Metromini dan Kopaja, Raja Jalanan Jakarta yang Sedang Sekarat

23 Oktober 2017
|Mohammad Syahrial
0SHARES

Buat kamu yang tinggal di Jakarta atau yang pernah ke Jakarta, pasti tau dong sama dua bus legendaris yang udah malang melintang di jalanan Jakarta? Metromini dan Kopaja, dua bus kawakan yang sempat menguasai jalanan Jakarta. Kalau generasi-generasi lama sih pasti banyak yang udah pernah menumpang ke dua bus ini, tapi kalau generasi milenial kayaknya udah jarang banget yang mau naik dua bus yang sering ugal-ugalan di jalan ini. Apalagi sekarang udah ada transportasi umum online yang jauh lebih nyaman dan aman ya pasti pada berpaling. Tapi, gak apa-apa seenggaknya kalian masih hidup di zaman Metromini dan Kopaja yang dengan segala sisa-sisa keanggunannya masih menghiasi jalanan Ibu kota. Dengan segala hormat bagi dua bus yang pernah mengantarkan segala kepentingan ke tujuannya, YuKepo akan tentang membahas Metromini dan Kopaja, mulai dari sejarahnya hingga kondisinya kini. Penasaran? Yuk, langsung aja kepoin!

Keberadaan metromini di Jakarta pada awalnya berkaitan dengan Pesta Olahraga Negara-negara Berkembang atau Games of the New Emerging Force (GANEFO) yang digagas oleh Presiden Soekarno pada tahun 1962. Ketika itu alat transportasi di Jakarta masih didominasi oleh angkutannya Bang Mandra, oplet, dan beberapa bus besar. Dalam rangka persiapan penyelenggaran GANEFO, Presiden Soekarno meminta Wali Kota Jakarta, Sumarno, agar menyediakan lebih banyak kendaraan untuk mengangkut atlet dari berbagai negara yang akan bertanding di GANEFO. Setelah GANEFO selesai, Metromini -yang pada saat itu disebut bus merah- mulai beredar di jalanan ibu kota meski tanpa manajemen. Baru pada masa Ali Sadikin, sekitar tahun 1976, dibentuklah PT Metromini untuk menaungi bus-bus tersebut. 

Metromini dan Kopaja pernah jadi alat transportasi yang nge-trend juga, lho, guys. Tahun 1980-an sampai tahun 1990-an adalah masa kejayaan Metromini dan Kopaja. Ketika itu, penumpang Metromini dan Kopaja masih sangat banyak. Mereka rela berdesakan, berdiri, dan bergelantungan. Para supir Metromini dan Kopaja pun mendapatkan penghasilan yang terhitung banyak setiap harinya. Sekitar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu dengan mudah bisa mereka dapatkan dari para penumpang.

Dari dulu sampai sekarang, Metromini dan Kopaja emang udah terkenal banget tukang ugal-ugalan! Suka ngebut, nyalip sana sini, ngerem mendadak, macem-macem deh tingkah para supirnya. Para supir Metromini dan Kopaja ini setiap harinya dikejar setoran. Belum lagi penghasilan tambahan di luar setoran yang harus mereka dapatkan sebagai upah mereka. Nah, makanya mereka langsung tancap gas, balapan sama kendaraan-kendaraan lain buat dapetin penumpang sebanyak-banyaknya. Gak jarang nih guys supir-supir Metromini dan Kopaja ditilang polisi karena ugal-ugalan dan kadang ada juga karena supir nakal yang gak punya SIM. Eits, tapi gak semua Metromini dan Kopaja ini suka sembarangan, ya. Ada juga kok Metromini dan Kopaja yang kalem dan tetap hati-hati.

Saat ini popularitas Metromini dan Kopaja sudah menurun drastis. Adanya transportasi berbasis online membuat para penumpang beralih ke transportasi yang lebih mudah diakses itu. Ditambah lagi adanya TransJakarta yang terus diperbarui dan diperbanyak hingga bisa melayani warga Jakarta selama 24 jam. Metromini dan Kopaja saat ini dianggap sebagai transportasi yang sudah uzur dan sudah sangat sepi penumpang. Banyaknya Metromini dan Kopaja yang kondisinya sudah tidak layak beroperasi juga membuat para pengguna transportasi umum semakin enggan memakai jasa kedua bus ini. Otomatis pendapatan para supir Metromini dan Kopaja pun semakin anjlok.

Sebagai solusi dari masalah-masalah Metromini dan Kopaja, pemerintahan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama mengajukan program “layanan transportasi publik terintegrasi” yang menawarkan Metromini dan Kopaja untuk bergabung dengan TransJakarta. Beberapa Kopaja akhirnya ikut bergabung dengan program tersebut. Sebaliknya, Metromini memilih tidak bergabung dan pada tahun 2015, supir Metromini menggelar aksi mogok dan protes karena Dinas Perhubungan DKI Jakarta melakukan razia dan menahan Metromini yang sudah reyot dan tua. Selain itu, Pemprov Jakarta juga sudah mulai mengurangi armada Metromini dan Kopaja. Beberapa di antaranya ada yang sudah diremajakan dan bergabung dengan TransJakarta.

Walaupun sampai saat ini Metromini dan Kopaja masih dijadikan sandaran hidup para supirnya, namun rencananya Metromini dan Kopaja akan dimusnahkan pada 2018 nanti. Sesuai dengan Peraturan Daerah No. 5 tahun 2014 tentang transportasi, kendaraan umum berlaku maksimal 10 tahun, sedangkan Metromini dan Kopaja umumnya sudah lebih dari 15 tahun. Selagi menunggu peremajaan, kemudian bergabung dengan TransJakarta, Pemprov Jakarta masih memberikan kelonggaran pada supir-supir Metromini dan Kopaja. Tahun depan, Metromini dan Kopaja tinggal kenangan.

Nah, itu dia pembahasan mengenai Metromini dan Kopaja, raja jalanan Jakarta yang kini sedang sekarat. Mudah-mudahan dua bus ini masih tetap ada dengan segala perbaikannya sehingga mampu berjaya seperti sedia kala menggerus panasnya aspal ibu kota. Jayalah Metromini dan Kopaja!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Mohammad Syahrial
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES