Inilah 8 Tradisi Unik yang Ada di Indonesia. Negara Lain Mana Punya!

07 November 2017
|Meidiana
437SHARES

Keberagaman budaya di Indonesia memang tidak perlu disangsikan lagi. Setiap etnik dan suku memiliki keunikan dan identitasnya sendiri-sendiri. Keunikannya, misalnya tampak dalam tradisi-tradisi yang dilakukan masyarakat pendukungnya. Dari yang aneh, mistis, sampai yang mengerikan, ada semua. Wuih, apa saja tuh? Pas banget nih. YuKepo sudah mengumpulkan informasi dari sana-sini spesial buat kamu. Yuk, cek delapan tradisi unik yang ada di Indonesia berikut ini.

1. Tradisi kerik gigi di Kepulauan Mentawai

Cantik memang relatif dan dapat didefinisikan dengan persepsi yang beda-beda. Begitu juga dengan persepsi unik orang suku Mentawai tentang arti cantik. Bagi mereka, seorang gadis akan dikatakan dan terlihat cantik apabila memiliki gigi yang runcing. Oleh karena itu, gadis-gadis Mentawai yang sudah menjelang dewasa biasanya rela mengerik giginya. Mereka percaya bahwa wanita akan terlihat lebih cantik jika sudah mengerik giginya dan laki-laki pun akan lebih menyukainya. Selain untuk mempercantik diri, tradisi mengerik gigi juga sebagai simbol untuk kedewasaan diri seorang wanita dan diyakini dapat memberikan kebahagiaan.

2. Tradisi batombe di Sumatera Barat

Batombe berasal dari kata ba sebagai awalan dan tombe yang berarti ‘pantun’. Jadi, batombe sama dengan berpantun. Tradisi lisan yang berasal dari Nagari Abai, Solok Selatan, Sumatera Barat, ini berupa pertunjukan berbalas pantun antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dengan diringi musik. Para pemantun dalam batombe akan berpantun secara spontan dan tidak memerlukan teks. Mereka bisa mengungkapkan apa saja, mulai dari perasaan, cerita perjalanan hidup, nasihat, semangat, sampai dengan keadaan zaman. Asik juga ya bisa berbalas pantun tentang perasaan. Wah, kemungkinan bisa banget ini bertemu jodoh saat ikut batombe.

3. Tradisi parade tatung di Singkawang

Tatung berasal dari bahasa Hakka yang berarti ‘orang yang dirasuki roh dewa atau leluhur’. Tradisi parade tatung di Singkawang, Kalimantan Barat, ini biasanya dilaksanakan ketika festival Cap Go Meh. Setiap tahunnya, ratusan tatung pawai beratraksi untuk menunjukkan keahliannya. Para tatung yang dirasuki roh leluhur ini akan bertingkah mengerikan, seperti menginjak-injak pedang, menancapkan kawat runcing ke pipi, menduduki paku-paku tajam, dan memakan ayam hidup-hidup. Meskipun parade tatung awalnya memang kebudayaan Tionghoa, namun kini sudah menjadi kearifan lokal karena sudah berbaur dengan kebudayaan masyarakat suku-suku lain di Singkawang, terutama suku Dayak. Di Tiongkok, tradisi unik dan mistis ini kabarnya sudah punah. Kalau begitu, tinggal Indonesia doang dong ya yang masih tetap melestarikannya.

 

4. Tradisi tiwah suku Dayak di Kalimantan Tengah

Tradisi unik yang satu ini dilakukan oleh masyarakat suku Dayak, khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan di Kalimantan Tengah. Tiwah adalah ritual kematian dengan memindahkan tulang-tulang leluhur/keluarga dari tanah kubur menuju ke tempat yang disebut sandung, yaitu semacam rumah kecil. Bagi penganut agama Kaharingan, prosesi tiwah wajib dilakukan karena mereka percaya bahwa roh leluhur tidak akan masuk surga jika keluarga yang ditinggalkan belum mengadakan tiwah. Sebelum tiwah, biasanya didahului dengan acara penombakan hewan-hewan kurban, seperti kerbau, sapi, dan babi. Tiwah juga bertujuan untuk menghilangkan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan dan melepas ikatan status janda/duda bagi pasangan berkeluarga sehingga mereka dapat menikah lagi atau memilih untuk tetap sendiri. 

5. Tradisi brobosan di Jawa

Brobosan merupakan salah satu acara dalam rangkaian upacara tradisional kematian di Jawa. Brobosan dilakukan dengan cara berjalan di bawah keranda sebanyak tiga kali secara bergantian. Apabila yang meninggal seorang perempuan, brobosan hanya boleh dilakukan oleh sanak saudara yang terdekat dengan almarhumah. Tradisi brobosan ini adalah simbol penghormatan sanak keluarga kepada orang tua yang meninggal. Jadi, tradisi ini tidak berlaku jika yang meninggal adalah anak-anak/remaja.

6. Tradisi kebo-keboan di Banyuwangi

Tradisi kebo-keboan atau kerbau jadi-jadian merupakan tradisi di di Desa Alasmalang, Banyuwangi, yang konon telah berusia 300 tahun. Dalam tradisi yang dilaksanakan tiap awal bulan Sura ini, puluhan orang didandani mirip kebau, yaitu dengan tubuhnya dilumuri arang hitam serta mengenakan rambut palsu, tanduk kerbau, lonceng kayu, dan gelang yang bergerincing. Tidak cuma dandanannya saja, tingkah laku mereka juga mirip kerbau, seperti berkubang dan membajak sawah. Selain sebagai bentuk rasa syukur, tujuan tradisi ritual ini adalah harapan akan turunnya hujan agar tanah pertanian subur dan panen bisa melimpah. Selain unik dan lucu, tradisi kebo-keboan memiliki makna yang dalam juga kan?

7. Tradisi pemakaman suku Minahasa zaman dahulu

Orang suku Minahasa di masa lalu memiliki tradisi pemakaman yang unik. Mereka memakamkan orang meninggal bukan dengan membaringkan mayat, melainkan dengan mendudukkannya dalam posisi mencium lutut dan menghadap utara. Mereka memercayai bahwa arah utara merupakan asal nenek moyang suku Minahasa. Mayat kemudian dikubur dalam waruga, sebuah kotak batu beratap segitiga yang mirip dengan miniatur bangunan rumah sederhana. Satu batu makam beratnya bisa mencapai 100—400 kg. Beberapa di antaranya memiliki relief-relief pada dindingnya. Jejak-jejak tradisi zaman Megalitikum tersebut bisa ditemui di Taman Purbakala Waruga Sawangan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

8. Tradisi potong jari suku Dani di Papua

Tradisi potong jari ini dilakukan oleh orang suku Dani di Papua, terutama perempuan. Setiap kali ada suami, anak, atau saudara kandung yang meninggal, perempuan yang ditinggalkan melakukan tradisi potong jari atau iki palek. Jumlah jari yang terpotong menandakan jumlah anggota keluarganya yang sudah meninggal. Walaupun sangat sakit, mereka rela melakukannya karena itu adalah bentuk kesedihan yang mendalam setelah ditinggal orang terkasih. Meskipun tradisi ini sebenarnya hanya berlaku bagi perempuan, laki-laki juga ada yang melakukannya. Laki-laki biasanya memotong kulit telinga apabila ada keluarganya yang meninggal. Masih berlaku tidaknya tradisi potong jari ini di zaman sekarang masih simpang siur. Ada yang mengatakan sudah jarang, tetapi ada juga yang mengatakan masih lestari. Serem banget, tapi rasa cinta mereka terhadap pasangan dan keluarga memang sangat patut diapresiasi.

Beneran unik-unik ya tradisinya. Beda suku dan etnik, beda pula letak keunikannya. Nah, yang jelas, semuanya semakin membuktikan betapa beragamnya warna budaya Indonesia. Ya, luar biasanya warna keberagaman dalam satu bendera.

 

 


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Meidiana
"Bahagia bersama senandika."
437SHARES