Indonesia Menolak Lupa! Apa yang Dilakukan Soeharto Saat Malam Terjadinya Peristiwa G30S/PKI?

29 Desember 2017
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Peristiwa G30S/PKI, mungkin akan membuat sebagian besar orang langsung mengernyitkan dahi sembari menghela nafas panjang ketika mendengar kata tersebut. Sebuah gerakan pemberontakan yang telah merenggut tujuh nyawa jenderal Indonesia, menghabisi para jenderal dengan cara yang kejam dan membuat hati pilu. Pada waktu itu, Indonesia yang baru merdeka selama satu dekade harus kembali berjuang melawan kematian, kali ini oleh rakyatnya sendiri. Ironi.

Tahun demi tahun pun berlalu, namun tetap tidak melupakan ingatan kita akan peristiwa mengerikan tersebut. Jauh selepas tragedi tersebut terjadi, mencuat satu nama yang disinyalir sebagai dalang dari pemberontakan kejam tersebut. Adalah Presiden Kedua Republik Indonesia, yakni Soeharto yang disebut-sebut sebagai dalang dari tragedi tersebut. Entah dari mana sumbernya, namun banyak yang menduga kalau beliau menjadi sosok yang paling bertanggung jawab atas pembantaian tersebut. Lantas, ketika malam saat pemberontakan G30S/PKI terjadi, di manakah Soeharto berada? Apa yang beliau lakukan ketika itu?

Dalam buku otobiografinya yang berjudul “Soeharto; Pikiran,Ucapan, dan Tindakan Saya”, Soeharto mengatakan bahwa pada tanggal 30 September 1965 pukul 21.00 WIB, beliau tengah bersama sang istri, Siti Hartinah (Ibu Tien) di Rumah Sakit Gatot Subroto. Pada waktu itu, putranya yang bernama Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) sedang dirawat karena tersiram air sup yang panas. Tommy Soeharto kala itu masih berusia empat tahun dan menjadi anak kesayangan dari keluarga Soeharto.

Namun, pada pukul 00.15 WIB, sang istri memintanya untuk pulang ke rumah karena ingat kepada Mamik, anak perempuan mereka yang masih berusia satu tahun. Akhirnya, Soeharto pun pulang ke kediamannya yang berada di Jalan Agus Salim, sedangkan Ibu Tien tetap menunggu Tommy di rumah sakit. 

Sesampainya di rumah, Soeharto mengatakan bahwa dirinya langsung berbaring dan tidur di rumahnya dengan tenang karena belum mengetahui tentang peristiwa nahas penculikan dan pembunuhan para jenderal.

“Saya bisa cepat tidur. Tapi, kira-kira pukul 04.30 WIB pada tanggal 1 Oktober ada seorang kameramen TVRI yang bernama Hamid datang ke rumah saya. Katanya, ia baru selesai syuting film. Ia lantas memberi tahu bahwa dirinya mendengar beberapa kali letusan tembakan di beberapa tempat,” ujar Soeharto.

 

Soeharto pun sempat terdiam beberapa saat. Kemudian, tepat pukul 05.00 WIB, anak buahnya yang bernama Broto Kusmardjo datang melaporkan kabar tentang diculiknya para perwira tinggi angkatan darat oleh gerakan separatis yang kemudian diketahui bernama PKI. Sejam kemudian, Soeharto bergegas mengenakan pakaian loreng lengkap, namun belum mengenakan pistol, pet, dan sepatu.

“Saya ingat apa yang harus saya perbuat dalam keadaan seperti ini dan yang pertama kali harus saya lakukan adalah bersikap tenang. Saya kemudian ingat akan pepatah Jawa yang berbunyi, ‘Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh.’ Setelah itu, saya pun lantas langsung mengumpulkan berbagai informasi terkait kasus penculikan para jenderal tersebut” pungkas Soeharto.

Menilik penjelasan Soeharto dalam buku otobiografinya, dari sini kita tidak dapat menuduh Soeharto sebagai dalang dari peristiwa G30S/PKI. Namun, sekali lagi perlu kita ingat bahwa apa yang diucap, belum tentu dilakukan. Terlepas dari berbagai simpang siur pemberitaan dan tuduhan, apa yang terjadi di malam nahas tersebut, hanya Tuhan yang tahu. Yang kini bisa kita lakukan adalah belajar dari sejarah kelam tersebut dan implikasinya terhadap kehidupan masyarakat Indonesia hingga kini.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES