Masyarakat Bugis Ternyata Punya Kitab Kamasutranya Sendiri Lho, Namanya Assikalaibineng. Sudah Baca?

05 Maret 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
71SHARES

Setiap pasangan tentu mendambakan datangnya hari pernikahan. Sebagai tujuan akhir dalam sebuah hubungan, pernikahan menjadi simbol ikatan cinta yang abadi. Meski begitu, untuk dapat sampai ke jenjang tersebut tidaklah mudah. Pun jika kedua pihak telah direstui, masih ada beberapa hal yang harus diketahui oleh para pasangan. Di beberapa daerah yang ada di Indonesia, para tetua kerap kali memberi wejangan tentang apa yang harus dilakukan oleh pasangan baru setelah resmi menikah, terutama ketika malam pertama tiba.

Seorang filolog dari Universitas Hasanudin Makassar bernama Muhlis Hadrawi mengatakan jika di dalam ikatan pernikahan budaya bugis, perempuan harus mendapatkan perlakuan yang spesial dari pasangannya. Filolog yang juga penulis buku Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis ini menyatakan bahwa sedari dulu di kebudayaan Bugis, perempuan merupakan simbol kewibawaan dari para lelaki yang harus mendapat perhatian lebih. Hal itu tak terlepas dari statusnya sebagai makhluk yang mulia.

Muhlis telah mengumpulkan lebih kurang 49 manuskrip kerajaan dan catatan lontar dari Makassar dan Bugis perihal seksualitas sejak tahun 1997 untuk dapat menulis buku Assikalaibineng. Meski dapat disebut sebagai salah satu kitab kamasutra, namun konten yang termuat dalam Assikalaibineng tidak melulu berbau erotis. Di dalamnya juga terdapat penekanan terhadap pentingnya tata cara dalam memperlakukan pasangan yang berlandaskan rasa saling menghargai.

Kitab ini ia buat sebagai bentuk pegangan untuk para lelaki. Dengan membaca kitab ini, diharapkan para lelaki dapat memperlakukan serta membahagiakan pasangannya. Dalam buku ini, sosok perempuan pun diceritakan lebih detil, bahkan hingga bagian tubuh yang tersembunyi. Bila di dalam Serat Centini milik masyarakat Jawa klitoris hanya disebut satu kali, di Assikalaibineng penyebutan klitoris dilakukan secara mendalam, bahkan hingga empat bagian.

Masyarakat Bugis pun tidak membenarkan jika seorang lelaki memunggungi pasangannya atau pergi ke kamar yang lain usai berhubungan badan. Lelaki tersebut harus tidur bersama dengan pasangannya sambil berpelukan.

Meski Assikalaibineng adalah sebuah kitab ‘kamasutra', namun kontennya dibuat dengan berlandaskan hukum Islam. Misalnya, ketika ingin berhubungan badan, pengantin diwajibkan untuk membaca basmallah terlebih dahulu dan juga berwudhu. Muhlis pun mengatakan bahwa waktu setelah isya adalah waktu yang tepat untuk para pasangan pengantin yang ingin melakukan hubungan badan. Selain jarak dengan waktu subuh yang jauh, para pengantin pun tidak akan merusak wudhu mereka.

Terdapat beberapa lembar lontara yang berisikan larangan pernikahan dengan sesama jenis dari lontara yang telah ia kumpulkan. Mereka yang melakukan tindakan tersebut akan mendapat hukuman berupa pengusiran keluar kampung atau bahkan diarak ke lautan lepas, kemudian ditenggelamkan.

Berdasarkan catatan sejarah, sanksi pengusiran pun diberlakukan bagi mereka yang hanya memburu kepuasan. Raja Bone La Icca pernah merasakan sanksi tersebut. Diriwayatkan dalam lontara, sang raja kerap memuaskan nafsu seksnya dengan merebut istri dari rakyatnya. Tentu saja tindakan sang raja menimbulkan kemarahan rakyat sehingga ia pun dibunuh dengan cara ditumbuk tubuhnya hingga mati. Ia kemudian diberi gelar oleh rakyatnya sebagai “Anumerta La Icca Matinroe ri Adengenna”yang artinya 'raja yang tidur di bawah tangga’.

Hmm, menarik juga ya kamasutra dengan kearifan lokal ini. Kehidupan seks memang seringkali dianggap sebagai sesuatu yang tabu bagi masyarakat kita yang budayanya ketimuran. Akan tetapi pedoman terkait kehidupan seks ini sebenarnya penting sekali lho bagi pasangan suami istri. Selain agar hubungan suami istri makin harmonis, pedoman ini juga dapat menjadi sarana edukasi seks. Masyarakat Bugis mungkin sudah berpikir jauh ke depan ya, jadi mereka membuat berbagai pedoman terkait kehidupan seks yang lantas disusun menjadi Kitab Assikalaibineng oleh Muhlis. Salut!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
71SHARES