Menengok Perpaduan Budaya yang Ada di Kota Lumpia

03 November 2017
|Meidiana
0SHARES

Berbeda, berpadu, satu. Mungkin itu salah satu ungkapan yang bisa menggambarkan Semarang, sebuah kota multikultur yang keharmonisan dalam perbedaannya masih tetap terjaga hingga kini. Berbagai hasil akulturasi budaya yang masih anggun mewujud dan mewarnai ibu kota Jawa Tengah ini. Kota multikultur yang top banget pokoknya. Biar makin top, kita tengok yuk apa aja bukti kerennya wujud akulturasi budaya di Kota Semarang yang masih dapat kita saksikan sampai sekarang.

1. Warak Ngendog: lambang persatuan Kota ATLAS yang multietnik

Kalau kamu jalan-jalan ke Taman Pandanaran, kamu bakal nemu patung Warak Ngendog. Patung unik satu ini ada filosofinya, lho, tidak cuma buat indah-indah taman atau buat foto-foto doang. Warak Ngendog berasal dari kata warai (bahasa Arab) yang berarti ‘suci’ dan ngendog (bahasa Jawa) yang berarti ‘bertelur’, yang jika digabungkan jadi bermakna menelurkan kesucian/kebaikan. Dulu pertama kali diperkenalkan oleh Sultan Pandanaran dan kemudian dijadikan sebagai maskot Kota Semarang. Patung ini berupa hewan mitologi yang memiliki kepala seperti naga, badan seperti unta, dan kaki seperti kambing. Nah, naga melambangkan etnik Tionghoa, unta melambangkan etnik Arab, dan kambing melambangkan etnik Jawa. Ya, tiga etnik utama yang hidup menyatu di kota dengan semboyan Kota ATLAS (aman, tertib, lancar, asri, dan sehat) ini.

2. Lumpia: Kudapan lezat khas Kota Semarang

Rasanya kok nggak lengkap ya kalau ngomongin Kota Semarang tanpa ngomongin lumpianya. Yakin deh, nggak ada yang nggak suka lumpia, apalagi lumpia khas Semarang. Eh bentar, yang bener apa sih? Lumpia atau Lunpia? Gini nih, dulu nama awalnya itu loen pia atau lunpia, tapi kemudian populernya jadi lumpia karena pengaruh lidah orang kita. Jadi, ya keduanya sah-sah aja sih. Menurut informasi, lumpia diciptakan pertama kali oleh pasangan Tjoa Thay Yoe, orang Tionghoa yang menetap di Semarang, dan Wasih pada tahun 1800. Mereka sebelumnya juga menjual lumpia, hanya saja beda rasa dan isinya. Setelah menikah, mereka meracik lumpia dengan perpaduan rasa Tionghoa dan Jawa. Makin ke sini jadilah lumpia khas Semarang yang sekarang ini. Hebat ya. Bahkan, makanan khasnya juga merupakan hasil akulturasi budaya.

3. Kota dengan beragam agama yang saling berdampingan

Selain keberagaman etnik, keberagaman agama juga mewarnai Kota Semarang. Keberagamanan agama ini tidak lepas dari kedatangan bangsa Tionghoa, Arab, dan Eropa ke Kota Semarang pada zaman dulu. Alhasil, di kota ini banyak berdiri beragam bangunan keagamaan yang pastinya sarat akan nilai sejarah yang tinggi. Bangunan-bangunannya pun unik dan monumental, sebut saja Kelenteng Sam Poo Kong di Simongan, Vihara Buddhagaya Watugong di Banyumanik, Masjid Layur di Kampung Melayu, dan Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama. Berbagai bangunan keagamaan tersebut makin spektakuler karena arsitekturnya merupakan akulturasi dari berbagai agama dan budaya yang ada.

4. Little Netherland: Kota Lama Semarang yang bergaya Eropa-sentris

Kalau kamu ingin jalan-jalan ke kawasan yang bernuansa tempo dulu, Kota Lama Semarang jawabannya. Di kawasan seluas 31 hektare ini, kamu bakal melihat kompleks bangunan dan ornamen bergaya arsitektur Eropa lama, khususnya Belanda. Kawasan yang dibangun Belanda pada tahun 1800-an ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia pada masa penjajahan kolonial Belanda. Kota Lama Semarang ini tampak seperti kota tersendiri karena agak terpisah dengan daerah sekitarnya sehingga dijuluki sebagai "Little Netherland". Keberadaan Little Netherland sudah barang tentu tidak lepas dari keberadaan Belanda yang membawa pengaruh budaya terhadap aspek arsitektur Kota Semarang kala itu.

5. Kota dengan beragam festival dan karnaval budaya yang tak ada matinya

Keberagaman etnik dan agama sudah barang tentu menciptakan keberagaman budaya masyarakatnya. Setiap tahunnya, beragam festival dan karnaval budaya diselenggarakan di Kota Lumpia. Beberapa di antaranya adalah Dugderan (festival untuk menyambut bulan Ramadan), Pasar Imlek Semawis, Arak-Arakan Sam Poo (perayaan untuk memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Semarang), Festival Ogoh-Ogoh (perayaan untuk memperingati hari raya Nyepi), dan Festival Paskah. Nggak pernah sepi hiburan pokoknya kalau liburan ke Semarang mah.

Luar biasa sekali kan keberagaman yang ada di Kota Semarang? Walaupun beragam etnik, adat, agama, dan budaya, penduduk Kota Semarang tetap bisa bersatu dan saling hidup berdampingan sampai sekarang. Lagian kalau tidak beragam, nggak mungkin juga deh ada bukti-bukti hasil akulturasi budaya yang begitu menakjubkan. Kota Semarang memang wujud nyata dari “berbeda-beda, tetapi tetap satu jua”. Salut! Harus kita contoh ya jiwa toleransi luar biasa penduduknya agar Indonesia tetap “satu” sampai kapan pun juga.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Meidiana
"Bahagia bersama senandika."
0SHARES