Imbas Orde Baru, Berbagai Bahasa Daerah Berada di Ambang Kepunahan. Duh, Bikin Pilu!

10 Februari 2018
|Muhammad Sidiq Permadi
0SHARES

Indonesia dianugerahi dengan berbagai macam suku bangsa dengan ratusan bahasa daerah yang melingkupinya. Dengan banyaknya bahasa daerah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini membuat Nusantara menjadi semakin kaya akan budaya.  Namun, dewasa ini penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa utama di sekolah-sekolah sudah mulai tergantikan. Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pada tahun 1984 dalam upaya memberantas buta aksara. Salah satu poinnya adalah dengan himbauan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menggunakan bahasa Indonesia di segala ruang publik. 

Menurut Guru Besar Filologi Universitas Hasanudin Makassar, Nurhayati Rahman, dalam tata aturanya penggunaan bahasa daerah diwajibkan jika para penutur berasal dari satu etnis. Ketika berbeda etnis, barulah bahasa Indonesia itu digunakan dan bahasa Indonesia itu sendiri bukanlah bahasa utama dalam memberikan pengajaran, melainkan sebagai bahasa pengantar. Bukankah itu salah satu fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa?

Nurhayati kemudian memberikan contoh tentang kasus teks La Galigo. Dalam teks yang menceritakan proses penciptaan dunia ini, umumnya tidak dibaca seperti yang dilakukan ketika membaca teks-teks yang ada di buku, melainkan harus didendangkan layaknya sebuah lagu. Aksara yang terdapat di dalam teks La Galigo ini sendiri merupaka cikal bakal dari bahasa Bugis. Menurutnya, hanya segelintir masyarakat bugis asli yang dapat membaca aksara tersebut. 

“Kini, ada berapa orang mampu membaca salinan teks La Galigo di Sulawesi Selatan. Hitungannya sangat sedikit, bahkan bisa saja tak cukup dalam hitungan jari tangan. Jika sudah demikian, maka bahasa lokal atau bahasa Bugis kuno, telah berada diambang kepunahan,” lanjut Nurhayati seperti yang dikutip dari laman Historia.

Di Kota Palopo, sekitar 360 km dari Makassar ditemukan fakta beberapa anak muda tidak lagi mampu menggunakan bahasa asli daerahnya sendiri.

“Bagaimana bisa paham jika sejak kecil diajak pakai bahasa Indonesia. Terus pakai bahasa daerah juga dianggap memalukan. Baru-baru ini saja, belajar lagi,”

“Yang ada kita hanya mengenal dialek khas dari masing-masing daerah,” ujar Dewi Sartika (30 tahun), salah seorang penduduk yang ada di Kota Palopo.

Alwi Rahman, dosen Fakultas Ilmu Budaya Univesitas Hasanudin, menuturkan bahwa kehilangan sebuah bahasa tidak akan pernah dapat digantikan oleh bahasa lain. Lanjutnya, di dalam bahasa daerah termuat nuansa alam pikir masyarakat sehingga bukan hanya berfungsi sebagai alat tutur saja, tetapi juga sebagai identitas dari suatu kelompok masyarakat.

Sementara itu, berdasarkan Ethnologue, salah satu riset linguistik dan telaah bahasa dunia, Negara Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara pemilik bahasa lokal terbanyak di dunia. Di situs tersebut disebutkan bahwa Indonesia memiliki 707 bahasa daerah. Namun, dari sekian banyak bahasa daerah yang ada di Indonesai, sekitar 11 bahasa daerah dinyatakan telah punah, 4 bahasa daerah masuk ke dalam kategori kritis atau sangat terancam punah, dan 17 bahasa daerah masuk ke dalam kategori terancam punah. 

Kita sebagai masyarakat Indonesia tentu saja tidak menginginkan salah satu kekayaan dari bangsa ini menghilang di telan zaman. Oleh karena itu, ayo kita kembali mempelajari bahasa daerah masing-masing serta mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Satu lagi yang paling penting, jangan malu untuk menggunakan bahasa daerahmu ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa lokal indah, kok!


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Muhammad Sidiq Permadi
"Linguistics - Semiotican"
0SHARES