Kisah Asmara Soekarno dengan Noni Belanda, Lamarannya Ditolak Mentah-mentah Karena Beliau Pribumi!

30 November 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Ir. Soekarno merupakan sosok yang sangat disegani, baik untuk bangsanya sendiri maupun bangsa asing sekalipun. Pria kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 ini menjadi salah satu pelopor semangat para pemuda untuk melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Pada akhirnya, Indonesia pun merdeka tepat pada pukul 10 di tanggal 17 Agustus 1945 dengan Soekarno dan Hatta yang memproklamirkan kemerdekaan itu dengan semangat yang menggebu-gebu. Meski telah memproklamirkan kemerdekaannya, bangsa Indonesia tetap harus berjuang melawan Belanda dalam Agresi Militernya karena tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan ingin kembali menjajah bumi pertiwi tercinta.

Di balik berbagai aksi dari Presiden Pertama Republik Indonesia ini, terdapat suatu keyakinan: Soekarno adalah seorang pemuda yang tampan, intelek, dan berwibawa. Berkat ketiga hal tersebut, beliau pun dapat memberikan pengaruh yang besar untuk Indonesia dan dunia. Berkat ketampanannya pula, banyak sekali wanita yang menyukai beliau, bahkan dari kalangan noni Belanda sekalipun. 

Berbicara mengenai Soekarno dan noni Belanda, ada sebuah kisah yang cukup menggelitik. Pada usia 18 tahun, Presiden pertama Indonesia ini telah memiliki beberapa kekasih yang berasal dari kalangan noni Belanda. Sebut saja Rika Meelhuysen, Pauline Gobee, Laura, serta putri dari keluarga Raat. Nah, wanita yang paling membakar hatinya pada saat itu bernama Mien Hessels. Mungkin, saking cintanya terhadap Mien, Soekarno bahkan rela untuk mati. Ya, namanya juga lagi kasmaran. 

Singkat cerita, Soekarno pun memberanikan diri untuk menemui ayah dari Mien untuk melamar sang gadis. Namun, jawaban yang diterima olehnya sungguh sangat pahit. Dalam buku “Bung Karno Masa Muda” yang diterbitkan oleh Pustaka Yayasan Antar Kota Jakarta tahun 1978, kakak kandung dari Soekarno, Wardoyo, bercerita tentang hal tersebut.

“Kamu? Inlander kotor seperti kamu berani-beraninya mendekati anakku? Enyah kau binatang kotor!”

Begitulah jawaban dari ayah Mien Hessels seperti yang diceritakan oleh Wardoyo. Mendengar pernyataan tersebut, Soekarno pun merasa terhina, malu, dan marah hingga kebenciannya terhadap Belanda pun muncul. Ia pun terpacu untuk membuat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lainnya di dunia. Pada akhirnya, waktulah yang membuat Ia melupakan Mien.

Selang 23 tahun kemudian, yakni pada tahun 1942, Soekarno tengah berjalan-jalan di pinggir Jakarta. Namun, tiba-tiba ada seorang wanita Belanda yang berpapasan dengannya. Wanita tersebut tertawa melihat Soekarno.

“Bisakah kau tebak siapa aku?” tanyanya

Soekarno pun berusaha untuk mengingat, namun gagal. Kemudian, wanita tua tersebut berkata sambil terkekeh, “Aku Mien Hessels, wanita yang kau cintai dahulu”. Mendengar jawaban tersebut, Soekarno kaget bukan kepalang.

“Hah? Mien Hessels? Ratuku yang cantik seperti bidadari itu? Dirimu sekarang telah berubah layaknya seorang nenek sihir!” ucap Soekarno. 

Setelah menyapanya sebentar, beliau pun berlalu sembari mengucap syukur tidak berjodoh dengan Mien Hessels.

Mengetahui cerita ini, kita sebagai bangsa Indonesia harusnya merasa bersyukur juga nih. Gak kebayang gimana jadinya jika Soekarno diijinkan oleh ayah Mien untuk menikah dengan putrinya itu. Bisa-bisa Indonesia gak jadi merdeka tahun 1945 deh. Takdir memang hanya Tuhan yang tahu. 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES