Hebat! Novel Indonesia Terbaik Ini Diterjemahkan ke Beberapa Bahasa

01 Juli 2017
|Chandra W.
5SHARES

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar novel asli Indonesia? Sebagian mungkin akan terpikir novel-novel laris Dewi Lestari, Ika Natassa, Andrea Hirata. Beberapa penulis Indonesia memang nyatanya hebat dan karyanya bukan hanya laris di Indonesia, tapi juga diakui di luar negeri karena ceritanya yang menarik dan menyentuh rasa kemanusiaan setiap orang yang membacanya. Novel-novel Indonesia terbaik ini telah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan tentunya juga dipasarkan di negara-negara seluruh dunia. Novel apa sajakah itu?

Pertama, Laskar Pelangi karangan penulis asli Belitung, Andrea Hirata. Dalam buku ini, Andrea begitu piawai menceritakan anak-anak dari kampung dengan mimpi yang besarnya lebih dari batu-batu yang ada di pantai-pantai surgawi di sana, tetapi dengan keadaan yang begitu terbatas. Bagian yang bikin terharu, mereka tetap berusaha untuk mencapai mimpinya meskipun harus dengan cara yang benar-benar nggak terbayangkan, misalnya mengayuh sepeda sejauh empat puluh kilometer ke sekolah atau jadi kuli panggul sepulang sekolah. Kesan berjuang demi hidup yang lebih baik ini membuat Laskar Pelangi jadi best-seller Indonesia dan diterjemahkan ke lebih dari dua puluh bahasa di seluruh dunia, termasuk Brazil, Vietnam, Inggris, dan Jerman. Di Indonesia, buku ini juga diangkat mejadi film dengan judul yang sama. Buku Laskar Pelangi sendiri adalah buku pertama dari tetralogi dengan tiga buku lainnya yang berjudul Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.

Kedua, novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Novel ini bercerita tentang seorang penari ronggeng di sebuah dusun yang masih amat sangat kental dengan nilai budayanya sehingga harus melakukan ritual-ritual tertentu sebelum benar-benar menjadi Nyai Ronggeng. Diwarnai dengan sedikit drama antara Srinthil, karakter utama yang menjadi ronggeng, dan Rasus pria yang dicintainya, novel ini menceritakan kisah yang lebih dari sekadar percintaan. Kemunculan PKI pada tahun 1965 mewarnai konflik yang terjadi antara Srinthil dan Rasus. Mengangkat nilai budaya dan juga nasionalisme yang berpadu dengan asmara, novel ini diangkat ke dalam bahasa Inggris berjudul "The Dancer" dan ‘Het Daancesmeisje Vit Mijn Dorp’ dalam bahasa Belanda.

Tetralogi Pulau Buru ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer selama menjalani pengasingan di Pulau Buru. Empat novel tersebut berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Karya ini bercerita tentang Minke, seorang putra dari keluarga ningrat yang mencoba memberontak tatanan yang sudah ada. Ia menjadi jurnalis di masa sentimen antara kolonial dan pribumi sedang hebat-hebatnya. Tetralogi ini sempat dilarang beredar di Indonesia. Namun, telah diterjemahkan ke puluhan bahasa di dunia.

Masih banyak lagi karya putra-putri Indonesia yang mendunia selain tiga novel yang sudah disebutkan tadi. Hal ini menunjukkan bahwa bakat yang dimiliki orang Indonesia nggak kalah sama negara lain dan kita boleh bangga serta menjadikannya teladan.


Marah
Marah
0 %
Gokil
Gokil
0 %
Lucu
Lucu
0 %
Kaget
Kaget
0 %
Suka
Suka
0 %
Aneh
Aneh
0 %
PENULIS
Chandra W.
"Sebaik-baik tulisan adalah yang dibaca sampai akhir."
5SHARES