Kisruh Puisi Sukmawati yang Dianggap Menistakan Agama, Karya Sastra Ini Pun Bernasib Serupa!

07 April 2018
|G Pangestu Jati
86SHARES

Beberapa hari terakhir, nama putri dari presiden pertama Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri, menjadi perbincangan publik. Puisi Sukmawati yang berjudul "Ibu Indonesia" yang dibacakan di sebuah peragaan budaya beberapa waktu lalu dianggap menistakan agama. 

Banyak pihak pun merasa geram dan melaporkan Sukmawati ke polisi. Bahkan, seperti yang diberitakan oleh CNN, Persaudaraan Alumni (PA) 212 akan menggelar Aksi Bela Islam 64 Jumat (6/4/2018) nanti. Humas PA 212, Novel Bamukmin mengatakan bahwa dari segi hukum, puisi Sukmawati lebih parah daripada yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dulu.

Tapi ternyata puisi Sukmawati bukanlah karya sastra pertama yang dianggap menistakan Islam. Berikut dua karya sastra yang juga mendapatkan tanggapan serupa. Yuk, simak!

1. Kasus Cerpen "Langit Makin Mendung"

Sebelum Puisi Sukmawati, dalam catatan Yukepo.com, pernah terjadi polemik serupa pada tahun 1970. Polemik ini dipicu oleh sebuah cerpen berjudul "Langit Makin Mendung" karya Kipandjikusmin yang diterbitkan di majalah Sastra Th. VI No. 8, Agustus 1968. Meskipun diterbitkan pada 1968, cerpen tersebut menjadi polemik pada tahun 1970. Akibatnya, redaktur Sastra dikecam dan kantor majalah itu pun dirusak massa. Pemimpin majalah tersebut, H.B. Jassin pun diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman 1 tahun penjara.

Cerpen kontroversial tersebut mengisahkan Muhammad turun ke Bumi bersama malaikat Jibril untuk menyelidiki sebab sedikitnya Muslim yang masuk surga. Mereka menemukan bahwa Muslim di Indonesia mulai melakukan hubungan seks di luar nikah, minum alkohol, berperang sesama Muslim, dan bertindak melawan ajaran-ajaran Islam. Hal ini terjadi karena mereka teracuni oleh ideologi pemerintahan Soekarno yang menggabungkan nasionalisme, agama, dan komunisme (nasakom). Karena tidak kuasa menghentikan penistaan yang terjadi, Muhammad dan Jibril hanya bisa menyaksikan manuver politik, kejahatan, dan kelaparan di Jakarta dengan menyamar sebagai elang.

2. Kontroversi The Satanic Verses

Kemudian, di mancanegara, kasus serupa juga menghadang penulis Inggris, Salman Rushdie. Sampai sekarang, novelnya yang diterbitkan pertama kali pada 1988 mendapat kecaman dari dunia. Novel berjudul The Satanic Verses atau ayat-ayat setan tersebut terinspirasi dari kisah hidup Nabi Muhammad. Dalam novel ini, sang tokoh utama yang bernama Mahound (yang kemungkinan besar merujuk pada Muhammad) diceritakan secara kilas balik paralel dengan dua tokoh utama lainnya Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha.

Di komunitas Muslim, novel ini menyebabkan kontroversi yang cukup luar biasa. Tak hanya itu, novel ini dilarang di India dan sempat menyulut kerusuhan di Pakistan pada tahun 1989. Selain itu, pemimpin spiritual dan keagamaan di Iran, Ayatollah Khomeini, memberikan hukuman mati kepada Rushdie dan mengadakan sayembara uang tiga juta dolar untuk siapa saja yang mampu membunuh Rushdie.

Tak hanya penulisnya, buku ini pun menyebabkan kejadian menyedihkan untuk para penerjemahnya. Di Jepang, penerjemahnya ditikam hingga mati. Sementara itu, di Venezuela, siapa pun yang membaca buku ini atau mengedarkannya akan dihukum 15 bulan penjara. Meski di beberapa tempat novel ini menyebabkan huru-hara, namun novel ini juga mendapat apresiasi dari beberapa kritikus sastra dunia.

Agama memang merupakan isu yang cukup sensitif sehingga mampu menimbulkan kekacauan kala institusi agung ini diusik. Meski demikian, bukan berarti kita tidak boleh mengkritisi praktik-praktik keagamaan ataupun orang-orang yang beragama. Puisi Sukmawati mungkin dapat dicerna sebagai salah satu bentuk kritik personal atau subyektifnya terhadap praktik keagamaan di Indonesia. Hanya saja, puisi Sukmawati belum mampu menyampaikannya secara baik sehingga dapat diterima dengan baik pula.

Nah, gimana menurutmu? Apakah Sukmawati dan puisinya patut dipolisikan seperti perkembangannya kini? Coba tuliskan pendapatmu di kolom komentar, ya!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
86SHARES