Kepulauan Banda Sempat Ditukar Dengan Pulau Manhattan Demi Buah Pala, Bangga Atau Miris?

28 November 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
376SHARES

Pada abad ke-17, rempah-rempah milik Indonesia sangat terkenal di seantero dunia, termasuk Eropa. Rempah-rempah yang paling dominan kala itu adalah buah pala. rempah ini digunakan sebagai bumbu dan juga pengawet makanan. Harganya? Jangan ditanya, bahkan lebih berharga dan bernilai daripada emas sekalipun! 

Kepulauan Banda merupakan salah satu daerah penghasil buah pala terbesar kala itu dan menjadi tempat perdagangan yang sangat favorit untuk berbagai bangsa, seperti bangsa Arab, Cina, India, dan Eropa. Keramahan dari masyarakat Banda dalam menyambut tamu yang datang ternyata membuat Belanda terdorong untuk melakukan perbuatan licik. Melihat potensi yang dimiliki oleh Banda dan buah palanya, Belanda kemudian memutuskan untuk menguasai daerah tersebut. Masyarakat Banda tentu saja tidak terima. Mereka pun melakukan perlawanan pada Belanda. Pihak kompeni yang tidak menerima perlawanan dari masyarakat Banda akhirnya membantai habis mereka. Banda beserta buah palanya pun akhirnya dikuasai oleh bangsa Belanda.

Inggris yang mendengar akan keajaiban buah pala pun tergiur untuk mengambil Banda dari Belanda. Meskipun di Eropa kedua negara ini berteman dalam mengusir bangsa Spanyol dan Portugis, namun di Asia mereka adalah kompetitor dalam berbagai bidang, termasuk rempah-rempah. Inggris pun kemudian menyusun berbagai strategi, salah satunya adalah dengan menjatuhkan jangkar dan membangun markas di Pulau Run. Mereka memilih pulau kecil tersebut karena pulau besar seperti Banda Neira dan Lontor telah dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Di sana pun telah dibangun dua belas benteng yang berdiri kokoh. Tujuannya tentu untuk mencegah bangsa lain menguasai pulau tersebut.

Perang antara Belanda dan Inggris pun akhirnya berkecamuk pada tahun 1652. Selama kurun waktu 1652-1657 mereka berdua berperang. Hingga pada tanggal 31 Juli 1667 dibentuklah sebuah traktat demi mengakhiri perang tersebut. Traktat itu pun dinamai dengan Traktat Breda. Salah satu poin dalam traktat tersebut berbunyi pihak Inggris harus meninggalkan Pulau Run, Kepulauan Banda, dan harus menyerahkan sepenuhnya pada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda akan memberikan daerah jajahan mereka yang ada di Amerika Utara, yakni Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan, New York) pada Inggris. 

Meskipun mereka menyetujui poin-poin yang terdapat dalam Traktat Breda, namun pada akhirnya Inggris tetap tergoda dan kemudian meletuslah perang lanjutan demi tujuan yang sama, yakni menguasai Banda dan buah palanya pada tahun 1672. Traktat Breda pun pada akhirnya hanya bertahan selama lima tahun. 

350 tahun berlalu. Nieuw Amsterdam yang dulu sempat ditukar dengan Banda dan palanya semakin berkembang dan menjadi salah satu kota bisnis terpenting di dunia, yaitu Manhattan. Bagaimana dengan Pulau Run, Kepulauan Banda, beserta buah palanya? Mereka tetap sama, yakni sama-sama harum bersama perjalanan sejarahnya yang panjang. Kisah ini meski di satu sisi menjadi suatu bentuk kebanggaan bahwa rempah-rempah di Kepulauan Banda begitu digemari dan dipandang sebagai harta yang berharga, namun juga menjadi pengingat akan ketidakberdayaan bangsa Indonesia yang tanahnya diperebutkan oleh bangsa asing sedemikian rupa. Jangan biarkan sejarah tersebut berulang, ya. Karena itu yuk kita bangkit agar menjadi bangsa yang besar dan tidak lagi menjadi korban ketamakan pihak-pihak tertentu!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
376SHARES