Inilah Sejarah Masyarakat Badui yang Mungkin Belum Pernah Kamu Tahu Sebelumnya

29 Juni 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Indonesia memang memiliki deretan panjang suku-suku pedalaman yang sudah hidup jauh sebelum Indonesia merdeka hingga kini. Dari Sabang hingga Merauke terpencar berbagai suku dengan segala keunikan yang dimilikinya. Bahkan suku-suku ini masih tetap hidup dengan kearifan lokal yang sedari dulu tetap mereka tekuni.

Kali ini YuKepo mau membahas mengenai salah satu suku yang cukup terkenal dan kerap menunjukkan keramahannya terhadap warga luar. Suku yang berada di kawasan Banten ini memang selalu menarik wisatawan baik hanya untuk membeli cindera mata maupun hingga berkunjung kesana. Apalagi kalau bukan Suku Badui? Penasaran bagaimana sejarah masyarakat Badui? Yuk langsung aja kita kepoin!

Suku Badui atau “Urang Kanekes” ini merupakan sebuah kelompok masyarakat sub-etnis Sunda yang menempati wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Populasi mereka kini mencapai 8.000 jiwa. Mereka menerapkan sistem isolasi dari dunia luar. Tapi orang luar tetap bisa berkunjung ke desa-desa Kanekes ini namun dengan mematuhi peraturan tertentu pastinya.

Mungkin beberapa dari kita sudah ada yang pernah berinteraksi langsung dengan masyarakat Badui ataupun langsung berkunjung ke sana menikmati kearifan lokal yang ada. Namun rasanya belum semua mengetahui dari mana sejarah masyarakat Badui tersebut? Apakah mereka merupakan keturunan kerajaan-kerajaan Sunda pada zaman dahulu? Atau jangan-jangan mereka merupakan sisa-sisa masyarakat yang kabur akibat kolonialisme?

Masyarakat Badui sendiri percaya bahwa mereka merupakan keturunan dari Batara Cikal yaitu salah satu dari tujuh dewa yang turun ke bumi. Kepercayaan tersebut kemudian dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang mereka yang pertama. Mereka mempercayai bahwa Nabi Adam beserta keturunannya yang termasuk warga Kanekes bertugas untuk bertapa untuk menjaga harmonisasi dunia.

Ada sebuah rangkuman yang ditulis oleh C.L. Blume saat melakukan ekspedisi botani ke wilayah Banten di tahun 1822. Ia menyebutkan bahwa masyarakat Badui berasal dari Kerajaan Sunda Padjajaran yang melarikan diri ketika kerajaan tersebut runtuh di awal abad ke-17. Setelah itu muncullah Kerajaan Banten.

Pandangan lain datang seorang dokter yang bernama Van Tricht. Ia pernah melakukan riset mengenai kesehatan di tahun 1928. Ia menyangkal pernyataan C.L. Blume soal sejarah masyarakat Badui yang berasal dari Kerajaan Sunda Padjajaran. Menurut Van Tricht, masyarakat Badui merupakan masyarakat asli daerah tersebut. Apalagi orang Badui pun menolak pernyataan bahwa mereka orang pelarian Kerajaan Sunda Padjajaran.

Sebutan “Badui” atau “Urang Badui” ternyata sudah digunakan sejak lama. Sebutan tersebut terdapat di berbagai laporan para etnograf Belanda contohnya seperti yang ditulis oleh Van Hoevell (1845), Jacob dan Miejer (1881), Pleyte (1909) dan Van Tricht (1929). Mereka menyebut masyarakat yang tinggal di lereng Pegunungan Kendeng tersebut dengan sebutan badoei, badowei, knekes dan Rawayan. Namun ternyata sebutan tersebut bukan berasal dari masyarakat Badui sendiri, melainkan dari orang luar.

Sebutan “Badui” sendiri ternyata diperkirakan sudah digunakan oleh beberapa peneliti. Mereka menyamakan masyarakat Badui dengan masyarakat pengembara asal Arab, yaitu Orang Badawi. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa nama tersebut dipilih karena mereka menempati daerah Sungai Badui dan Gunung Badui di bagian utara wilayah tersebut.

Nah, itulah tadi sejarah masyarakat Badui yang mungkin belum semua orang tahu. Mengenai harmonisasi kehidupan Suku Badui dengan alam, jadi ingat dengan semboyan mereka. “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, larangan teu meunag ditempak, buyut teu meunang dirobah, lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.” “Gunung tak boleh dirusak, lembah tak boleh dihancurkan, larangan tak boleh dilanggar, perintah leluhur tak boleh diubah, yang panjang tak boleh diperpendek, yang pendek tak boleh diperpanjang”.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES