Inilah 5 Peristiwa Genosida yang Paling Banyak Memakan Korban di Indonesia

politik.news.viva.co.id

Sejarah Indonesia pernah mencatat mengenai beberapa peristiwa menyayat hati yang terjadi di negeri ini. Peristiwa yang membuat bangsa ini semakin kuat dan besar. Peristiwa-peristiwa genosida yang akan YuKepo bahas kali ini adalah yang paling memakan korban jiwa. Penasaran peristiwa apa saja? Simak ulasannya di bawah ini. 

1. Pembantaian massal Anggota PKI

magetan.kotamini.com

Peristiwa pembantaian para aktivis maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) memang menjadi salah satu catatan sejarah paling kelam. Sekitar 500.000 jiwa dibantai karena dianggap ikut serta dalam sebuah partai yang dilarang dan dianggap sebagai komunis. Hal ini terjadi setelah gerakan G30S/PKI.

Pembantaian yang dimulai di bulan Oktober 1965 ini bermula di Jakarta dan menyebar ke Jawa Tengah hingga Bali. Selain itu, pembantaian juga dilaksanakan di beberapa pulau-pulau kecil lainnya. Para petinggi PKI diburu dan ditangkap serta dibunuh.

Gak hanya warga pribumi saja yang menjadi korban, banyak warga keturunan Tionghoa yang juga harus menelan pil pahit atas kejadian ini. Beberapa dari keturunan Tionghoa ini dibunuh dan harta bendanya dijarah. Peristiwa ini memang mencurigai setiap kalangan etnis. Tidak hanya Jawa saja, siapapun bisa diduga terlibat dengan komunisme.

Cara pembantaiannya pun dilakukan dengan cara yang beragam, ada yang ditembak ataupun dipenggal kepalanya menggunakan pedang samurai khas Jepang. Mayat-mayat tersebut kemudian dibuang ke sungai. Di wilayah Kediri, para ulama meminta para komunis untuk berbaris lalu digorok lehernya. Mayatnya pun dibuang ke sungai. 

2. Pembantaian massal Westerling

www.berdikarionline.com

Salah satu genosida yang paling mengerikan datang dari Sulawesi Selatan. Pembantaian Westerling dilakukan di bawah pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Pembantaian ini dilakukan karena Belanda tidak bisa menerima kedaulatan yang dimiliki Indonesia karena sudah merdeka. Peristiwa yang terjadi dari Desember 1946 hingga Februari 1947 ini menelan sekitar 40.000 jiwa sipil melayang.

Para warga sipil yang diduga sebagai pejuang dikumpulkan di suatu lapangan. Mereka disuruh untuk membuat galian. Selepas itu para tentara Belanda menembaki mereka hingga jatuh ke dalam lubang galian yang mereka buat sendiri.

Pada tahun 1947, Indonesia menyampaikan jumlah korban pembantaian ini mencapai 40.000 jiwa kepada Dewan Keamanan PBB. Tindakan Westerling bersama dengan pasukannya bisa bebas dari tuntutan pelanggaran HAM karena tindakan ini mendapatkan izin dari Letjen Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Sehingga pembantaian ini ada di bawah tanggung jawab Angkatan Perang Belanda dan pemerintahnya.

Permintaan maaf atas tragedi ini disampaikan oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan pada 12 September 2013. Kompensasi juga diberikan dari pemerintah Belanda untuk 10 janda yang ditinggal mati suaminya akibat tragedi ini, yaitu sebesar 20 ribu Euro atau sekitar Rp 301 juta.

3. Pembantaian pembangunan Jalan Raya Pos

isengstory.blogspot.co.id

Kerja paksa memang menjadi ciri khas masa kolononialisme Belanda. Pada saat pembangunan Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan ini menelan sekitar 12.000 nyawa melayang begitu saja.

Jalan yang panjangnya mencapai 1000 km ini dibangun selama 1 tahun saja di bawah kepemimpinan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels. Rakyat yang dipaksa kerja rodi dan hanya diberi makan seadanya menyebabkan banyaknya korban meninggal karena kehabisan tenaga. Para pekerja yang sakit atau sekarat pun diperlakukan tidak manusiawi oleh Belanda. Bukannya diobati, mereka malah membunuhnya dan membuang jasad mereka di jalanan. 

4. Pembantaian Etnis Tionghoa

www.boombastis.com

Tragedi ini bermula dari memanasnya hubungan antara imigran Tionghoa dengan pemerintah VOC pada waktu itu. Meningkatnya jumlah imigran Tionghoa pada saat itu dinilai merugikan VOC dalam soal perdagangan. Pemerintah VOC pun memberlakukan “surat izin tinggal” untuk para imigran Tionghoa. Apabila tidak memiliki surat tersebut, imigran Tionghoa bisa dihukum atau bahkan diusir dari Hindia Belanda.

Rasa tidak puas para Etnis Tionghoa menimbulkan berbagai pergolakan terhadap pemerintah Batavia. Mulai terjadi juga berbagai kerusuhan mulai dari menyerang kompleks Benteng Batavia setelah menghancurkan beberapa pos penjagaan VOC di daerah Tangerang, Jatinegara dan Tanah Abang. VOC pun menyerang balik.

9 Oktober 1740 pada tentara VOC mengejar para pelaku kerusuhan. Rumah-rumah dan pusat perdagangan milik warga Tionghoa di Batavia digeledah dan dibakar. Ribuan warga Tionghoa yang tidak ikut andil dengan kerusuhan tersebut juga diburu dan dibunuh tentara VOC. Banyak juga yang dibiarkan lari hingga akhirnya dibunuh oleh para tentara VOC. Pembantaian ini lebih sadis karena melibatkan beberapa budak pribumi yang sengaja “dikompori” oleh Belanda.

10 Oktober 1740 Gubernur Jendral Valckeneir menginstruksikan prajuritnya untuk mencari dan mengumpulkan warga Etnis Tionghoa yang tersisa, termasuk di rumah sakit. Mereka dikumpulkan untuk dihukum gantung di Museum Fatahillah. Sekitar 7.500 warga Tionghoa menemukan ajalnya di peristiwa ini.

5. Pembantaian mandor

armasnaguerra.blogspot.co.id

Pembantaian mandor terjadi pada 28 Juni 1944 di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Tragedi yang dilakukan oleh tentara Jepang ini dilakukan tanpa mengenal ras dan etnis. Jepang memang mencurigai adanya beberapa komplotan feodal lokal, ambtenar, cerdik pandai, politisi, tokoh masyarakat, hingga rakyat jelata yang datang dari berbagai agama dan suku manapun. Jepang kemudian menangkap dan menghancurkan komplotan-komplotan tersebut antara September 1943 hingga awal tahun 1944.

Jumlah korbannya mencapai 21.037 jiwa, namun Jepang hanya mengakui ada 1.000 korban saja, tidak lebih. Peristiwa ini dilakukan atas ketidaksukaan Jepang terhadap para pemberontak. Mereka ingin menguasai apapun yang ada di Kalimantan Barat. Sejak lahirnya Perda No. 5 Tahun 2007 ditetapkanlah tanggal 28 Juni sebagai hari berkabung di Kalimantan Barat. Hari itu diperingati dengan pemasangan bendera setengah tiang.

Nah, itulah tadi 5 peristiwa genosida yang paling banyak menelan korban jiwa di Indonesia. Semoga tidak terulang lagi peristiwa mengerikan seperti ini. Peristiwa di atas cukuplah menjadi catatan kelam perjalanan Bangsa Indonesia. Mari ciptakan kedamaian.

0%
Marah
0%
Gokil
0%
Lucu
0%
Kaget
0%
Suka
0%
Aneh
SHARES
5 Fakta Unik Menteri Susi Pudjiastuti yang Bikin Bangga Punya Menteri Begini

5 Fakta Unik Menteri Susi Pudjiastuti yang Bikin Bangga Punya Menteri Begini

10 Jenis Ojek di Indonesia, Beberapa Ada yang Sulit Dipercaya Keberadaannya

10 Jenis Ojek di Indonesia, Beberapa Ada yang Sulit Dipercaya Keberadaannya

10 Potret Pedagang Kaki Lima Zaman Penjajahan yang Terlihat Masih Sangat Tradisional

10 Potret Pedagang Kaki Lima Zaman Penjajahan yang Terlihat Masih Sangat Tradisional

5 Kereta Kencana Ini Masih Bertahan Hingga Kini dan Dianggap Sebagai Pusaka Kerajaan

5 Kereta Kencana Ini Masih Bertahan Hingga Kini dan Dianggap Sebagai Pusaka Kerajaan

Bangga, 7 Prinsip Ini Menjadi Harga Mati Bagi Orang Batak

Bangga, 7 Prinsip Ini Menjadi Harga Mati Bagi Orang Batak

Jual Beberapa Uang Kuno Indonesia ini Dijamin Bisa Bikin Kamu Kaya Mendadak

Jual Beberapa Uang Kuno Indonesia ini Dijamin Bisa Bikin Kamu Kaya Mendadak

loading