Miris, Seni Pertunjukan Tradisional Ini Semakin Langka Karena Tak Dianggap Kekinian

08 Oktober 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Beberapa puluh tahun yang lalu, di negara kita masih diramaikan dengan seni pertunjukan tradisional dari setiap daerah. Bukan hanya Jawa saja sebagai pusatnya, daerah-daerah lain pun turut menunjukkan eksistensinya melalui seni pertunjukan. Saat itu, hiburan tak hanya ada di televisi, radio, maupun media cetak. Ada pertunjukan lain yang sifatnya secara langsung.

Beda dengan sekarang. Generasi sudah berubah, modernisasi juga menjadi pemicunya. Tak lagi banyak ditemukan seni pertunjukan di balai-balai warga maupun instansi kesenian tiap daerah. Kalaupun ada, bisa dihitung jari jumlahnya. Ditambah dengan minat generasi muda yang kini lebih memilih menonton sesuatu yang sifatnya modern dan global karena terpaku dengan istilah “kekinian”.

Kali ini, YuKepo mau bahas mengenai beberapa seni pertunjukan tradisional yang sudah jarang ditemukan baik di balai warga maupun di instansi kesenian. Penasaran seni pertunjukan apa saja? Yuk, kepoin bareng YuKepo!

1. Ludruk

Ludruk merupakan seni pertunjuan dari Jawa Timur. Ludruk biasanya ditampilkan di acara pernikahan atau pagelaran seni lainnya. Biasanya, lakon yang dibawakan bertemakan hal kerakyatan. Contohnya seperti kehidupan sehari-hari, isu lokal, maupun guyonan masyarakat yang sudah mengakar di kehidupan sehari-hari.

2. Ketoprak

Seni pertunjukan ketoprak pertama kali dipentaskan pada tahun 1909 di Jawa Tengah. Pada awalnya, seni pertunjukan ini hanya digelar pada saat bulan purnama. Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan pesat terjadi pada pertunjukan ini hingga kemudian diangkat ke panggung yang dilengkapi dengan musik. 

3. Dulmuluk

Seni pertunjukan ini berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Nama dulmuluk sendiri merupakan sebuah gabungan dari hikayat Abdoel Moeloek. Seni pertunjukan ini menampilkan perpaduan tarian, nyanyian, dan seni drama sehingga menghasilkan penampilan yang apik. Tak jarang juga dialog-dialog humor diselipkan pada saat pementasan sehingga mengundang banyak tawa dari penonton.

4. Lenong

Lenong merupakan seni pertunjukan teater Betawi yang semakin sulit ditemukan keberadaannya. Dulunya, lenong sering muncul di acara-acara hajatan maupun televisi lokal. Awalnya, lenong terbagi menjadi dua jenis, yakni lenong raja dan lenong dengan lakon rakyat jelata. Kini, keberadaannya semakin sulit untuk ditemui.

5. Arja

Seni pertunjukan ini berasal dari Bali dan sudah hidup sejak tahun 1820-an di bawah kepemimpinan Raja Klungkung. Namun, Arja ini baru benar-benar berkembang pada abad ke-20 saat hadirnya Arja Muani. Saat itu, semua pemain Arja diubah menjadi pria walaupun melakonkan tokoh wanita. 

Walaupun tradisional, seni pertunjukan di atas seharusnya bisa semakin berkembang di era modernisasi seperti sekarang ini, bukannya malah terkubur karena gerusan zaman. Setuju gak kamu kalau seni pertunjukan di atas bangkit lagi?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES