Inilah Kerennya Tradisi Ritual Memandikan Tengkorak, Nyobeng, di Kalimantan Barat. Horor Tapi Unik!

29 Januari 2018
|Median
407SHARES

Indonesia adalah rumah dari beragam budaya dan tradisi yang tidak ada di negara lain mana pun. Keunikan dan kemenarikannya masing-masing selalu membuat kita bangga menjadi orang Indonesia. Salah satu tradisi yang hanya ada di Indonesia tersebut adalah tradisi ritual Nyobeng yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Bidayuh di Kampung Sebujit, Hli Buei, Siding, Bengkayang, Kalimantan Barat.

Sebenarnya tradisi ritual macam apa sih Nyobeng itu? Nah, kalau kamu masih asing dengan tradisi satu ini, Nyobeng adalah ritual memandikan tengkorak manusia peninggalan hasil mengayau dari nenek moyang suku Dayak Bidayuh, salah satu subsuku Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan. Mengayau adalah memenggal kepala musuh untuk dibawa pulang sebagai bukti kemenangan.

Jadi, pada zaman dulu ketika masih sering terjadi peperangan antarsuku Dayak yang tinggal di wilayah Kalimantan dan Malaysia, nenek moyang suku Dayak Bidayuh di Kampung Sebujit selalu membawa pulang hasil kayauannya untuk disimpan di rumah balug (rumah adat suku Dayak Bidayuh). Awalnya, ritual memandikan tengkorak disebut Nibakng atau Sibang, tetapi kemudian lebih sering disebut Nyobeng. Tujuan ritual Nyobeng adalah untuk menghormati hasil kayauan nenek moyang dan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat suku Dayak Bidayuh kepada Tuhan.

Setiap tahunnya, ritual Nyobeng dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 15—17 Juni. Sebelum rangkaian ritual Nyobeng dilaksanakan, setiap rumah biasanya membuat sesaji yang diolesi dengan darah yang berasal dari sayap ayam. Warga kemudian memercikkan darah ayam ke berbagai tempat yang dianggap sakral, seperti di sekitar rumah, rumah adat, dan lingkungan kampung. Warga kemudian membuat tempat sesajian untuk Nyobeng dengan ritual memotong ayam sebagai tanda persembahan dan memotong anjing sebagai penolak bala.

Rangkaian Nyobeng dibuka dengan acara menyambut tamu undangan dan pengunjung di batas desa dengan memakai kostum kain merah dengan berbagai hiasan manik-manik disertai dengan mengacungkan mandau dan membunyikan senapan. Pada zaman dulu, penyambutan tersebut adalah untuk menyambut warga yang pulang dari mengayau. Konon, tujuan membunyikan senapan adalah untuk memanggil roh leluhur agar berkenan hadir sekaligus meminta izin untuk melaksanakan ritual Nyobeng.

Setelah upacara penyambutan tamu dan pengunjung, ritual memandikan tengkorak pun dilaksanakan dengan dipimpin oleh para tetua adat. Selain untuk menghormati peninggalan nenek moyang, masyarakat suku Dayak Bidayuh percaya bahwa tengkorak adalah benda sihir paling kuat yang dapat mendatangkan hujan dan mengusir roh jahat sehingga ritual memandikan tengkorak adalah hal yang sangat perlu dilaksanakan.

Sesudah ritual inti tersebut dilaksanakan, berbagai hiburan tradisional disuguhkan oleh masyarakat suku Dayak di Sebujit, yang salah satunya adalah panjat pinang. Uniknya, panjat pinang tidak dilakukan seperti panjat pinang pada umumnya, tetapi dilakukan secara terbalik, yaitu kaki berada di atas, sedangkan kepala justru berada di bawah. Rangkaian terakhir ritual Nyobeng adalah ritual mengucapkan terima kasih kepada para roh leluhur yang telah datang diikuti dengan ritual mengembalikan roh-roh leluhur tersebut ke tempat asalnya. Setelah ritual terakhir selesai, berakhir jugalah rangkaian Nyobeng yang dilaksanakan selama tiga hari di Kampung Sebujit.

Mengingat letak Kabupaten Bengkayang yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia, tradisi ritual Nyobeng juga berfungsi sebagai simbol perdamaian antara masyarakat suku Dayak Bidayuh yang tinggal di Indonesia dan Malaysia. Tujuan umum Nyobeng mulia juga ternyata. Semoga tradisi yang hanya ada di Indonesia ini ke depannya semakin menarik perhatian dunia dan membawa banyak berkah di bidang pariwisata bagi masyarakat suku Dayak Bidayuh pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

 

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Median
"Nata polah."
407SHARES