JK Tulis Surat Cinta untuk Istrinya, Ternyata Begini Gaya Pacaran Indonesia Zaman Dulu!

29 Agustus 2017
|Romlah Sundari
0SHARES

Hari minggu, 27 Agustus kemarin, Jusuf Kalla menggelar acara ulang tahun pernikahannya yang ke-50 di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Beliau dan istrinya, Mufidah, merayakan hari bahagia mereka bersama dengan sejumlah undangan yang merupakan pejabat-pejabat negara dan berbagai tokoh politik Indonesia. Di hadapan seluruh tamu undangan, Jusuf Kalla membacakan sebuah puisi gubahannya untuk istrinya tercinta. Puisi romantis karya Jusuf Kalla ini diakuinya sebagai kali kedua beliau membuat puisi seumur hidupnya. Jika puisi pertamanya ditujukan untuk Ambon, maka puisi keduanya beliau tujukan untuk istrinya, Mufidah, yang telah setia mendampinginya selama 50 tahun tanpa kenal lelah.

Puisi Jusuf Kalla untuk istrinya tercinta ini gak cuma sukses bikin baper, tapi juga ngegambarin gaya pacaran orang Indonesia zaman dulu banget. Mulai dari susahnya proses PDKT, sampai beratnya meyakinkan orang tua pasangan bahwa kita dapat menjaga pasangan dengan baik. Penasaran kayak apa sih gaya pacaran ala Jusuf Kalla zaman dulu? Yuk, kepoin puisinya Bapak Wakil Presiden kita!

1. Dulu, PDKT bisa bertahun-tahun lamanya. Sekarang mah sebentar aja nggak dapet lampu hijau, langsung pindah ke lain hati!

“Aku menyukaimu pada detik pertama aku melihatmu.

Tujuh tahun lamanya aku berusaha untuk mendekati dan meyakinkanmu.

Tapi, engkau seperti jinak-jinak merpati. Sama dengan nama jalan di depan rumahmu.

Antara mau dan tidak sering membingungkan tidak jelas.”

Jusuf Kalla ternyata mendekati istrinya dengan penuh perjuangan selama tujuh tahun dan respon Mufidah pun ternyata tidak selalu baik. Meski bingung, namun Jusuf Kalla tidak menyerah dan tetap berusaha merebut hati Mufidah. Duh, beda banget dengan anak zaman sekarang yang pacarannya serba instan. Tinggal swipe kanan kiri, ketemu, pdkt sebentar,  langsung deh jadian. Instan jadiannya, tapi instan juga putusnya. Karena durasi pacaran anak zaman sekarang pun semakin cepat. Nggak cuma hitungan tahun atau bulan, yang seminggu putus pun ada!

2. Dulu, kencan berdua itu susah karena pasti ada keluarga atau teman yang ikut. Sekarang, kalau kencan bukan cuma berduaan, tapi juga di tempat yang sepi!

“Aku bersabar berjuang dengan waktu. Namanya pacaran, tapi kurang asyik seperti teman-teman saya lainnya.

Ke mana-mana kau dikawal oleh adik-adikmu kayak Paspampres saja.

Walaupun aku punya vespa, tapi kamu enggak pernah mau dibonceng.”

Masa pacaran Jusuf Kalla dengan istrinya pun nggak mudah. Mereka nggak duduk berduaan sambil bermesra-mesraan karena kencan saja dibuntuti oleh adik-adik Mufidah. Mau mesra-mesraan di telepon atau pesan pun susah karena belum ada handphone dan surat butuh waktu lama untuk sampai. Kalau zaman sekarang sih, nggak pacaran namanya kalau nggak jalan dua-duaan sambil bermesraan. Nggak cuma kencan malam minggu deh, sekarang malah lagi trend liburan berdua sama pacar. Kalau dulu, boro-boro liburan berdua, kencan aja nggak boleh berdua!

3. Dulu, kalau mau gandengan tangan aja nggak mudah. Sekarang, nggak peduli kalau mau mesra-mesraan di tempat umum, yang penting ena!

“Selama tujuh tahun kita hanya sekali nonton bioskop. Itu pun dengan teman-temanmu Sehingga untuk bisa memegang tanganmu saja, sangat sulit.”

Kontak fisik saat pacaran dulu masih merupakan hal yang sangat tabu. Untuk menyentuh tangan pasangan saja malu-malu dan sungkan dengan orang-orang di sekitar. Begitu juga dengan Jusuf Kalla dan Mufidah. Saat pacaran, mereka nggak bisa bermesraan dan bahkan gandengan tangan saja malu dengan teman-teman. Kalau zaman sekarang, pacaran nggak mesra itu nggak afdol. Kalau sedang jalan bareng pasti mesra-mesraan, nggak peduli dengan orang-orang di sekitar. Mulai dari gandengan, bahkan pelukan dan ciuman bisa dilakukan di depan umum. Dunia serasa milik berdua!

4. Dulu, untuk ketemu ya harus datang ke rumah dan menghadapi orang tua pasangan. Sekarang, tinggal janjian di mana pun dan kapan pun bisa ketemu

“Kalau ke rumahmu harus siap untuk sabar. Mendengar petuah bapakmu dengan suara yang pelan, seperti guru menasehati muridnya.

Karena memang bapak dan ibumu juga guru.

Aku ingin menemuimu, tapi bapakmu menyembunyikanmu. Kau baru dipanggil keluar kalau saya permisi pulang.”

Ini nih perbedaan pacaran zaman sekarang dengan zaman dulu yang paling menonjol. Kalau dulu ingin bertemu dengan pasangan, harus bertamu ke rumahnya dan bertemu dengan kedua orang tua pasangan. Siapa pun yang pernah pacaran pasti tahu gimana paniknya saat mau bertemu dengan orang tua pasangan. Deg-degan, tangan keringatan, dan mulut kering, takut kalau orang tua pasangan menolak kehadiran kita. Namun, di zaman sekarang, kalau mau ketemu ya tinggal janjian. Tingal tentukan tempat dan waktu, lalu bertemu. Meskipun mungkin harus menjemput pasangan ke rumahnya, sering kali kita enggan turun dari kendaraan dan justru meminta pasangan untuk langsung keluar rumah.

5. Dulu, hanya demi dapat sering bertemu, harus rela mencari-cari kegiatan yang sama. Sekarang, nggak bisa ketemu pun bisa video call dengan mudah

“Sampai kuliah aku juga bekerja di kantor bapakku agar bisa sering terbang. Sekali seminggu aku minta menjadi asisten dosen dan mengajar di kelasmu tanpa honor.

Semua itu agar bisa bertemu denganmu dan melihat senyummu.

Keras sekali perjuanganku, tapi demi menatapmu. Akhirnya kau luluh juga.”

Zaman dulu, kalau ingin bisa sering-sering bertemu di luar rumah, kita harus pintar-pintar cari kegiatan yang sama dengan sang pujaan hati. Entah mengikuti pengajian yang sama, menuntut ilmu di sekolah yang sama, atau seperti Jusuf Kalla, melamar jadi asisten dosen gratisan di tempat Mufidah berkuliah demi dapat bertemu lebih sering. Kalau zaman sekarang, perjuangan untuk dapat bertemu udah nggak se-susah itu. Walaupun kegiatan masing-masing berbeda dan sama-sama sibuk, nggak perlu nyari kegiatan yang sama udah bisa "ketemu" lewat video call yang bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Ternyata, pacaran zaman dulu itu penuh perjuangan, ya! Nggak semudah sekarang yang apa-apa serba ada dan semua orang dapat terkoneksi dengan mudah. Tapi, emang benar sih. Hal yang nggak mudah didapatkan itu juga nggak akan mudah dilepaskan. Buktinya, Jusuf Kalla sukses setia dengan Mufidah sampai setengah abad lamanya. Sementara bagi mereka yang instan dapatnya, biasanya juga instan hilangnya. Lihat saja angka perceraian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pacaran instan bikin kita kurang termotivasi untuk mempertahankannya karena kalaupun putus kan mudah pula mencari penggantinya. Hmm, menurutmu lebih baik gaya pacaran yang mana nih?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Romlah Sundari
Gak Punya Quote Nih!
0SHARES