Kece! Lestari hingga Kini, Tradisi Sekaten Tak Lekang Dimakan Zaman. Yuk ke Sini!

03 Desember 2017
|Meidiana
839SHARES

Sebagai orang Indonesia, apalagi kalau kamu orang Jawa, kamu tentunya nggak asing dengan tradisi Sekaten. Selain bikin kita bangga karena hanya ada di Indonesia, Sekaten merupakan tradisi yang memiliki makna, tujuan, dan filosofi budaya Jawa yang mendalam sehingga menjadi salah satu kearifan lokal yang tidak ternilai harganya.

Sekaten identik sebagai tradisi tahunan yang dilaksanakan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sebenarnya, jauh sebelum itu, Sekaten pertama kali dilaksanakan di Kerajaan Demak Bintara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Sebagai salah satu cara untuk menarik simpati masyarakat Jawa agar memeluk Islam dan mendukung Kerajaan Demak.

Nama Sekaten  berasal dari bahasa Arab, syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat dan merupakan pernyataan keyakinan bagi orang yang akan masuk Islam. Pada waktu itu, orang yang datang dalam Sekaten akan mengucapkan kalimat syahadat yang artinya mereka akan masuk agama Islam. Dalam perkembangannya, Sekaten terus dilestarikan oleh Kerajaan Mataram Islam, yang kemudian terpecah menjadi dua, yaitu Yogyakarta (Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat) dan Surakarta (Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat). Hebatnya, walaupun terpecah, keduanya masih sama-sama melestarikan tradisi Sekaten hingga kini.

Setiap tahunnya, Sekaten dimulai pada tanggal 5—12 Maulud (Rabiulawal). Untuk menyambut Sekaten, biasanya juga dimeriahkan dengan adanya pasar malam perayaan Sekaten yang dihelat selama 20—40 hari menjelang tanggal 12 Rabiulawal. Rangkaian acara tradisi Sekaten terdiri dari upacara Miyos Gangsa Sekaten (keluarnya gamelan Sekaten), upacara Numplak Wajik, upacara Tedhak Dalem ke masjid, upacara Kondur Gangsa, dan diakhiri dengan upacara Grebeg atau Garebek Sekaten yang ditandai dengan keluarnya sedekah Dalem berupa gunungan.

Dalam upacara Miyos Gangsa Sekaten di Yogyakarta, gangsa (gamelan) yang bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga diboyong dari Keraton Yogyakarta menuju pagongan Masjid Gedhe. Sedangkan di Solo, gamelan yang bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari diboyong dari Keraton Surakarta menuju pagongan Masjid Agung. Kemudian, kedua gamelan tersebut ditabuh secara bergantian dengan racikan gending tertentu selama tujuh hari menjelang hari peringatan Maulid Nabi Muhammad saw (yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal). Peranan gamelan dalam Sekaten tersebut adalah sebagai lambang perpaduan antara budaya Jawa dan Islam.

Puncak perayaan Sekaten adalah Garebek Maulud atau Garebek Sekaten, yaitu dikeluarkannya sedekah Dalem berupa gunungan, tepat pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiulawal. Selain pada hari Maulid Nabi, gunungan biasanya juga dikeluarkan oleh Keraton ketika memperingati Hari Raya Idul Fitri (Garebek Bakda) dan Hari Raya Idul Adha (Garebek Besar).

Gunungan adalah aneka jajanan pasar dan hasil bumi yang dirangkai dan dibentuk menyerupai gunung. Di Keraton Yogyakarta, gunungan yang dikeluarkan sebagai sedekah Dalem terdiri dari Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Dharat, Gunungan Gepak, Gunungan Bromo (yang hanya dikeluarkan 8 tahun sekali), dan Gunungan Pawuhan. Gunungan biasanya diarak terlebih dahulu menuju masjid untuk didoakan sebelum nantinya dibagikan kepada masyarakat. Gunungan Sekaten itu merupakan simbol kemurahan hati raja kepada rakyatnya.

Selama rangkaian tradisi Sekaten berlangsung, banyak benda-benda yang dijual yang dapat kita temukan, seperti telur merah, telur asin, kinang, nasi uduk, dan pecut. Benda-benda tersebut ternyata merupakan lambang-lambang yang bermakna, lho. Nggak sembarang asal dijual gitu aja. Telur merah (endhog abang) yang isinya putih dan kulitnya dicat merah memiliki makna bahwa keyakinan itu haruslah suci (seperti putih telur) dan keyakinan yang belum suci (dilambangkan dengan kulit telur yang merah) itu perlu dionceki atau dibuang. Nah, kalau telur asin atau juga biasa disebut dengan endhog kamal, itu kurang lebih sebagai lambang bahwa hal terpenting dalam hidup adalah amal. Kinang melambangkan bahwa dalam kita berucap, mulut harus dijaga agar selalu suci dan bermanfaat. Lalu, nasi uduk dengan berbagai macam lauknya memiliki makna agar manusia suka mengerjakan sesuatu yang baik, seperti rasa sukanya orang ketika sedang makan nasi uduk. Kemudian, pecut merupakan lambang yang dapat menumbuhkan semangat dan meningkatkan produktivitas kerja bagi siapa pun yang melakukan pekerjaan. Filosofis banget kan maknanya?

Setiap tahunnya, antusias masyarakat terhadap tradisi Sekaten, terutama pada upacara Garebek Sekaten sangatlah luar biasa, bahkan nggak sedikit yang datang dari luar kota demi menyaksikan tradisi tahunan ini. Surga dunia bagi kamu para fotografer juga tuh. Seneng banget deh, walaupun zaman terus berubah, tradisi Sekaten masih lestari hingga kini. Nah, kalau masalah takhayul atau enggak takhayul, itu sih tergantung dari segi mana kita memandangnya. Kalau kita memandangnya dari segi positif dan tanpa ada niat yang aneh-aneh kan sah-sah aja. Bener nggak?

 

           

 

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Meidiana
"Bahagia bersama senandika."
839SHARES