Kasus Ujaran Kebencian Muncul Lagi, Memang Apa Sih Ujaran Kebencian itu?

08 Agustus 2017
|Romlah Sundari
5SHARES

Belakangan ini berita dipenuhi dengan berbagai kisah mengenai kasus-kasus terkait ujaran kebencian. Beberapa orang sudah mengalami kasus ini dan dipenjarakan dengan tuduhan melakukan ujaran kebencian maupun pencemaran nama baik. Sebut saja Kaesang Pangarep, sang putra presiden yang dilaporkan telah melontarkan ujaran kebencian dalam vlognya yang berjudul ‘Bapak Minta Proyek’. Atau yang paling terkini, kasus Sri Rahayu, seorang ibu rumah tangga yang dituduh telah menyebarkan konten bermuatan ujaran kebencian di akun sosial medianya. Ibu berumur 32 tahun ini dianggap sering menyebarkan foto dan tulisan-tulisan berbau SARA, hinaan terhadap Presiden Jokowi dan berbagai kelompok dalam masyarakat. Karena itu, Sri Rahayu atau yang juga dikenal sebagai Ny. Sasmita ini ditangkap oleh polisi pada hari Sabtu kemarin di kediamannya di Desa Cipendawa, Cianjur.

Selain Sri Rahayu, kasus terkait ujaran kebencian dan pencemaran nama baik yang sedang mendapat perhatian saat ini adalah kasus antara Komika Acho dengan pihak manajemen Apartemen Green Pramuka. Tulisan Acho yang diunggah dalam blognya berisikan curhatan mengenai keluhan Acho atas pengelolaan apartemen Green Pramuka yang terletak di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Hampir dua tahun setelah tulisan tersebut dibuat, Acho dipanggil oleh polisi untuk diperiksa terkait kasus pencemaran nama baik Apartemen Green Pramuka. Hingga pada bulan Juli, Acho ditetapkan sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik sesuai dengan UU ITE.

Kasus-kasus ini membuat kita bertanya-tanya, memang apa sih yang dimaksud dengan ujaran kebencian? Seperti apa yang masuk kedalam kategori hate speech? Cek lima fakta yang perlu kamu ketahui tentang hal ini ya!

1. Bentuk-bentuk ujaran kebencian ternyata ada banyak!

Ujaran kebencian bukan semata berupa hinaan atau tulisan yang bermaksud menghasut pembacanya untuk membenci sesuatu. Ternyata, yang digolongkan sebagai bentuk ujaran kebencian ada banyak. Berdasarkan Surat Edaran dari kepolisian terkait ujaran kebencian, terdapat setidaknya tujuh betuknya. Yaitu penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut dan penyebaran berita bohong.

Hmm, lain kali coba perhatikan konten yang akan diunggah ke sosial media, apakah konten tersebut berbau ketujuh hal di atas?

2. Hate speech ini biasanya ditujukan kepada golongan tertentu

Konten yang bermuatan kebencian pasti memiliki seseorang atau sekelompok yang menjadi objek sasaran kebencian. Nah, dari Surat Edaran kepolisian yang bernomor SE/06/X/2015 terkait ujaran kebencian, diputuskan bahwa hal ini adalah yang dilontarkan kepada kelompok atau individu yang dibedakan dalam 11 aspek. Yaitu berdasarkan suku, agama, aliran keagamaan, kepercayaan, ras, antar golongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel, dan orientasi seksual.

3. Medianya pun bisa bermacam-macam

Pihak kepolisian tidak akan memandang bulu terkait media yang digunakan untuk menyebar hate speech. Namun dalam surat edaran yang sama, pihak kepolisian menyebutkan beberapa media penyebaran yang harus diperhatikan. Yaitu orasi kampanye, spanduk, media sosial, demonstrasi, ceramah keagamaan, media massa baik cetak maupun elektronik, dan pamflet.

4. Aturan mengenai ujaran kebencian ini sudah ada dalam UU

Nah, jika bingung bagaimana mengkategorisasi suatu konten sebagai hate speech atau bukan, coba tilik kembali UU yang digunakan untuk menetapkan perkara ujaran kebencian. Di Indonesia, UU yang digunakan sebagai dasar untuk memperkarakan sebuah konten sebagai ujaran kebencian terdapat dalam beberapa UU. Yaitu, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronika, dan UU No 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Coba pahami dulu ketiga UU yang menjadi dasar dari aturan terkait ujaran kebencian ini untuk menetapkan apakah suatu konten dapat diklasifikasikan sebagai ujaran kebencian atau tidak.

5. Hukuman untuk penyebar hate speech itu tidak ringan, lho!

Kenapa kita perlu tahu mengenai hate speech? Kenapa kita tidak bisa tidak peduli dengan perkara ujaran kebencian ini? Karena sekarang hal yang bahkan mungkin kita anggap biasa saja, jika ada yang tersinggung dengan pernyataan kita, maka kita dapat diperkarakan dengan tuduhan tersebut.

Dan hukuman yang dikenakan bagi mereka yang dianggap membuat atau menyebarkan konten bermuatan ujaran kebencian tidaklah ringan. Hukuman bagi penyebarnya dapat mencapai 6 tahun penjara atau denda sebanyak 1 miliar rupiah.

Hmm, dengan begini, rasanya kita harus lebih waspada dan lebih bijak dalam mengunggah apapun ke internet, apalagi media sosial. Salah-salah, kita bisa dianggap menyebarkan ujaran kebencian dan terjerat hukuman. Teknologi memang memberikan kita banyak keleluasaan, namun kita memang harus belajar menggunakan teknologi secara lebih bertanggung jawab.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
5SHARES