Moko, Benda Purbakala yang Dilestarikan Masyarakat Alor Ini Jadi Bukti Kalau Indonesia Keren!

18 November 2017
|Meidiana
0SHARES

Dari Sabang sampai Merauke, begitu banyak ragam budaya dan jejak peninggalan yang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Salah satu jejak peninggalan tersebut adalah Moko, benda purbakala yang hingga kini masih menjadi benda penting yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi masyarakat Pulau Alor, NTT. Memangnya sepenting apa sih keberadaan Moko bagi masyarakat Alor? Yuk, cari tau lebih lanjut.  

Moko biasa juga disebut sebagai nekara perunggu (semacam gendang), benda purbakala peninggalan budaya zaman pra-sejarah yang diperkirakan dibuat pada Zaman Perunggu. Menurut para ahli, Moko yang terdapat di Alor ini dibuat dengan menggunakan teknologi perunggu dari Vietnam bagian Utara, tepatnya Dongson. Teknologi pembuatan Moko ini kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Asia Tenggara, termasuk Pulau Alor, melalui jalur perdagangan. Bentuk Moko seperti drum berdiameter 40—60 cm dan tinggi 80—100 cm dengan bentuk dan pola hiasan yang beragam. Benar-benar karya seni klasik yang cantik dan unik.

Pada zaman dulu, Moko biasanya digunakan saat upacara adat dan berbagai acara kesenian, sebagai alat musik tradisional. Misalnya untuk mengiringi tarian tradisional Lego-Lego. Fungsi lain benda purbakala ini adalah sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor yang pada waktu itu masih dengan cara barter. Dalam perkembangannya, Moko berubah fungsi, yaitu sebagai mas kawin dan simbol status sosial. Kedua fungsi Moko itu sampai kini masih hidup dalam tradisi turun-temurun masyarakat Alor, terutama masyarakat suku Abui.

Secara adat, di sana kaum pria harus memberikan Moko sebagai syarat pernikahan kepada keluarga gadis yang ingin dipinang.  Walaupun Alor memiliki banyak Moko, bahkan sampai dijuluki sebagai Negeri 1000 Moko, tidaklah mudah untuk mendapatkannya karena Moko tidak diproduksi lagi sehingga hanya mengandalkan  Moko yang sudah ada. Nah, kalau benar-benar tidak bisa mendapatkan Moko, mereka bisa pinjam dari tokoh adat, dengan harga yang juga tidak murah tentunya. Sebagai simbol status sosial, kepemilikan jumlah dan jenis Moko tertentu menentukan seberapa tinggi status sosial seseorang. Bahkan, kepemilikan Moko juga berpengaruh dalam tingkatan kepemimpinan tradisional.

Luar biasa ya, masyarakat Alor masih sangat menghargai benda purbakala peninggalan masa lalu dan bahkan menjadikannya sebagai bagian penting dari tradisinya hingga kini. Buat kamu yang suatu ketika nanti berkunjung ke Pulau Alor dan penasaran dengan wujud nyata Moko, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Museum 1000 Moko di Kota Kalabahi, ya.

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Meidiana
"Bahagia bersama senandika."
0SHARES