Identik Sebagai Lagu PKI, Apa Makna Lagu Genjer-genjer Sebenarnya?

04 Mei 2017
|Atik Kencana S.
0SHARES

Indonesia memang memiliki sederet kisah kelam dalam sejarahnya. Mulai dari masa kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang hingga aksi pengkhianatan G30S/PKI. Tiga hal itu yang masih menjadi luka lama bagi bangsa Indonesia itu sendiri.

Ada satu hal yang menarik dalam tragedi pengkhianatan G30S/PKI ini yaitu identiknya sebuah lagu yang hingga kini dilarang peredaran dan pemutarannya di beberapa wilayah di Indonesia. Hal itu ternyata bukan dilakukan tanpa alasan. Mungkin karena enggan untuk mengorek luka lama yang sudah coba dipendam oleh bangsa ini. 

Lagu tersebut adalah lagu Genjer-genjer, yang merupakan ciptaan seorang seniman asal Banyuwangi yang bernama Muhammad Arif. Lagu yang pada tahun 1960-an ini sempat terkenal di seantero Nusantara. Lagu ini memang dilarang karena dianggap identik dengan unsur PKI. Lantas apa hubungannya lagu ini dengan PKI?

Salah satu hal yang menyebutkan bahwa lagu berbahasa Osing (Bahasa khas Banyuwangi) ini begitu identik dengan PKI adalah lagu ini dibuat oleh Muhammad Arif yang merupakan salah satu seniman Lekra. Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat ini dianggap sebagai salah satu badan yang berafiliasi dengan PKI. Lagu Genjer-genjer sendiri sebenarnya merupakan sebuah kritikan masa pendudukan Jepang di Indonesia yang begitu kejam.

 

Latar belakang Muhammad Arief dalam menciptakan lagu ini adalah sebagai kritik sosial dalam masa penjajahan Jepang, di Banyuwangi tepatnya. Rakyat menjadi begitu menderita. Bahkan tanaman pengganggu atau gulma yang disebut genjer ini semula hanya dimakan oleh itik, menjadi santapan lezat bagi masyarakat. Padahal sebelumnya, masyarakat Banyuwangi tidak pernah kekurangan makanan apalagi didukung dengan kondisi tanahnya yang subur. 

Paska pengkhianatan G30S/PKI, apapun yang berhubungan dengan PKI memang diberantas. Tak terkecuali dengan lagu ini berikut dengan penciptanya. Lagu yang pada awalnya menceritakan tentang kesengsaraan rakyat sontak berubah menjadi lagu perlawanan terhadap pemerintah. Muhammad Arief ditangkap di rumahnya dan tak pernah kembali.

Lagu ini sempat populer paska kemerdekaan dan banyak dibawakan oleh penyanyi-penyanyi terkenal seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet. Karena kepopulerannya itu, lagu ini memang digunakan oleh PKI sebagai lagu kampanye demi mendapatkan simpati dari masyarakat kalangan akar rumput. Memang sih, lagu ini memang menceritakan tentang kesengsaraan rakyat. Namun sayangnya lagu ini dipolitisasi dan dipropagandakan oleh PKI. Nah, sejak saat inilah pergeseran makna terjadi pada lagu Genjer-genjer menjadi sebuah identitas bagi PKI. 

Alasan kedua yang membuat lagu ini identik dengan PKI adalah lagu ini dinyanyikan oleh para Pemuda Rakyat dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang kokoh berdiri di bawah payung PKI. Lagu ini dinyanyikan pada saat mereka menyulik, menginterogasi dan menyiksa para jenderal di Lubang Buaya. Hal ini juga jelas digambarkan dalam film karya Arifin C. Noer yang berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI yang dirilis pada masa pemerintahan Orba. Hal ini pula yang begitu membekas di hati bangsa Indonesia mengenai penggambaran lagu ini.

Akibat lagu Genjer-genjer ini diputar pada film tersebut, masyarakat seperti menjadi mengerti bahwa lagu ini memang merupakan "lagu PKI" sehingga tidak boleh lagi disebar dan diperdengarkan. Padahal, awal pembuatan lagu ini sudah jelas seperti yang sudah dijelaskan di atas. 

Keaslian lagu Genjer-genjer yang semula merupakan kritik pada penjajahan Jepang yang membuat penduduk Banyuwangi menderita harus rela diidentikkan dengan simbol komunis yaitu PKI. PKI memang dinilai tidak sesuai apabila diterapkan di Indonesia, makanya dilarang. Semoga saja ideologi-ideologi yang dapat memecah kesatuan bangsa tidak muncul lagi. Tidak terulang lagi kisah kelam yang menambah panjang daftar sejarah kelam Indonesia.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Atik Kencana S.
"Semper Fi"
0SHARES