Marak Kasus Pelecehan Seksual dalam Transportasi Umum di Indonesia, Kenapa Bisa Terjadi Ya?

www.yukepo.com

"Laki-laki adalah makhluk yang dianggap lebih superior daripada perempuan", begitu sugesti yang dimiliki oleh sebagian besar orang. Dengan perasaan superior, seseorang sebenarnya memiliki dua pilihan, yaitu untuk melindungi mereka yang dipandang inferior, atau justru menekan dan berbuat semena-mena. Salah satu buah dari superioritas gender tersebut terkadang berbuah pada berbagai tindakan pelecehan yang dianggapnya sebagai tindakan biasa. Sebut saja menggoda, bersiul, mencolek, dan sebagainya. Tindakan-tindakan tersebut jelas termasuk ke dalam pelecehan seksual. Namun dengan mindset superioritas gender yang demikian, membuat perempuan cenderung berdiam diri dan pelaku pelecehan pun semakin gencar melakukan tindakan tidak pantas tersebut. Hingga pada akhirnya pelaku pelecehan melakukan tindakan pelecehan yang lebih besar.

Pada Jumat, tanggal 8 Desember 2017 yang lalu, seorang perempuan diberitakan mendapatkan pelecehan seksual dari seorang lelaki di sebuah gerbong campur KRL Commuter Line jurusan Jakarta Kota-Bekasi saat jam pulang kerja. Seorang penumpang pun mendokumentasikan kejadian tersebut lewat video sehingga menjadi viral di media sosial. Lelaki tersebut kedapatan membuka resleting di belakang posisi korban dan tentunya membuat ia dicap sebagai pelaku tindakan asusila. Hal ini membuat para penumpang lainnya memaksa pelaku agar segera diturunkan dari dalam KRL di stasiun terdekat. Selain itu, masih banyak lagi berbagai tindakan asusila yang terjadi dalam moda transportasi umum, seperti KRL, TransJakarta, ataupun transportasi umum lainnya. Namun, mengapa hal ini terus saja terjadi? Berikut kita simak penjelasannya secara bersama-sama.

1. Sebelum berbicara lebih lanjut, ada baiknya mengingat kembali kasus pelecehan seksual lainnya dalam moda transportasi umum

www.youtube.com

Selain kisah seorang perempuan di gerbong campur KRL Commuter Line di atas, ada banyak lagi kasus yang serupa, namun tak sama. Beberapa waktu yang lalu, pernah viral sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan tengah tertidur lelap di kursi KRL. Di sampingnya ada seorang lelaki. Sekilas tak ada yang berbeda. Namun, jika diamati lebih lanjut, tangan dari lelaki tersebut tengah “menggerayangi” dada dari sang perempuan. Entah karena terlalu lelah hingga saking lelapnya tertidur, perempuan tersebut tidak kunjung sadar. Seorang penumpang yang sadar akan aksi pelaku langsung mendokumentasikan aksi bejat pelaku. Anehnya, penumpang tersebut bukannya langsung memberhentikan aksi tersebut dan malah mendokumentasikannya. Mungkin ia lebih ingin videonya menjadi viral, dan memang itu terjadi. 

2. Selain itu, ada kisah dari seorang perempuan penumpang bis TransJakarta bernama Septiana

www.skyscrapercity.com

Seperti yang dikutip dari laman Tirto, ia menceritakan pengalaman buruknya tersebut.

“Saya naik busway dari Kuningan Barat, desak-desakan di dalam. Walaupun sudah ambil tempat di bagian perempuan, saya masih terdesak oleh laki-laki yang berdiri di dekat bagian perbatasan kursi perempuan dan campur. Nah, di halte GOR Soemantri, banyak penumpang yang turun. Saya baru dapat cukup space untuk bersandar di dekat pintu. Di situ saya baru ngeh kalau bagian bawah baju dan celana saya basah. Pas saya pegang, saya tahu kalau itu sperma yang mengenai daerah pinggang saya,” ungkap Septiana.

3. Lalu, kenapa hal semacam ini terus saja terjadi?

celebesnews.id

Hal ini berkaitan dengan aspek sosio-psikologi dari para pelaku yang memandang bahwa dirinya superior dibandingkan dengan perempuan. Dengan begitu, mereka lantas tidak akan merasa bersalah dengan tindakan yang telah dilakukannya. Terlebih jika mereka berada dalam lingkungan yang serupa. 

4. Adanya normalisasi pelecehan seksual
www.harapanrakyat.com

Apa yang dimaksud dengan normalisasi pelecehan seksual? Maksudnya adalah para pelaku cenderung menganggap tindakan yang dilakukannya, seperti menggoda secara verbal, bersiul, hingga mengucapkan berbagai macam lelucon porno adalah tindakan yang normal. Hal tersebut mendorong para pelaku pelecehan seksual untuk bertindak lebih ekstrem lagi.

Para pelaku pun cenderung menyalahkan perempuan akibat pelecehan yang dilakukannya seperti menggunakan pakaian yang terlampau seksi ataupun gestur-gestur menggoda yang sebenarnya tidak benar-benar dilakukan oleh para korban. Dalam dunia psikologi, hal yang demikian disebut sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri dengan menghindari penyalahan atas perilaku yang telah dibuat. Normalisasi semacam ini dapat didukung oleh mereka yang hidup dengan berpegangan pada budaya patriarki.

5. Pengacara konservatif dari Mesir pun pernah mendapat sanksi atas ucapannya berkaitan dengan normalisasi pelecehan seksual
www.journalpost.com

Di Mesir, seorang pengacara bernama Nabih al-Wahsh pernah mendapatkan sanksi atas ucapan yang dilontarkannya kepada para perempuan yang menggunakan celana jeans dengan model sobek.

“…Adalah hal yang patriotik untuk melecehkan perempuan yang mengenakan jeans sobek dan bahkan adalah kewajiban bagi bangsa untuk memerkosanya,” ujar al-Wahsh seperti yang dikutip dari laman BBC.

6. Pelecehan seksual juga bisa terjadi karena berbagai tekanan yang menimpa pelaku

www.medicaldaily.com

Dalam perkembangannya, pelecehan seksual juga dapat disebabkan adanya berbagai tekanan yang menimpa pelaku yang bersumber dari berbagai macam permasalahan. Seperti persoalan komunikasi dengan orang lain, kehidupan sosial yang terisolasi, masalah intim pelaku dengan pasangan atau orang terdekatnya, serta masalah dengan anggota keluarganya. Hal ini lantas membuat para pelaku melampiaskannya dengan berbagai tindakan agresif untuk dapat menumpahkan emosinya tersebut.

7. Di Mesir sendiri, pemisahan gerbong kereta menimbulkan sejumlah polemik

www.youtube.com

Pemisahan gerbong seperti sekarang ini memang bertujuan baik, yakni melindungi perempuan dari berbagai tindakan yang tidak menyenangkan semacam pelecehan seksual. Namun, menurut penuturan Rebecca Chiao, penggagas Harassmap –yakni semacam organisasi yang menyuarakan kampanye anti pelecehan seksual di Mesir-, pemisahan gerbong kereta dapat menciptakan atmosfer di mana para perempuan yang berada di gerbong campur seakan-akan memang ingin dilecehkan. 

Dengan berbagai faktor yang ada, sudah sepantasnya jika, baik laki-laki maupun perempuan, untuk selalu berhati-hati dan menjaga sikap serta diri dimanapun mereka berada. Hal ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti kata Bang Napi, kejahatan terjadi tidak hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Jadi, ladies, jangan beri kesempatan ya. Kalau ada yang melakukan tindakan asusila atau mengganggu keamananmu, segera lakukan tindakan perlawanan sebisa mungkin. Dan bagi pihak pelaku pelecehan, belajarlah untuk tidak memenuhi dorongan nafsu yang merugikan orang lain, dan amati kondisi sosio-psikologismu sehingga dapat menyelesaikan persoalan dari akarnya.

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
Industri Film Indonesia Semakin Membanggakan, 3 Film Ini Berhasil Go Internasional Tahun Ini!

Industri Film Indonesia Semakin Membanggakan, 3 Film Ini Berhasil Go Internasional Tahun Ini!

10 Band Indonesia Hits Tahun 2000-an yang Bikin Kangen Nostalgia. Mana Favoritmu?

10 Band Indonesia Hits Tahun 2000-an yang Bikin Kangen Nostalgia. Mana Favoritmu?

7 Ramalan Jayabaya yang Menjadi Kenyataan Ini Bikin Bulu Kuduk Merinding

7 Ramalan Jayabaya yang Menjadi Kenyataan Ini Bikin Bulu Kuduk Merinding

Tampil Telanjang Dada Menjadi Bukti Kejujuran Perempuan Bali di Masa Lampau. Kok Bisa?

Tampil Telanjang Dada Menjadi Bukti Kejujuran Perempuan Bali di Masa Lampau. Kok Bisa?

Indonesia Menolak Lupa! Apa yang Dilakukan Soeharto Saat Malam Terjadinya Peristiwa G30S/PKI?

Indonesia Menolak Lupa! Apa yang Dilakukan Soeharto Saat Malam Terjadinya Peristiwa G30S/PKI?

Dari Mana Asal Usul Istilah Pedagang Kaki Lima? Ternyata Berawal dari Kesalahan Ini!

Dari Mana Asal Usul Istilah Pedagang Kaki Lima? Ternyata Berawal dari Kesalahan Ini!

loading