Menilik Tradisi Tato Keren Milik 3 Suku Asli Indonesia yang Bikin Takjub

18 Juli 2017
|Chandra W.
0SHARES

Apakah kamu merasa takut atau cemas ketika berpapasan dengan orang bertato? Mengapa? Mungkin karena stereotip masyarakat tentang orang bertato di Indonesia dikaitkan dengan citra orang jahat. Jika kita memerhatikan film atau sinetron televisi, tokoh atau karakter yang bertato umumnya adalah penculik, preman, atau orang jahat lainnya.Padahal banyak orang yang tubuhnya dirajah sebagai ekspresi seni. Itu berlaku di masyarakat modern. Tato menjadi semacam bentuk aktualisasi diri seseorang. Jika kita melihat ke masa lalu, tato sebenarnya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi beberapa suku di Indonesia, yaitu Suku Mentawai di Sumatera Barat, Suku Dayak di Kalimantan dan Suku Moi di Sorong, Papua Barat. Apa arti rajah bagi suku-suku asli Indonesia tersebut?

Pertama, Suku Mentawai di Sumatera Barat. Rajah dalam bahasa mereka adalah "titi" dan orang yang bisa menato disebut sipatiti atau sipaniti. Keindahan dan keseimbangan dilambangkan dalam tato Suku Mentawai. Motifnya pun disesuaikan dengan profesi dan status sosial. Misalkan pada pemburu, motifnya bisa berupa hewan buruan seperti rusa, babi, atau burung. Berbeda dengan ketua adat dan profesi lainnya. Selain motif sesuai profesi, tato Suku Mentawai juga bergambar batu, tempat sagu, serta hewan dan tumbuhan.

Suku Mentawai membuat rajah dengan menggunakan jarum yang dibentuk dari tulang hewan atau kayu yang diruncingkan. Pewarnanya terbuat dari campuran tebu dan arang. Jarum dipukul-pukulkan ke kulit sampai terbentuk garis-garis yang nantinya menjadi gambar utuh. Proses menato tubuh untuk Suku Mentawai juga tidak mudah, harus melalui serangkaian upacara dan ritual.Tidak semua anggota suku mampu melakukannya karena berkaitan dengan kemampuan menyelenggarakan pesta dengan menyembelih babi atau ayam. Orang yang telah selesai dirajah juga harus memberikan imbalan kepada sipatiti berupa seekor babi atau beberapa ekor ayam.

Kedua, Suku Dayak di Kalimantan. Dalam bahasa mereka, rajah disebut "tutang" dan setiap motif tutang memiliki arti berbeda satu sama lain. Bagi Suku Dayak, rajah adalah penerang jalan menuju alam keabadian. Kabarnya, tinta berwarna hitam akan berubah menjadi emas.Selain menjadi penerang, rajah bagi Suku Dayak juga diartikan sebagai penjaga pemiliknya dari roh jahat. Bagi wanita, rajah menandakan ia sudah siap menikah. Motif rajah Suku Dayak terinspirasi dari alam. Ada burung enggang yang mewakili dunia atas, tali nyawa pada katak yang mewakili dunia bawah, dan motif biasa seperti bunga terong, cabang pohon, dan lain-lain. Letaknya juga bervariasi dan menentukan fungsinya. Di leher berarti melindungi orang Dayak dari serangan senjata tajam di bagian tersebut.

Tato Suku Dayak dibuat dengan menggunakan duri pohon jeruk yang tajam dan panjang meskipun sekarang sudah ada beberapa yang menggunakan jarum. Tintanya menggunakan jelaga hitam pekat. Cara menatonya adalah dengan mencacah kulit dengan mata jarum yang dipukul dengan kayu ulin sebesar jari sampai mengeluarkan darah. Waktu untuk membuat tato ini bisa mencapai dua tahun. Seperti halnya Suku Mentawai, di Suku Dayak juga harus ada upacara adat terlebih dahulu sebelum tato dibuat, yaitu upacara tiwah.

Terakhir, Suku Moi di Sorong. Berbeda dengan dua suku yang sudah dibahas sebelumnya, motif rajah yang digambar oleh Suku Moi sebagian besar berupa gambar geometris di dada, pipi, punggung, dan juga betis. Kabarnya, tradisi rajah Suku Moi telah dimulai sejak zaman neolitikum. Sayangnya saat ini karena di sana sudah terkena modernisasi, tradisi tato ini dianggap kuno dan perlahan-lahan mulai ditinggalkan.

Jadi sebenarnya tato itu sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Hanya karena seseorang bertato bukan berarti dia orang jahat. Siapa tahu dia anggota atau keturunan salah satu suku yang tersebut di atas? Tradisi tato ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya kaya sumber daya alam, tapi juga kaya budaya. Tinggal kita mau menjaganya atau tidak.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
0SHARES