Jenang: Makanan Tradisional Jawa yang Tak Hanya Lezat, Tapi Juga Sarat Makna

06 Agustus 2017
|Venanda
0SHARES

Jenang atau yang lebih dikenal sebagai bubur adalah makanan manis yang sering kita jumpai di pasar tradisional. Makanan manis nan lezat yang satu ini mungkin hanya dikenal sebagai camilan atau untuk sarapan. Tapi tahukah kamu bahwa Jenang memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Jawa?

Eksistensi makanan manis ini di kalangan masyarakat Jawa memang sudah mulai luntur khususnya di kota-kota besar. Namun, di wilayah Surakarta yang masih terdapat kerajaan yang sudah ada dari zaman Hindu-Budha, makanan ini sangat melekat pada setiap acara yang diadakan oleh masyarakat. Makanan yang berbahan dasar tepung beras dan tepung ketan ini sering hadir dalam acara hajatan dan selamatan seperti, pernikahan, selamatan ibu hamil, selamatan bayi baru lahir, dan masih banyak lagi. 

Berbagai jenis jenang yang kita ketahui memiliki makna yang berbeda-beda. Jenang Sum-sum, Ketan Hitam, Procot, dan masih banyak lagi memiliki filosofi yang khusus. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya, makanan ini menjadi sebuah simbol doa, harapan, persatuan, dan semangat masyarakat. Masing-masing dari setiap jenisnya juga menjadi simbol yang berbeda pada setiap acara.

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko menemukannya dalam Serat Lubdaka karya Empu Tanakung. "Penulis kitab ini hidup di era Kerajaan Kediri atau abad XII," kata dia. Masakan berupa jenang atau bubur telah tercatat dalam kitab itu.

Kitab kuno yang lebih lengkap menulis tentang jenang adalah Serat Tatacara yang ditulis Ki Padmasusastra sekitar tahun 1893. Menurut Heri, kitab itu mendokumentasikan jenis jenang, bahan hingga penggunaannya dalam tradisi masyarakat.

Sedangkan sejarawan dari Universitas Sebelas Maret, Tundjung Sutirto mengatakan ada hal yang menarik pada penyajian makanan manis berbentuk bubur dalam budaya Jawa. “Jenang selalu tersaji dalam upacara maupun selamatan,” kata dia. Sangat jarang ada sajian jenang pada upacara kematian maupun peringatan kematian di Jawa. Karena itu, Tundjung menyimpulkan makanan ini sebagai simbol sebuah kehidupan. 

1. Bubur Sumsum adalah simbol kekuatan

Jenang berwarna putih yang disiram "juruh" atau saus gula merah ini ternyata memiliki makna yang mendalam. Dari namanya saja sudah terlihat makna dari makanan ini. Sumsum diambil dari nama zat yang merupakan inti tulang. Jenis jenang ini merupakan simbol dari kekuatan.

Konon jika sedang merasa lemah, setelah memakan ini kamu akan kembali kuat. Hidangan ini juga merupakan makanan wajib yang harus disediakan oleh keluarga yang baru saja melangsungkan pernikahan. Dan biasanya, bubur sum-sum akan dibagikan kepada kerabat dan tetangga yang sudah membantu acara pesta pernikahan. Tujuannya adalah agar mereka kembali pulih kekuatannya setelah tenaganya terkuras selama penyelenggaraan pesta pernikahan. 

 

 

 

2. Bubur Procot adalah simbol keselamatan dan kelancaran bagi ibu hamil

Jenang procot atau bubur procot adalah makanan yang berbahan dasar tepung beras dan pisang. Biasanya makanan ini disajikan saat acara selamatan tujuh bulanan pada ibu hamil atau yang sering disebut dengan "mitoni". Makanan yang merupakan simbol keselamatan dan kelancaran ini diharapkan bisa membuat persalinan ibu hamil lancar. 

 

3. Jenang Abrit Pethak atau yang lebih dikenal dengan Bubur merah dan bubur putih

Selanjutnya ada jenang abrit pethak yang dalam bahasa Indonesia bernama bubur merah putih. Makanan ini juga sering disebut "Sengkala" oleh masyarakat Jawa. Sekilas memang mirip bubur sumsum, namun bahan bakunya berbeda. Bubur merah putih terbuat dari beras yang dimasak dengan gula merah.

Biasanya makanan ini disajikan dalam acara penyambutan bulan baru kalender Jawa atau sering disebut "suro". Makanan ini memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas datangnya bulan baru. Jenang ini juga identik dengan simbol lahirnya manusia. Maka seringkali saat ada bayi baru lahir, orangtuanya membagikan jenang abrit pethak ke keluarga dan tetangga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

4. Jenang Grendul atau bubur candil

Jenang Grendul lebih dikenal sebagai bubur candil. Dengan bola-bola kenyal yang manis yang disiram dengan kuah santan, makanan ini banyak disukai oleh masyarakat. Bubur candil ini biasanya disajikan dalam acaran formal atau acara keluarga. Makanan yang satu ini dipercaya sebagai simbol keharmonisan hidup yang diwarnai oleh perbedaan. 

 

 

5. Jenang ketan ireng atau jenang ketan hitam simbol keberkahan

Jenang ketan ireng atau ketan hitam adalah makanan yang berbahan dasar beras ketan hitam yang dimasak dengan santan dan daun pandan. Biasanya disajikan dalam acara selamatan ibu hamil dan ritual keagamaan. Dan dipercaya membawa keberkahan bagi ibu hamil dan bayinya. 

 

Berbagai jenang yang lezat ini ternyata memiliki makna yang mendalam ya. Budaya Jawa memang selalu kaya dengan makna-makna kehidupan yang menuntun kita menjadi pribadi lebih baik. Kalau kamu suka yang mana?


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Venanda
"Keep moving forward"
0SHARES