Kusni Kasdut, Disebut Pejuang Tapi Jadi Perampok dan Dihukum Mati

22 September 2017
|Pandu Rijal Pasa
0SHARES

Mungkin bagi remaja zaman sekarang tidak banyak yang tahu tentang nama ini. Namun, selama era 70-an, nama Kusni Kasdut menjadi buah bibir hampir di segala kalangan. Pria legendaris dengan kaki kirinya yang timpang ini masuk ke dunia hitam setelah sempat menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia. Ya, pada masa-masa Indonesia sedang berjuang dalam masa revolusi kemerdekaan, ia sebagai anggota Laskar Rakyat turut membantu bahu-membahu bersama TNI untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah masa revolusi kemerdekaan usai, justru Kusni dihinggapi kebingungan terhadap apa yang akan ia lakukan. Niatnya bergabung secara resmi dengan TNI ternyata ditolak. Oleh karena itu, di tengah himpitan ekonomi yang menimpa dirinya, Kusni terpaksa menghidupi keluarga berupa anak dan istrinya melalui hasil merampok.

Pria asal Blitar ini sebenarnya memiliki nama asli Waluyo. Ia dihukum mati atas sejumlah kejahatan yang dibuatnya, seperti menembak mati seorang polisi di Semarang, lalu membunuh saudagar kaya yang berasal dari Arab, merampok empat artefak di Museum Gajah, serta sebelas permata di Monas. Semua perbuatan jahatnya ini ia lakukan usai bergabung dengan Bir Ali yang merupakan suami dari penyanyi Ellya Khadam. Hanya dengan menggunakan sebuah pistol, secara kejam ia membunuh dan merampok saudagar kaya asal Arab bernama Ali Badjened dari mobil jeep yang dikemudikannya.

Kamu perlu tahu bahwa Kusni adalah penjahat "antik" di mana ia merampok barang-barang antik dan tidak segan-segan untuk membunuh korbannya sebagai langkah untuk meninggalkan jejak. Uniknya, pria dengan tubuh kurus ini sering dijuluki sebagai Robin Hood Indonesia karena hasil dari rampokannya yang ia bagikan kepada orang miskin. Selain itu, ia juga berhasil kabur dari penjara sebanyak tujuh kali yang membuktikan bahwa ia memiliki tubuh yang gesit dan akal yang cerdik.

Ia divonis dengan hukuman mati pada 16 Februari 1980 atas sejumlah kejahatan yang dilakukannya. Menjelang eksekusi hukuman matinya, ia meminta untuk dipertemukan dengan seorang pemuka agama Katolik dan memutuskan untuk menjadi pengikut setia dari agama Katolik. Pendeta itu pun membaptisnya saat itu juga dan akhirnya memberikan nama baptis kepadanya sehingga sebelum eksekusi namanya berubah menjadi Ignatius Kusni Kasdut.

Saat ini, kamu bisa melihat bentuk penyesalannya di sebuah lukisan yang terbuat dari batang pohon pisang yang terpajang di dinding Gereja Katedral, Jaarta Pusat. Lukisan yang berisi gambar gereja itu sendiri lengkap dengan menara serta arsitektur bangunan yang unik. Ia juga membuat sebuah puisi yang berjudul "Haru Biru" sebagai lambang rasa sesal atas apa yang diperbuat selama hidupnya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Pandu Rijal Pasa
"Be The Best Version of You"
0SHARES