Kartu Kuning untuk Jokowi! Ternyata 122 Wilayah di Indonesia Ditetapkan Jadi Daerah Tertinggal!

07 Februari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Pada Jum’at (2/2/2018), Presiden Joko Widodo mendapat kejutan usai menyampaikan pidatonya mengenai perkembangan global serta tantangan yang harus dipenuhi lembaga pendidikan di Balairiung UI, Depok. Beliau diberikan ‘kartu kuning’ oleh salah seorang mahasiswa UI yang juga menjabat sebagai Ketua BEM UI, Zaadit Taqwa. Hal itu dipicu oleh kasus gizi buruk di Asmat yang telah menewaskan kurang lebih 72 orang.

Dalam konferensi pers, Taqwa menjelaskan bahwa pemberian ‘kartu kuning’ olehnya kepada Presiden Jokowi  adalah sebagai aksi simbolis yang juga rangkaian ‘penyambutan’ yang sebelumnya telah dilakukan di Stasiun Universitas Indonesia.

"Ini adalah sebuah simbol bahwa kami memberikan peringatan kepada Pak Jokowi bahwa masih banyak pekerjaan-pekerjaan, masih banyak PR yang belum selesai, dan peringatan ini kami fokuskan, kami khususkan pada tiga isu yang menjadi tuntutan kami,"

“Ini bentuk upaya kami supaya tetap bisa menyampaikan aspirasi. Kalau di sepak bola kartu kuning ini menjadi peringatan supaya lebih berhati-hati atau menjaga dirinya lah. Begitu juga bagi Pak Jokowi, ini menjadi peringatan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam dan agar kembali menuntaskan tugas-tugasnya yang belum selesai,” ujar Zaadit seperti yang dikutip dari laman BBC Indonesia.

Lalu bagaimana tanggapan Jokowi? Presiden Jokowi menganggap bahwa aksi kartu kuning yang dilakukan oleh Zaadit Taqwa merupakan aksi yang lumrah. Sebagai mahasiswa, memang harus bersikap kritis terhadap permasalahan yang ada di Indonesia. 

"Saya kira ada yang mengingatkan bagus sekali. Dan mungkin nanti saya akan kirim Ketua dan anggota-anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI, biar melihat betul bagaimana medan yang ada di sana. Kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah yang ada, terutama di Papua," jelas Jokowi.

Sementara itu, menurut Anis Matta selaku Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), aksi kartu kuning yang dilakukan oleh Taqwa adalah sebagai bentuk ekspresi anak muda yang kritis terhadap persoalan yang dihadapi oleh negara.

"Itu anak muda mahasiswa sedang mengekspresikan kegalauannya. Itu biasa saja,"

"Mahasiswa ini anak muda yang memahami baik denyut nadi rakyat Indonesia. Oleh karena itu dia mengekspresikannya," ujar Anis seperti yang dikutip dari laman Kompas.

122 kabupaten ditetapkan sebagai daerah tertinggal 2015-2019

Pada tahun 2015 yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 122 kabupaten sebagai daerah tertinggal 2015-2019. Penetapan tersebut kemudian ditegaskan kembali dalam Peraturan Presiden (perpres) Nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019. Penetapan ke-122 kabupaten tertinggal tersebut bukan ditetapkan secara sembarangan. Setidaknya ada enam kriteria suatu daerah ditetapkan sebagai daerah tertinggal. Keenam kriteria tersebut, yakni tingkat perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, dan karakteristik daerah. Daerah tertinggal ini tersebar dari pelosok Aceh hingga pelosok Papua.

Dapat dilihat dari 122 kabupaten yang ditetapkan sebagai daerah tertinggal 2015-2019, provinsi yang paling harus disorot adalah Provinsi Papua. Hal itu wajar mengingat Papua adalah provinsi paling timur di Indonesia dengan segala keterbatasan akses, sarana, dan prasarananya. Dan hal ini memang bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan proses panjang, mengingat pembangunan yang berkelanjutan memang tidak dapat dilakukan secara instan.

Karena itu, yuk kita ikut membantu dengan turun tangan melalui berbagai cara seperti menjadi relawan di organisasi sosial, atau bahkan sekadar menyumbang dana yang lantas disalurkan ke berbagai masyarakat di daerah tertinggal. Agar kritik kita tidak hanya berupa aksi simbolik namun juga aksi nyata. Semangat, generasi muda!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES