Keberadaan Pesantren Waria di Jogja Membuktikan bahwa Agama Ada untuk Semua

11 Juni 2017
|Atik Kencana S.
3SHARES

Dalam kehidupan tentunya kita mengenal adanya hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal yang berarti hubungan kepada Tuhan dan horizontal yang berarti hubungan antarsesama manusia. Keduanya harus dijalankan secara harmonis dan seimbang, tidak boleh berat sebelah.

Namun seiring pertumbuhan akal budi manusia, terkadang hidup berjalan tidak seperti apa yang dibayangkan. Berjalan tanpa rencananya pribadi. Perubahan datang begitu cepatnya. Semua terjadi begitu saja. Terlebih manusia, tempatnya salah. Tak ada satu pun yang sempurna. Apalagi semua sama di mata Tuhan.

Mengenai persamaan derajat manusia di mata Tuhan, YuKepo mau membahas mengenai sebuah pesantren yang mengasuh para santri yang mayoritas waria. Keberadaan pesantren tersebut selalu dipertanyakan. Apakah seorang waria masih “pantas” sujud bersimpuh di hadapan-Nya?

Pesantren ini berada di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Didirikan pada tahun 2008 oleh KH. Hamrolie dan dipimpin oleh seorang waria pula yang bernama Maryani. Baginya, agama ada untuk siapa pun, termasuk kalangan waria. Pesantren yang bernama Pondok Pesantren Al Fatah ini pernah ditutup pada tahun 2016 lalu. Tempat yang menjadi satu-satunya akses belajar dan beribadah bagi kaum transgender sebagai bekal kehidupan di akhirat ditutup paksa oleh segelintir orang yang tidak senang dengan keberadaan pesantren ini berikut penghuninya. 

Terlebih pesantren ini dinilai ilegal alias tidak memiliki izin. Lokasi pesantren tersebut memang tidak seperti pesantren pada umumnya. Pesantren ini adalah rumah tinggal Shinta Ratri yang kini menjadi pimpinan pesantren. Selain itu, pesantren ini juga dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dua alasan tersebut membuat keberadaan pesantren ini dipertanyakan, ditambah dengan adanya warga yang merasa terganggu dengan keberadaan pesantren tersebut. Padahal sebelumnya tidak pernah ada laporan mengenai hal tersebut di kelurahan setempat.

Ada kisah pahit, ada juga kisah manis. Ramadan kali ini juga turut membawa berkah untuk pesantren berikut santrinya di sini. Di awal Ramadan 1438 H ini, pesantren yang ditutup sejak tahun lalu ini akhirnya kembali dibuka. Tentu saja ini sebagai titik cerah bagi para kaum transgender muslim di Jogja. Dengan santri yang berjumlah dua puluh waria, di pesantren ini mereka serius mempelajari kitab fiqh dan hadits dengan dibimbing oleh Ustaz Arif Nuh Safri.

Salah satu pemandangan yang paling menarik bisa ditemukan di pesantren ini. Banyak dari para santri waria yang lebih memilih untuk kembali ke wujud asalnya sebagai laki-laki ketika sedang menghadap Tuhan alias salat. Namun, ada juga yang memilih berpenampilan sebagai wanita ketika menghadap Tuhan. Bebas. Hati tetap tidak bisa membohongi Tuhan.

Sebenarnya keputusan untuk menjadi waria bukanlah merupakan kehendak pribadi. Mayoritas dari para santri waria di sini merasa sifat feminin sudah melekat secara natural sejak kecil. Lalu mereka yakin bahwa inilah kodrat yang harus dijalankan. Mereka tetap meyakini bahwa derajat manusia di mata Tuhan adalah sama, baik dengan manusia biasa, transgender, maupun yang lainnya. Tentunya harapan mereka cukup sederhana: Agar mereka sebagai manusia juga bisa dimanusiakan oleh manusia yang lain tanpa memandang keberadaan mereka sebagai kaum minoritas dan lainnya.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
3SHARES