Kenalin Nih, Murtado, Sang Macan Kemayoran yang Disegani Kompeni

14 Oktober 2017
|Mohammad Syahrial
2.8 KSHARES

Kalau kamu denger julukan “Macan Kemayoran”, apa yang langsung kamu ingat? Persija? Gak salah kalau kamu langsung teringat klub sepak bola kebanggaan masyarakat Jakarta tersebut karena emang itu julukan bagi klub Persija. Tapi, tau gak sih, ternyata “Macan Kemayoran” berasal dari julukan seorang jawara betawi tempo dulu. Nama asli jawara tersebut adalah Murtado. Murtado adalah seorang jawara yang disegani masyarakat Jakarta, khususnya di daerah Kemayoran. Murtado pun disegani pemerintah Hindia Belanda karena mahir dalam “pukulan”. Mau tau cerita mengenai Murtado sang jawara betawi? Mau tau juga bagaimana cerita sampai Murtado mendapat julukan “Macan Kemayoran”? Yuk, kita kepoin Yukepo!

Murtado lahir di Kemayoran pada tahun 1869 dan meninggal pada tahun 1959 di usianya yang ke-90 tahun. Murtado adalah anak dari mantan lurah, Murtado Sanim, dan ibunya bernama Aminah. Berdasarkan keterangan dari sang anak, Iwan Cepi Murtado, Murtado memiliki lima belas orang istri. Iwan Cepi ini adalah anak dari Siti, istri ke-15 Murtado. Dari ke-15 istrinya ini, Murtado mempunyai banyak anak yang jumlahnya tidak diketahui pasti. Iwan pun tidak tahu keberadaan anak-anak Murtado. Saat ini hanya Iwan Cepi keturunan Murtado yang tersisa.

Murtado Si Macan Kemayoran memang tersohor. Namanya menjadi legenda di masyarakat Betawi, tapi tidak banyak orang yang mengenal sosok sejati dari Murtado. Murtado mulai terkenal ketika ia berhasil mengalahkan jawara yang paling ditakuti di Kemayoran, Mandor Bacan dan Bek Lihun. Walaupun Murtado dikenal sebagai jawara, Murtado tidak pernah menantang orang untuk berkelahi. Ibarat pepatah orang Betawi, "Elu jual gue beli". Ilmu bela diri yang dimilikinya ia gunakan untuk menjaga diri dan tidak untuk dipamerkan. Iwan Cepi juga mengatakan bahwa Murtado adalah sosok yang taat agama. Murtado menjadikan agamanya sebagai pegangan agar ia tidak menyalahgunakan ilmu yang dimilikinya.

Layaknya anak Betawi pada umumnya, sejak kecil Murtado belajar mengaji dan belajar ilmu agama. Gak hanya itu, Murtado kecil pun sudah dilatih ilmu bela diri sampai ia tumbuh menjadi pemuda pemberani dan jago bela diri. Murtado dikenal jago menggunakan toya, senjata yang biasa dipakai dalam kungfu Cina. Ilmu yang dimilikinya diperoleh dari banyak guru. Dua dari beberapa guru Murtado yang Iwan Cepi ingat adalah Kong Bek Guru di Sandang, Kemayoran dan Guru Sandang di Codet.

Cerita legendaris tentang Murtado yang sangat terkenal adalah ketika Murtado melawan jawara Bek Lihun. Murtado yang saat itu masih berusia dua puluh tahun berani menantang Bek Lihun yang terkenal kejam. Bek Lihun adalah orang kepercayaan Belanda untuk menagih upeti pada rakyat Kemayoran. Bek Lihun yang liar dan tukang peras ini pada suatu hari menggoda dan akan memerkosa seorang kembang desa. Melihat hal ini, Murtado turun tangan dan berkelahi dengan Bek Lihun. Sejurus dua jurus, Bek Lihun langsung ngibrit, kabur dari Murtado. Tidak hanya Bek Lihun, Murtado juga bisa mengalahkan Mandor Bacan, anak buah Bek Lihun, yang suka memeras rakyat miskin. Sejak kejadian itu, Belanda pun mengangkat Murtado sebagai orang kepercayaannya menggantikan Bek Lihun.

Selain terkenal dengan cerita perkelahiannya, Murtado juga terkenal dengan cerita heroiknya. Ketika Murtado menjadi orang kepercayaan Belanda, tidak seperti Bek Lihun yang suka memeras, Murtado justru membantu warga Kemayoran. Murtado sering kali mencuri isi gudang beras yang ia jaga dan hasilnya ia bagikan kepada orang miskin. Murtado yang setiap hari berkeliling kampung selalu ditunggu oleh para warga yang membutuhkan bantuannya. Tidak hanya membantu warga Kemayoran, Murtado juga membantu para pejuang di Bekasi. Kakak kandung Iwan, Muhamad Sidiq, pernah diajak Murtado untuk membawa karung beras berisi senjata menyusuri sungai selama dua hari dua malam menuju Bekasi. Senjata yang Murtado berikan untuk para pejuang Bekasi ini berasal dari gudang senjata milik Belanda yang ia jaga.

Dokumen-dokumen mengenai Murtado yang sempat disimpan oleh istri terakhirnya, Siti, tidak lagi dapat ditemukan. Hanya tersisa satu foto yang saat ini tersimpan di rumah Iwan Cepi. Foto itu menempel di dinding bercat kuning dan terlihat lusuh karena gambarnya sudah kecokelatan. Sosok dalam foto tersebut memakai jas putih yang membungkus kemeja hitam khas Betawi. Potret berukuran 30R ini mengabadikan sang Macan Kemayoran, Murtado. Meskipun Murtado telah lama tiada, jasa perjuangan Murtado tetap melegenda dan selalu dikenang oleh masyarakat Betawi.

Nah, ternyata gitu guys ceritanya. Gimana? Sekarang jadi tau kan asal-muasal julukan “Macan Kemayoran”? Buat kalian khususnya yang anak Betawi asli harus banget tau nih cerita-cerita dari tanah Betawi, khususnya cerita-cerita mengenai jawara, orang-orang pandai bela diri yang tetap rendah hati dan membela kemanusiaan. Siapa tau kamu adalah jawara Betawi selanjutnya!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Mohammad Syahrial
Gak Punya Quote Nih!
2.8 KSHARES