nasi liwet yang ternyata memang berkaitan erat dengan tradisi jawa dan agama Islam. Secara rasa dan tampilan mungkin rasa antara nasi liwet Solo dengan nasi liwet Sunda tidak menemukan perbedaan yang berarti. Hanya fungsionalnya saja yang berbeda. Nah, kalau sudah tau mengenai sejarah nasi liwet ini, kapan kita bisa liwetan bareng?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
SHARES