Keren! Di Tangan Seniman Bali Ini, Sampah Plastik Jadi Karya Seni Ramah Lingkungan

16 Oktober 2017
|Chandra W.
10.4 KSHARES

Masalah lingkungan di Indonesia rasanya tidak akan pernah habis dan oleh karena itu selalu dibutuhkan solusi-solusi terbaru yang signifikan untuk mengembalikan alam yang bersahabat tanpa polusi air, darat maupun udara. Salah satu musuh lingkungan di darat dan laut adalah sampah plastik. Tiap hari orang-orang yang berbelanja di pasar, baik tradisional maupun yang sudah modern dengan embel-embel -mart yang tersemat di belakangnya, diberi kantong plastik oleh si penjual. Lalu ketika semua plastik itu menumpuk di rumah dan akhirnya dibuang, pemulung malas mengambilnya dibandingkan dengan kardus atau sampah lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Ajaibnya, di tangan seorang seniman bernama Made Bayak Muliana asal Bali, sampah plastik bisa diubah menjadi karya seni yang apik dalam projyek seni bertajuk 'Plasticology'.

1. Made Bayak tertarik menggunakan plastik sebagai media berkarya sejak tahun 2001 saat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Saat itu ia membuat sebuah project bertajuk 'PLASTILITICUM'. Made Bayak terinspirasi dari nama periode yang sering digunakan dalam menggambarkan suatu masa seperti Megalitikum, Palaeolitikum, dan sebagainya. Imajinasinya membawa Made ke masa depan di mana orang-orang nantinya tidak akan menemukan artefak dalam bentuk batu-batuan, melainkan plastik. Karyanya dalam Plastiliticum tidak hanya terbuat murni dari plastik tetapi juga menggunakan bahan lain seperti sampah kayu di pantai dan panci lalu dibuat menjadi karya tiga dimensi.

2. Fakta bahwa ada 100.000 meter kubik sampah plastik dibuang di Bali setiap harinya mengganggu pikiran Made Bayak.

Wajar saja ada sampah sebanyak itu setiap harinya mengingat Bali adalah destinasi wisata populer dunia. Yang tidak wajar adalah membiarkan hal itu terjadi tanpa penanggulangan yang berarti. Made Bayak yang juga merupakan seorang aktivis lingkungan sebenarnya telah banyak menyuarakan kritik tentang masalah sosial, lingkungan, hingga politik di Bali melalui lukisan-lukisannya.

3. Namun pada suatu pameran, ada pengunjung yang memberi kritik, 'memangnya karya seperti ini bisa berpengaruh apa pada masalah yang ada?''

Kritik itu seolah menjadi wake up call bagi Made Bayak. Ia lalu berpikir keras bagaimana caranya memberi solusi untuk masalah lingkungan melalui seni. Dari sinilah muncul inisiasi Plasticology yang menggabungkan kata plastic dan ecology. Dalam project ini, Made Bayak menggunakan sampah plastik sebagai media melukis. Peran kanvas digantikan oleh plastik di sini. Sejak 2010, ia telah menggelar pameran Plasticology di berbagai daerah, termasuk enam kabupaten di Bali dan sampai jauh ke Eropa.

4. Hingga saat ini, Made Bayak juga memberikan workshop kepada sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas dengan dasar pendidikan Plasticology

Ia memberikan waktunya untuk workshop di sekolah dan komunitas secara gratis. Pada kegiatan workshop, anak-anak dan anggota komunitas diajak untuk membuat karya seni berbahan dasar sampah plastik. Harapannya, setidaknya ada satu-dua orang yang kemudian akan melanjutkan pelestarian lingkungan seperti itu bahkan setelah workshop berakhir. Ia juga menargetkan menggelar pameran di sembilan wilayah di Bali, termasuk di Tampaksiring, kampung halamannya.

Dengan Plasticology, Made Bayak berhasil menjawab kritikan dari salah satu pengunjung pamerannya dulu dengan tindakan, bukan hanya dengan kata-kata. Ia pun benar-benar berkontribusi pada pelestarian lingkungan serta mengajak generasi yang lebih muda untuk turut berpartisipasi. Kamu gimana, generasi muda? Sudah berkontribusi apa untuk lingkungan?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
10.4 KSHARES